METROPEKALONGAN.COM, Batang– Menyeruput secangkir kopi sambil menikmati semburat jingga matahari tenggelam dengan latar megah Jembatan Merah Kalikuto kini menjadi pengalaman yang ditawarkan Majiis Coffee Shop di Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang.
Berada di tengah hamparan persawahan, kafe bernuansa alam ini menjelma menjadi destinasi baru yang ramai diburu para pecinta kopi, pemburu senja, hingga wisatawan dari berbagai daerah.
Tak banyak yang tahu, Majiis lahir dari obrolan sederhana lima sahabat yang kerap menghabiskan waktu bersama. Mereka merasa tempat nongkrong yang ada masih menghadirkan suasana serupa tanpa meninggalkan kesan mendalam.
Dari percakapan santai itulah muncul gagasan menghadirkan sebuah coffee shop yang tak sekadar menyajikan kopi, tetapi juga menawarkan pengalaman menikmati alam dengan harga yang tetap bersahabat.
Ide tersebut kemudian diwujudkan oleh Hanung (34), yang memiliki pengalaman mengelola coffee shop. Saat menemukan sebuah lahan desa seluas sekitar 600 meter persegi di sisi timur Mentosari, ia langsung jatuh hati pada panorama yang tersaji.
Baca Juga: Pemeriksaan Kesehatan Berkala, Polres Pemalang Siapkan Personel Prima
Dari lokasi itu, pengunjung disuguhi hamparan sawah hijau, rindangnya kawasan hutan di sisi selatan dan timur, siluet perkampungan di kejauhan, hingga pemandangan ikonik Jembatan Merah Kalikuto yang membentang megah di utara. Menjelang petang, langit berubah jingga dan menciptakan suasana senja yang menjadi daya tarik utama Majiis.
Dari lokasi itu, pengunjung disuguhi hamparan sawah hijau, rindangnya kawasan hutan di sisi selatan dan timur, siluet perkampungan di kejauhan, hingga pemandangan ikonik Jembatan Merah Kalikuto yang membentang megah di utara. Menjelang petang, langit berubah jingga dan menciptakan suasana senja yang menjadi daya tarik utama Majiis.
Nama Majiis sendiri diambil dari kata "majelis" yang berarti tempat berkumpul. Hanung mengatakan nama tersebut menjadi simbol persahabatan lima orang yang mengawali lahirnya usaha tersebut.
"Majelis sendiri artinya perkumpulan. Berawal dari perkumpulan kami berlima yang sering ngobrol, akhirnya lahirlah Majiis," ujarnya.
Baca Juga: Polres Pemalang Sinergikan Stakeholder Cegah Karhutla
Akses menuju Majiis pun menjadi pengalaman tersendiri. Pengunjung harus melewati jalan beton sekitar 300 meter yang membelah area persawahan. Jalur tersebut cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat sehingga memberikan sensasi seolah memasuki sebuah destinasi tersembunyi di tengah alam.
Akses menuju Majiis pun menjadi pengalaman tersendiri. Pengunjung harus melewati jalan beton sekitar 300 meter yang membelah area persawahan. Jalur tersebut cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat sehingga memberikan sensasi seolah memasuki sebuah destinasi tersembunyi di tengah alam.
Coffee shop yang resmi dibuka pada 25 Juli 2026 itu awalnya hanya menyasar warga sekitar dan kalangan anak muda. Namun, di luar dugaan, tiga hari setelah beroperasi, Majiis langsung dipadati pengunjung meski belum melakukan promosi.
Ramainya unggahan di media sosial membuat nama Majiis cepat dikenal. Bahkan, pada akhir pekan jumlah pengunjung bisa mencapai 400 hingga 500 orang dalam sehari. Sebagian besar datang dari luar Kabupaten Batang, termasuk rombongan yang sengaja berburu suasana senja dan panorama Kalikuto.
Baca Juga: Career Expo 2026, BPJS Ketenagakerjaan Apresiasi Perusahaan Peduli Pekerja
"Kami sampai kewalahan. Awalnya hanya ada tiga karyawan dan kursinya terbatas, akhirnya tikar plastik pun kami gelar agar semua pengunjung tetap bisa menikmati suasana," kenang Hanung sambil tersenyum.
"Kami sampai kewalahan. Awalnya hanya ada tiga karyawan dan kursinya terbatas, akhirnya tikar plastik pun kami gelar agar semua pengunjung tetap bisa menikmati suasana," kenang Hanung sambil tersenyum.
Mengusung konsep outdoor modern, Majiis beroperasi setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 23.00 WIB. Jam operasional sengaja dipilih agar pengunjung dapat menikmati suasana sore hingga malam yang lebih nyaman dibanding siang hari.
Saat ini Majiis menyajikan berbagai pilihan kopi, minuman hangat dan dingin, serta aneka camilan. Ke depan, Hanung berencana menambah menu makanan berat, memperluas area, serta menambah jumlah karyawan seiring meningkatnya jumlah pengunjung.
Lebih dari sekadar tempat menikmati kopi, Majiis, sebut Hanung, juga mengusung semangat pemberdayaan masyarakat. Seluruh karyawan dan petugas parkir direkrut dari warga sekitar, sementara bahan baku sebisa mungkin dipasok dari pelaku usaha lokal.
Perpaduan secangkir kopi, keindahan senja, hamparan sawah, dan kemegahan Jembatan Merah Kalikuto menjadikan Majiis bukan hanya tempat nongkrong, melainkan destinasi yang menghadirkan pengalaman menikmati alam dengan cara yang sederhana namun berkesan.
Tak sedikit pengunjung yang datang karena penasaran setelah melihat unggahan teman-temannya di media sosial. Begitu tiba, mereka justru memilih berlama-lama menikmati udara sejuk, panorama persawahan, dan langit senja yang berubah warna perlahan.
Salah satunya Devita, siswi SMAN 1 Gringsing. Ia mengaku terpukau dengan pemandangan yang disuguhkan Majiis.
"Panorama alamnya luar biasa. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Harga makanan dan minumannya juga ramah untuk kantong pelajar," katanya.(han)
Sumber : metropekalongan.com