METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di balik sunyinya lereng Limpung, Desa Kalisalak menyusun mimpi besar. Yakni, menjadi desa buah.
Tak sekadar label, tetapi identitas baru yang ditanam dari akar semangat warganya.
Desa yang dulu lebih dikenal dengan wisata religinya, kini tengah bertransformasi menjadi kampung buah-buahan yang produktif, sejahtera, dan penuh harapan.
Semua itu bermula pada tahun 2022, saat program Ketahanan Pangan masuk ke desa.
Pemerintah desa mengajak warganya menengok kembali pekarangan rumah, bukan hanya sebagai halaman, tapi ladang rejeki.
Alih-alih durian dan duku yang sudah lama jadi ikon, desa ini justru menjatuhkan pilihan pada kelengkeng jenis new crystal.
“Durian dan duku bagus, tapi butuh lahan luas dan waktu panjang. Warga kami kebanyakan petani penggarap, jadi kami cari solusi yang cepat dan tepat,” cerita Kepala Desa Kalisalak, Setiadi, sambil menunjukkan pohon kelengkeng yang menjulang rendah tapi sarat buah.
Awalnya hanya 70 pohon ditanam sebagai percontohan. Tapi siapa sangka, hanya dalam tiga tahun, hasilnya memukau.
Saat Lebaran kemarin, pohon-pohon kelengkeng di pekarangan warga seolah berlomba memamerkan dompolan buahnya yang lebat.
Tak sedikit yang panen hingga 50 kilogram per pohon, dengan harga jual mencapai Rp 40.000 per kilogram.
“Satu pohon bisa hasilkan lebih dari sejuta rupiah. Itu dari halaman rumah sendiri,” tutur Setiadi.
Kami diajak mampir ke rumah Mbah Surip, salah satu warga tertua sekaligus pelopor penanaman kelengkeng.
Di samping rumahnya tumbuh pohon kelengkeng setinggi dada orang dewasa, buahnya nyaris menutupi daun, dibungkus jaring agar tak disantap kelelawar.
Mbah Surip tersenyum bangga. “Belum panen saja, sudah ditawar tengkulak," ucapnya riang.
Kesuksesan ini tak hanya berhenti di panen raya. Untuk memperkuat sistem, Setiadi menggandeng semua pemilik pohon dalam wadah BUMDes Kendalisodo.
Mulai dari pengadaan bibit unggul, pupuk, tenaga ahli, hingga distribusi pasar. Semua disiapkan agar warga fokus bertanam, Bumdes yang mengelola.
“Dengan Bumdes, harga bisa dijaga, kualitas tetap terstandar, dan warga tidak dipermainkan pasar,” jelas Setiadi yang dikenal sebagai kades muda visioner.
Kini desa bahkan sudah berani memesan bibit unggul baru yang diklaim bisa berbuah dalam waktu satu tahun.
Meski harganya tinggi, sekitar Rp500 ribu per batang, warga justru antusias. Tanah kas desa pun ikut ditanami demi memperluas produksi.
Meski kelengkeng jadi bintang baru, Kalisalak tetap memelihara tanaman buah yang lebih dulu memberi nama durian lokal, duku, alpukat, hingga matoa.
Kebun-kebun kecil di halaman warga menciptakan mozaik desa tematik yang kaya warna dan rasa.
Semangat ini bukan sekadar soal panen, tapi soal bagaimana desa membaca potensi, memupuknya dengan kesadaran kolektif, dan memanennya menjadi perubahan nyata.
“Kami tidak hanya ingin dikenal sebagai desa religius, tapi juga desa buah. Desa yang mandiri, produktif, dan punya cita rasa,” pungkas Setiadi penuh keyakinan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla