METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Batik terasa berbeda. Museum Batik Pekalongan menghadirkan pameran spesial bertajuk “Lunar Festival” yang berlangsung pada 11 Februari hingga 10 Maret 2026.
Pameran ini menampilkan 20 koleksi batik pilihan dengan sentuhan kuat budaya Tionghoa, mulai dari motif, warna, hingga simbol filosofisnya.
Mengusung konsep akulturasi, pameran ini menjadi magnet wisata budaya selama libur panjang Imlek di Pekalongan.
Apalagi, agenda tersebut digelar berkolaborasi dengan Klenteng Po An Thian, salah satu klenteng tertua dan bersejarah di kota tersebut.
Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga menjelaskan, pengaruh budaya Tionghoa dalam batik bukan sekadar ornamen visual, melainkan mengandung makna mendalam.
Interaksi panjang antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Nusantara, khususnya di pesisir utara Jawa, melahirkan ragam motif yang unik dan kaya filosofi.
“Motif hewan mitologi seperti naga dan burung hong, ornamen awan, bunga teratai, hingga simbol keberuntungan dengan dominasi warna merah dan biru menjadi ciri khas batik bernuansa Tionghoa,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.
Secara historis, Pekalongan dikenal sebagai kota pelabuhan yang terbuka terhadap pengaruh budaya luar sejak abad ke-19.
Komunitas peranakan Tionghoa di wilayah pesisir memberi warna tersendiri pada perkembangan batik pesisir. Salah satu yang paling populer adalah batik Jawa Hokokai, yang memadukan pengaruh Jepang dan Tionghoa dalam detail motif yang rumit dan warna cerah.
Museum Batik Pekalongan sendiri memiliki lebih dari 1.200 koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia.
Koleksi tersebut memperlihatkan bagaimana batik terus berkembang, menyerap unsur budaya tanpa kehilangan identitas Nusantaranya.
Dalam pameran Lunar Festival ini, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung perjumpaan budaya dalam selembar kain.
Setiap motif menjadi narasi tentang harmoni, toleransi, dan perjalanan sejarah panjang interaksi antar etnis di pesisir Jawa.
Momentum Imlek 2026 turut mendorong lonjakan kunjungan wisata di Pekalongan. Pameran ini menjadi salah satu agenda unggulan wisata budaya, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana perayaan Imlek dengan nuansa edukatif.
Kolaborasi dengan Klenteng Po An Thian memperkuat konteks budaya pameran. Wisatawan dapat merasakan pengalaman berkunjung ke museum sekaligus menikmati atmosfer perayaan di kawasan klenteng yang sarat nilai sejarah.
Nurhayati menegaskan, keberagaman budaya dalam batik merupakan kekuatan bangsa.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi dirayakan. Batik adalah bukti bahwa budaya Indonesia tumbuh dari perjumpaan yang harmonis,” katanya.
Bagi pecinta sejarah, budaya, dan fotografi, pameran ini menjadi momen wajib dikunjungi. Batik tak lagi sekadar kain, tetapi cermin perjalanan lintas budaya yang hidup dan terus berkembang di tanah air.
Setelah Lunar Festival berakhir, Museum Batik Pekalongan akan melanjutkan agenda tematik berikutnya bertajuk Ramadhan Festival, yang menampilkan batik bernuansa Islam.
Rangkaian program ini mempertegas posisi museum sebagai pusat edukasi dan destinasi wisata budaya unggulan di Kota Pekalongan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla