Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Disabilitas Tanpa Batas, Guru SLB Tanpa Kaki, Taklukkan Gunung Prau dengan Kedua Tangannya

Ida Nor Layla • Minggu, 20 Juli 2025 | 01:00 WIB
Disabilitas Tanpa Batas, Guru SLB Tanpa Kaki, Taklukkan Gunung Prau dengan Kedua Tangannya
Disabilitas Tanpa Batas, Guru SLB Tanpa Kaki, Taklukkan Gunung Prau dengan Kedua Tangannya

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Tidak ada yang bisa membatasi mimpi. Bahkan jika seseorang harus menjalani hidup tanpa sepasang kaki sekalipun.

Sebagaimana yang dirasakan Muhammad Himkat, 32, guru luar biasa yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pasekaran, Kabupaten Batang.

Dengan kondisi disabilitas, ia berhasil menaklukkan puncak Gunung Prau, Wonosobo, hanya dengan mengandalkan kekuatan tangannya sebagai penopang. Pendakian ini dilakukannya pada 9 Juli 2025.

Bersama tiga rekannya, Himkat menempuh jalur pendakian via Patak Banteng – jalur yang dikenal cukup menantang bagi pemula sekalipun.

Namun bukan jalur yang membuat pendakiannya istimewa, melainkan bagaimana ia melaluinya.

Tanpa kaki, Himkat menggunakan tangannya untuk merayap dari titik awal pendakian hingga ke Sunrise Camp, pos tertinggi sebelum puncak Gunung Prau.

“Semakin banyak orang yang bilang susah, semakin membuat saya penasaran akan hal tersebut,” ujar Himkat saat ditemui di rumahnya di Perumahan Wijaya Kusuma, Rowobelang, Batang.

Keberhasilan Himkat menaklukkan Gunung Prau bukan aksi impulsif. Ia telah merencanakan pendakian ini sejak satu tahun yang lalu.

Gunung Prau menjadi pilihannya, karena dikenal memiliki jalur yang relatif landai, serta pemandangan alam yang disebutnya mirip dengan gambar pada kemasan air mineral.

“Dari dulu saya penasaran, apakah saya bisa sampai ke puncak gunung seperti yang ada di kemasan botol air. Setelah riset, saya lihat Gunung Prau cocok untuk pemula, jadi saya yakin bisa,” ungkapnya.

Dalam perjalanan, Himkat menggunakan ojek dari basecamp hingga pos 1 untuk menghemat energi. Di beberapa titik, ia memakai skateboard sebagai alat bantu saat melewati jalur datar. Namun mayoritas pendakian tetap ia lakukan dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Medan yang licin dan berbatu tidak mengurungkan niatnya, bahkan saat perjalanan dari basecamp ke Sunrise Camp memakan waktu lima jam – dua jam lebih lama dari pendaki pada umumnya.

Meski tidak melakukan latihan fisik khusus, Himkat mengaku tubuhnya sudah terbiasa dengan aktivitas berat. Ia adalah seorang atlet angkat berat dan kerap mengikuti kejuaraan tingkat daerah.

Baca Juga: Balgis Diab Nyatakan Beach Run Tak Sekadar Sehat, Tapi Juga Dongkrak Potensi Wisata Pekalongan

Untuk melindungi tubuhnya dari gesekan batu dan tanah, ia mengenakan hingga empat lapis celana. Namun karena kotor ia harus membuang satu celananya tersebut karna kondisinya sangat kotor dan sudah tidak bisa digunakan lagi.

Selama perjalanan, Himkat hanya membawa daypack berisi barang-barang pribadi, sementara peralatan seperti tenda dan logistik lainnya dibawa oleh rekan-rekannya.

Dukungan dari tim pendamping menjadi bagian penting dalam kesuksesan perjalanannya. Di puncak, banyak pendaki yang terkesima dan mengapresiasi perjuangannya.

Momen ini pun menjadi konten untuk kanal YouTube miliknya, yang berisi perjalanan dan inspirasi dari perspektif disabilitas.

Himkat bukan hanya guru SLB biasa. Ia adalah contoh nyata dari keberanian, ketekunan, dan sikap pantang menyerah.

Dalam kesehariannya, ia tetap menjalankan aktivitas seperti orang normal. Ia mengendarai sepeda motor kopling, aktif dalam komunitas skateboard di Batang, serta sering diundang sebagai narasumber di berbagai acara televisi dan kolaborasi dengan konten kreator.

“Saya punya jargon, disabilitas tanpa batas. Itu yang saya pegang erat. Saya ingin membuktikan bahwa hal yang dianggap tidak mungkin oleh orang lain bisa saya lakukan,” ucapnya penuh keyakinan.

Di balik semua pencapaiannya, Himkat menyimpan mimpi besar. Yakni  mendirikan sekolah alam untuk anak-anak disabilitas.

Sekolah yang tidak hanya mengajarkan baca dan tulis, tetapi juga membekali siswanya dengan pengalaman alam, keberanian, serta pengembangan bakat terpendam.

“Harapan saya, pemerintah memberi support system kepda saya dan tidak banyak larangan untuk jalur pendakian bagi rekan rekan disabilitas dan pendampingan yang jelas bagi kami. Agar kami bisa meraih mimpi dan tetap produktif,” ujarnya.

Setelah Gunung Prau, Himkat sudah menargetkan pendakian berikutnya Gunung Sindoro. Bagi dia, setiap puncak bukanlah akhir, melainkan awal dari mimpi yang lebih tinggi. (chilyatulashfiya/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#slb #Muhammad Himkat taklukkan Gunung Prau #gunung prau