Mengenal Pindang Tetel Pekalongan, Sejarah, Rasa, dan Tempat Makannya

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 08:52 WIB
SEDAP : Salah satu penampakan menu kuliner Pindang Tetel, lengkap dengan tetelan daging dan kerupuk usek dengan kuah hitam kluwek. (Onyengradar/Shutterstock)
SEDAP : Salah satu penampakan menu kuliner Pindang Tetel, lengkap dengan tetelan daging dan kerupuk usek dengan kuah hitam kluwek. (Onyengradar/Shutterstock)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kalau mendengar kata pindang, sebagian orang mungkin langsung membayangkan olahan ikan. Namun, bayangan itu akan berubah ketika berkunjung ke Pekalongan.

Di kota dan kabupaten ini, pindang justru dikenal sebagai hidangan berkuah hitam yang berisi tetelan dan bagian tertentu dari sapi.

Namanya Pindang Tetel, MetroPekalongan.com mencoba mengenal lebih dekat kuliner rakyat yang satu ini sekaligus menjelajah sejumlah tempat makan yang bisa menjadi tujuan pembaca untuk mencicipinya.

Sekilas, warna kuah Pindang Tetel memang mengingatkan pada rawon. Sama-sama menggunakan kluwek sebagai salah satu unsur penting bumbu, tetapi keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Pindang Tetel mengandalkan tetelan daging sapi, sandung lamur, kikil atau kulit sapi. Potongan tersebut direbus hingga empuk, kemudian berpadu dengan kuah berbumbu yang kaya rempah.

Baca Juga: Apes! Bukan Cuma Muatan, Tas Sopir Juga Hilang di Alas Roban

Baca Juga: Hindari Rem Panas di Jalan Lingkar, Truk Malah Masuk Jurang

Di dalam kuahnya terdapat racikan bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit, serai, lengkuas dan rempah lainnya. Daun bawang juga menjadi bagian yang membuat aroma dan rasa Pindang Tetel semakin khas.

Yang membuat hidangan ini menarik adalah perpaduan teksturnya. Ada daging yang lembut, lemak yang gurih, serta kikil atau kulit sapi yang kenyal. Kuahnya pun terasa lebih kaya karena proses perebusan bahan-bahan tersebut.

Bagi masyarakat Pekalongan, pengalaman menyantap Pindang Tetel juga tidak lengkap tanpa kerupuk usek. Kerupuk berwarna-warni yang dikenal pula sebagai kerupuk pasir itu menjadi pelengkap khas.

Kerupuk tersebut biasanya digoreng menggunakan pasir yang dipanaskan, kemudian disajikan bersama Pindang Tetel. Cara menikmatinya pun cukup unik.

Kerupuk bisa diremukkan atau dicelupkan ke dalam kuah panas sampai teksturnya menjadi lebih lembek dan menyerap bumbu.

Baca Juga: Rem Blong, Truk Muat 20 Ton Oli Masuk Jurang Alas Roban

Baca Juga: Mahasiswa hingga Pembatik Berebut Juara Ngerensi Batik

Seporsi Pindang Tetel biasanya disantap bersama nasi hangat atau lontong. Tambahan sambal membuat sensasi gurih kuah kluwek semakin kuat.

Lalu, mengapa disebut Pindang Tetel? Salah satu penjelasan yang berkembang di masyarakat mengaitkan namanya dengan bahan utama berupa tetelan, yakni potongan daging sapi yang masih menempel dengan lemak, urat atau bagian di sekitar tulang.

Cerita mengenai asal-usulnya juga lekat dengan karakter kuliner rakyat. Ketika daging sapi berkualitas memiliki harga lebih tinggi, tetelan, kikil dan bagian lain yang lebih terjangkau dapat diolah menjadi makanan yang tetap mengenyangkan dan kaya rasa.

Dari keterbatasan itulah lahir kreativitas dapur masyarakat. Bahan yang sederhana diramu bersama kluwek dan rempah hingga menjadi hidangan yang kemudian dikenal luas sebagai Pindang Tetel.

Karena itu, Pindang Tetel tidak hanya menarik dari sisi rasa. Hidangan ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir mengolah bahan sederhana menjadi makanan yang memiliki identitas kuat.

Baca Juga: Mengenal Garang Asem Khas Pekalongan yang Legendaris

Baca Juga: Polres Pemalang Tepis Narasi Liar Kasus Pelajar SD

Pindang Tetel juga sering dibandingkan dengan rawon. Keduanya memang sama-sama berwarna gelap dan menggunakan kluwek, tetapi sensasi ketika disantap tidak persis sama.

Rawon umumnya lebih dikenal dengan kuah kluwek yang pekat dan potongan daging sapi. Sementara Pindang Tetel memiliki karakter yang lebih “ramai” karena tetelan, lemak dan kikil berpadu dalam satu mangkuk.

Inilah yang membuat Pindang Tetel punya penggemarnya sendiri. Bagi sebagian pemburu kuliner, justru bagian kenyal dari kikil dan gurihnya tetelan menjadi daya tarik utama.

MetroPekalongan.com kemudian mencoba menelusuri beberapa tempat yang bisa menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin mengenal kuliner ini secara langsung.

Salah satunya adalah Pindang Tetel Mbak Ana di kawasan Pekajangan, Kabupaten Pekalongan. Warung ini dikenal dengan porsi tetelan dan kulit yang cukup royal. Kerupuk usek disajikan terpisah sehingga pembeli dapat menentukan sendiri apakah ingin menikmatinya renyah atau membiarkannya menyerap kuah.

Warung tersebut disebut buka sekitar pukul 13.00 hingga 21.00 WIB. Namun, pemburu kuliner sebaiknya datang lebih awal karena menu dapat lebih cepat habis pada waktu ramai.

Baca Juga: Taklukkan Pantura dan Alas Roban, Teguh Kejar Mimpi Bertemu Jokowi

Baca Juga: 14 Hari Dorong Gerobak, Keluarga Pemulung Tembus Alas Roban, Demi Jokowi

Pilihan berikutnya adalah Pindang Tetel Om Teguh di Watusalam. Tempat ini menawarkan pengalaman berbeda karena berada di lingkungan yang memberikan suasana pedesaan dengan pemandangan persawahan.

Kuahnya dikenal memiliki karakter rempah yang kuat. Pindang Tetel bisa disantap bersama pilihan lauk seperti sate kikil atau tempe goreng.

Bagi yang ingin mencari tempat makan di kawasan Sapugarut, Pindang Tetel Mbak Isah juga bisa masuk daftar jelajah kuliner. Warung ini dikenal dengan kuah yang gurih dan cocok untuk makan siang santai.

Jam bukanya sekitar pukul 10.00 hingga 15.00 WIB dan biasanya tutup pada Jumat.

Sementara bagi pembaca yang berada di wilayah Kota Pekalongan, Warung Pindang Tetel Bu Ning di Podosugih dapat menjadi salah satu alternatif.

Warung ini menawarkan Pindang Tetel dengan karakter kuah kluwek yang gurih dan relatif ringan. Harganya juga dikenal ramah kantong sehingga cocok untuk pilihan makan sederhana di tengah kota.

Namun, daftar tersebut bukan berarti menjadi satu-satunya tempat untuk menikmati Pindang Tetel. Kuliner ini justru mudah ditemukan di berbagai warung kecil di Kota maupun Kabupaten Pekalongan.

Baca Juga: Demi Bertemu Jokowi, Keluarga Pemulung Rela Dorong Gerobak

Baca Juga: 10,9 Juta Penumpang Pilih Kereta, Minat Naik KAI Meningkat

Artinya, pembaca tidak harus selalu mengejar warung yang sudah terkenal. Kadang, semangkuk Pindang Tetel yang sederhana di warung kampung justru menjadi bagian paling menarik dari perjalanan kuliner.

Bagi MetroPekalongan.com, Pindang Tetel adalah salah satu kuliner yang menarik untuk dikenalkan kepada wisatawan maupun generasi muda Pekalongan.

Namanya memang sederhana. Bahannya pun berangkat dari potongan daging yang tidak selalu dianggap istimewa. Tetapi ketika tetelan, kikil, kluwek, rempah dan kerupuk usek bertemu dalam satu mangkuk, lahirlah rasa yang sulit ditemukan di daerah lain.

Jadi, kalau sedang berada di Pekalongan dan ingin mencoba kuliner khas selain nasi megono atau Garang Asem, jangan lewatkan Pindang Tetel.

Pesan seporsi, tambahkan sambal, remukkan kerupuk usek ke dalam kuah panas, lalu nikmati sendiri bagaimana kuliner sederhana ini menjadi salah satu identitas rasa Pekalongan.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Kuliner khas Pekalongan Wisata kuliner Pekalongan Pindang Tetel Pekalongan Pindang Tetel Kedungwuni Pindang Tetel Kabupaten Pekalongan