METROPEKALONGAN.COM, Batang – Lapangan di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) sedang viral di media sosial.
Tempat ini mendadak jadi destinasi nongkrong favorit warga, terutama anak muda.
Tempat ini menawarkan pemandangan indah saat matahari terbenam, serta suasana yang bersih dan tenang layaknya taman-taman di Negara Jepang.
Berada di dalam area KITB. Namun lapangan ini memang belum secara resmi dibuka sebagai destinasi publik.
Namun antusiasme masyarakat terus meningkat. Pengunjung berdatangan setiap sore. Bahkan ada yang dari luar Kecamatan Batang.
Semua demi menikmati suasana santai dan pemandangan eksotis di kawasan industri yang kini bertransformasi menjadi ruang terbuka hijau alternatif.
“Saya sebelumnya merasa capek setelah seharian bekerja. Tapi saat saya ke sini, rasa capek itu bisa seketika hilang. Rileks aja rasanya,” ujar Farhat Sulaiman, 22, salah satu pengunjung tetap yang mengaku hampir setiap sore datang ke tempat tersebut.
Ia menyebutkan, keindahan sunset di KITB menjadi daya tarik utama, selain area yang luas dan terjaga kebersihannya.
Kebersihan yang konsisten inilah yang membuat banyak warga menyebut tempat ini serasa berada di Jepang.
Meski berada di kawasan industri, suasana yang disajikan jauh dari kesan kaku dan berdebu.
Justru hamparan rumput hijau, jalanan yang rapi, serta pandangan langsung ke arah Pantai Utara menjadikan KITB sebagai tempat ‘healing’ baru di Kabupaten Batang.
Lapangan ini dikelola langsung oleh pihak KITB. Area parkir yang luas menjadi nilai tambah, meski fasilitas umum seperti tempat makan masih minim.
Banyak pengunjung menyiasati hal ini dengan membawa makanan sendiri dari luar. Meski begitu, hal ini tidak mengurangi minat masyarakat untuk berkunjung.
Pengunjung berharap pengelola KITB dapat membuka akses lebih luas dan menjadikan lapangan ini sebagai ruang terbuka publik yang resmi.
“Selain meningkatkan pengelolaan, juga bisa menambah fasilitas pendukung seperti toilet, tempat duduk, dan area UMKM,” usulnya.
Dengan potensi wisata yang tersembunyi ini, KITB tak hanya jadi pusat industri, tapi juga pusat interaksi sosial baru yang menyatukan alam, modernitas, dan kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka yang nyaman dan estetik. (chilyatul ashfiya/ida)
Editor : Ida Nor Layla