METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Musim liburan sekolah tahun 2026 ini, Objek Wisata Linggo Asri, Kabupaten Pekalongan, benar-benar ramai pengunjung. Bahkan, tercatat naik sekitar 20 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Kepala UPT Pengelola Objek Wisata Linggo Asri, Hari Purnomo mengatakan, peningkatan itu masih akan terus dipantau, mengingat masa liburan belum sepenuhnya berakhir.
Meski tanpa wahana baru, Taman Selosio masih jadi favorit pengunjung. Taman Kelinci dan kolam renang khusus anak yang letaknya bersebelahan, juga masih ramai didatangi, terutama oleh keluarga yang membawa anak-anak untuk meningkatkan skill berenang anak.
"Namun yang banyak dikunjungi di Linggo Asri adalam Taman Selosio. Meski ada juga Taman Kelinci, di samping kolam renang," kata Hari.
Soal harga tiket, tidak ada perubahan dari tahun sebelumnya. Pengunjung cukup membayar Rp 7.500 di hari biasa dan Rp 10.000 saat akhir pekan atau hari libur, sementara anak-anak dikenakan Rp 5.000.
Harga ini berlaku sama untuk wisatawan lokal maupun mancanegara, tanpa ada tarif khusus. Kawasan Linggo Asri sendiri tidak cuma satu titik wisata.
Mulai dari bawah, ada Telogo yang sekarang sudah ada hotel dan kafe, lalu objek wisata utama Linggo Asri, bumi perkemahan yang biasanya baru ramai sekitar bulan Agustus-September, sampai Kalipaingan.
Yang menarik, kawasan ini ternyata punya sejarah panjang sebelum jadi tempat wisata seperti sekarang.
Menurut Hari, dulunya lokasi ini adalah pesanggrahan alias tempat singgah para pejabat sekitar tahun 1985.
"Sebelum menjadi destinasi wisata, dulu ada penginapan namanya Pesanggrahan. Kayak rumah singgah para pejabat yang dulu," jelasnya.
Setelah itu, kawasan mulai dibersihkan dan ditanami bunga, sampai akhirnya banyak orang datang dan lambat laun dirintis jadi objek wisata.
Linggo Asri juga sempat kedatangan rombongan wisatawan asing sekitar tiga bulan lalu. Ada 10 negara yang tercatat, di antaranya Timor Leste, Malaysia, Thailand, sampai Republik Solomon.
Rombongan tersebut ternyata mahasiswa yang sedang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dan Institut Tekknologi Surabaya (ITS).
Di balik ramainya pengunjung, kondisi pedagang di dalam kawasan justru berbanding terbalik.
Banyak lapak yang dulu buka setiap hari, sekarang cuma buka Jumat, Sabtu, dan Minggu saja. Bahkan pada hari kunjungan, hanya ada sekitar lima gerai yang buka.
"Karena sekarang sudah tidak begitu ramai seperti dulu," kata Hari soal alasan pedagang mengurangi jam buka.
Pedagang yang rata-rata warga lokal ini, kata dia, biasanya beralih ke kebun untuk memetik kopi atau kapulaga saat wisata lagi sepi pengunjung.
Untuk jam operasional, Linggo Asri sebenarnya buka 24 jam. Hanya saja ada pembagian shift, petugas siang bertugas dari jam 08.00 sampai 16.00 WIB, dilanjutkan penjaga malam yang tetap melayani pengunjung keluar masuk.
Ke depan, Hari berharap, Linggo Asri bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi warga sekitar, terutama lewat sektor dagang dan jasa yang ikut terdongkrak setiap kali kawasan wisata ini ramai pengunjung. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor Layla