METROPEKALONGAN.COM - Wajah Desa Wisata Pandansari di Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, kini tak hanya lekat dengan wisata adrenalin river tubing.
Desa ini perlahan namun pasti telah menjelma menjadi surga baru bagi para pemburu kuliner tradisional yang ramah di kantong.
Jika biasanya Sego Megono dinikmati di hiruk-pikuk pusat kota, Pandansari menawarkan pengalaman berbeda: menyantap nasi megono hangat di tepi sungai dengan latar pedesaan yang asri, namun dengan harga yang sangat merakyat.
Sego Megono bukan sekadar nasi rames biasa, kunci kelezatannya terletak pada cacahan nangka muda yang diolah teliti dengan parutan kelapa serta bumbu rempah pilihan.
Sensasi gurih yang mendominasi berpadu sempurna dengan aroma khas bunga kecombrang yang segar, menciptakan cita rasa otentik yang sulit dicari tandingannya.
Bagi pecinta pedas, gigitan cabai rawit yang tersembunyi di dalam olahan megono memberikan kejutan hangat yang membuat suapan demi suapan terasa semakin nikmat dan bikin nagih.
Kenikmatan menyantap Sego Megono akan mencapai puncaknya ketika disandingkan dengan lauk pendamping yang tepat, yakni tempe mendoan yang digoreng dadakan.
Pasangan "jiwa" ini menghadirkan perpaduan tekstur yang kaya; nasi yang pulen, megono yang berserat lembut, serta mendoan panas yang berminyak nan gurih.
Sensasi makan sederhana namun mewah inilah yang membuat Sego Megono selalu menjadi primadona kuliner, baik sebagai menu sarapan yang menggugah semangat maupun teman setia pengganjal perut di malam hari.
Jalur Kuliner Sepanjang 2 Kilometer
Fenomena ini menjadi daya tarik anyar yang viral di kalangan masyarakat Batang, Pekalongan, dan sekitarnya.
Sentra kuliner ini membentang kurang lebih sejauh 2 kilometer di sepanjang jalan beton di tepi sungai.
Puluhan warung sederhana berjejer, menawarkan tempat istirahat yang "syahdu". Pengunjung bisa memilih duduk santai sembari menikmati semilir angin dan suara aliran sungai yang menenangkan.
Begitu juga dengan pemandangan sawan dan pegunungan yang terlihat dari lokasi tersebut.
Keberadaan deretan warung ini membuat kawasan yang dulunya sepi kini hidup dengan geliat ekonomi kerakyatan.
Mendoan "Dadakan" Jadi Primadona
Daya tarik utama kuliner di sini bukan hanya pada pemandangannya, tetapi pada kesegaran sajiannya.
Para pedagang di Pandansari memegang prinsip "fresh from the wajan".
Tempe mendoan atau tempe goreng tepung sebagai pendamping wajib tidak dipajang dalam kondisi dingin, melainkan baru digoreng saat ada pesanan.
Perpaduan nasi megono yang gurih pedas bertemu dengan tempe mendoan yang masih kemebul (mengepul panas), menciptakan sensasi kenikmatan yang sulit ditolak.
Harga Kaki Lima, Tak Bikin Kantong Bolong
Satu hal yang membuat kawasan ini tak pernah sepi pengunjung adalah harganya yang luar biasa murah.
Wisatawan tidak perlu khawatir akan "boncos" atau pengeluaran membengkak saat berkunjung ke sini.
Seporsi Sego Megono dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp 3.500 saja. Dengan modal yang minim, pengunjung sudah bisa menikmati sarapan atau makan siang yang nikmat.
Murahnya harga makanan di sini membuat pengunjung seringkali tak ragu untuk menambah porsi atau membungkusnya sebagai buah tangan.
Lokasi Strategis Mudah Diakses
Selain murah dan enak, aksesibilitas menjadi kunci ramainya Desa Pandansari.
Meski berstatus pedesaan, lokasinya sangat strategis karena berada di wilayah penyangga.
Bagi warga Kota Pekalongan, desa ini sangat dekat. Jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari pusat kota (Kawasan Alun-alun atau Hypermart), yang bisa ditempuh dalam waktu 20-25 menit saja menggunakan sepeda motor atau mobil.
Sementara dari Pusat Kota Batang (Alun-alun Batang), jaraknya pun sekitar 12 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 20-25 menit.
Akses jalan yang sudah beraspal mulus membuat siapa saja mudah menjangkau lokasi ini, baik untuk sekadar sarapan kilat maupun bersantai sore bersama keluarga. (yan)
Editor : Ida Nor Layla