METROPEKALONGAN.COM, Batang – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Batang menyisakan sorotan tajam, terutama di kawasan perumahan Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem.
Di lokasi ini, banjir dilaporkan mencapai ketinggian ekstrem hingga hampir 3 meter, atau sekitar 2,5 meter dan memaksa seluruh warga mengungsi. Peristiwa itu terjadi pada Selasa malam, 20 Januari 2026 lalu di Perumahan Griya Nagita.
Kondisi memprihatinkan ini mendapat perhatian serius dari Wakil Bupati Batang, Suyono. Ia menyayangkan kejadian tersebut dan menyoroti peran pihak pengembang (developer) perumahan yang dinilai kurang matang dalam perencanaan pembangunan di area rawan banjir.
Baca Juga: PDAM Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan Gerak Cepat Atasi Jaringan Rusak Akibat Banjir
Suyono menegaskan bahwa kejadian di Cepagan kali ini jauh lebih parah dibandingkan peristiwa sebelumnya. Menurutnya, pihak pengembang tidak boleh lepas tangan begitu saja setelah unit rumah terjual.
"Kejadian ini lebih parah dari yang lalu. Pengembang harusnya ikut bertanggung jawab," tegas Suyono Kamis 22 Januari 2026.
Wabup menekankan bahwa tanggung jawab pengembang bukan hanya soal bangunan fisik rumah, melainkan juga infrastruktur penunjang anti-banjir. Ia menyoroti dua hal teknis yang vital: elevasi tanah dan sistem drainase.
"Tanggung jawab dalam sisi membuat elevasi atau drainase yang ada di sana, sehingga (banjir) tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Baca Juga: 2.929 Warga Terdampak Banjir Kota Pekalongan Masih Bertahan di Pengungsian
Lebih lanjut, Suyono meminta agar kejadian di Cepagan ini menjadi pelajaran keras bagi para pengembang perumahan di Batang.
Ia mendesak adanya langkah antisipasi yang konkret agar warga tidak terus-menerus menjadi korban "langganan" banjir setiap musim hujan tiba.
"Harus ada antisipasi-antisipasi untuk berikutnya dalam rangka mengantisipasi hal yang tidak diinginkan," pungkas Suyono. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla