METROPEKALONGAN.COM, Batang - Batik Rifaiyah sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada tahun 2013 silam.
Namun eksistensinya kini semakin terancam. Usaha untuk regenerasi pembatik terus dilakukan, namun belum membuahkan hasil.
Batik yang menjadi tradisi perempuan Rifaiyah itu kini hanya menyisakan sekitar 30 pembatik. Mereka berusia 35 sampai 80 tahun.
Pembatik Rifaiyah, Miftakhutin dari Desa Kalipucang Wetan menjelaskan, pihaknya sudah membuka kelas pelatihan batik untuk regenerasi.
Namun, peminatnya sangat jarang. Padahal pelestarian batik ini sekarang tidak hanya sebatas para perempuan Rifaiyah saja. Seluruh kalangan bisa ikut melestarikan.
"Saya membuka kursus pelatihan gratis di rumah secara gratis setiap hari Minggu. Dulu tahun 2016 cukup banyak yang mengikuti. Sekarang sudah tidak ada, sekarang saya menganggur. Tidak ada yang mau diajari batik," ujar wanita yang akrab disapa Utin ini.
Pelatihan itu sekarang dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk bahan-bahan membatik. Berdasarkan pengamatannya, saat ini hanya ada dua anak muda yang serius belajar membatik.
Batik Rifaiyah punya motif yang unik. Motifnya dibuat sesuai ajaran Islam yang diajarkan oleh KH Ahmad Rifa'i, sosok Pahlawan Nasional dari Kabupaten Batang.
Salah satu pakemnya dalam membuat batik bertema binatang, bagian tubuhnya selalu dipisah. Alias tidak digambar secara utuh.
Sementara tradisi masyarakat di Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, dalam membuat batik Rifaiyah sembari melantunkan puji-pujian, salawatan, dan menghafalkan kitab syair-syair dari ajaran-ajaran KH Ahmad Rifa'i.
Pihaknya mengakui, salah satu hal yang membuat lesunya para penerus untuk belajar membatik adalah faktor ekonomi.
Selain itu ada faktor kemalasan generasi muda yang enggan disibukkan dengan aktivitas membatik. Mereka lebih memilih aktivitas lain yang lebih cuan dan simpel.
"Misalnya, untuk satu kain batik tulis premium, setidaknya dibutuhkan waktu antara satu tahun hingga dua tahun pengerjaan dengan biaya modal di atas Rp 700-an ribu. Tidak termasuk waktu, tenaga, pikiran, dan cinta yang dicurahkan untuk sebuah kain batik," ucapnya.
Untuk model yang halusan, umumnya membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun. Motif sedengan, bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan hingga enam bulan.
Sementara motif biasa, jika konsisten bisa selesai dalam waktu satu bulan saja. Sementara untuk harga hanya berkisar Rp 1,2 juta hingga Rp 5 juta. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla