Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Syekh Maulana Maghribi dan Empat Makamnya di Batang, Jejak Islam Sebelum Era Walisongo

Riyan Fadli • Senin, 23 Februari 2026 | 13:55 WIB

RELIGI: Suasana kompleks makam Syekh Maulana Maghribi, di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado.
RELIGI: Suasana kompleks makam Syekh Maulana Maghribi, di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Sosok Syekh Maulana Maghribi kerap disebut-sebut sebagai salah satu pelopor penyebaran agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa.

Di Kabupaten Batang, nama besar ini sangat dihormati dan selalu ramai menjadi tujuan utama wisata religi. 

Namun, sebuah informasi sejarah lokal yang menarik perlahan terkuak. Masyarakat selama ini mungkin hanya familier dengan makam beliau yang berada di pesisir Ujungnegoro, Kecamatan Kendeman dan dataran tinggi Wonobodro, Kecamatan Blado.

Padahal berdasarkan informasi yang digali, terdapat empat makam berbeda. Semuanya ternyata menyandang gelar agung Al Maghribi di Bumi Alas Roban ini.

Penelusuran jejak spiritual ini membawa kita pada rentang waktu yang jauh lebih lampau dari masa keemasan Kerajaan Demak.

Kehadiran para penyebar Islam bergelar Al Maghribi di Batang ternyata sudah menancap kuat sejak era Kerajaan Majapahit, atau tepatnya sebelum era dakwah Walisongo.

Rombongan ulama ini datang ke Nusantara dalam satu gelombang besar yang dipelopori oleh tokoh sentral Syekh Jumadil Kubro.

Mereka membawa sekitar enam puluhan pendakwah asal Maroko yang bermarga atau berklan Al Maghribi. 

Di wilayah Batang sendiri, selain di Ujungnegoro dan Wonobodro, rupanya terdapat dua makam lagi dari marga yang sama yang posisinya saling berdampingan di area belakang sebuah masjid di Desa Bismo, Kecamatan Blado.

Keberadaan empat makam dengan nama yang sama ini sering kali memunculkan spekulasi di kalangan peziarah, apakah sebagian tempat tersebut hanyalah sebuah petilasan semata.

Berdasarkan kajian mendalam dari para ulama, keempat tempat tersebut dipastikan bukanlah sekadar petilasan, melainkan pusara dari tokoh-tokoh yang berbeda fisik namun berasal dari satu garis leluhur marga yang sama.

Makam yang berada di Ujungnegoro diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Jufri Al Maghribi, sedangkan yang berada di Wonobodro adalah pusara Syarifuddin Hasan Alwi Al Maghribi.

Adapun dua makam yang berjejer berdampingan di Bismo merupakan pusara dari Ibrahim Al Maghribi dan Ahmad Al Maghribi.

Kasubag TU Kemenag Kabupaten Batang sekaligus pemerhati sejarah lokal, Sodikin, meyakini bahwa rentetan sejarah panjang ini harusnya mampu memberikan pencerahan bagi masyarakat luas mengenai jejak masuknya Islam di pesisir utara Jawa.

Nama-nama yang muncul tersebut masih berupa tesis ya dari beberapa ulama yang concern mengkaji ini, dan perlu dikaji lebih lanjut.

Baik ilmu sejarah maupun disiplin ilmu yang lain agar lebih terbuka terkait dengan berbagai makam Al Maghribi yang ada di Nusantara.

"Dengan latar sejarah masa lalu, sangat mungkin bahwa Al Maghribi yang ada di beberapa makam itu orang-orang yang berbeda yang memang bersama bergelar Al Maghribi. Sehingga ini membuka wawasan kepada masyarakat untuk tidak bingung bahwa ini makam atau petilasan," tegasnya.

Selain pusara yang tak pernah sepi dari lantunan doa peziarah, jejak dakwah klan Al Maghribi di Kabupaten Batang juga meninggalkan sejumlah artefak keagamaan yang bernilai historis tinggi.

Di Desa Bismo, masih tersimpan sebuah penutup kepala atau sorban kuno serta lembaran Al-Qur'an peninggalan masa lampau yang ditulis murni menggunakan tangan.

Sayangnya, lantaran kerap dipandang sebagai benda mistis yang sering dibuka-buka oleh peziarah dan belum adanya proteksi maksimal dari pihak berwenang, kondisi fisik kitab suci bersejarah tersebut kini dikabarkan nyaris hancur dimakan usia.

"Di Batang yang kita terima itu makam dan ceritanya. Terkait dengan tinggalan ajaran baik berupa mungkin manuskrip atau kitab-kitab yang dikarang atau yang ditulis oleh para wali itu kemudian tersebar di sini belum ada, kecuali di Bismo. Yaitu Al-Qur'an kuno," imbuhnya.

Kisah hilangnya peninggalan bersejarah juga menyelimuti kompleks makam di Wonobodro. Pada masa meletusnya agresi militer Belanda pertama dan kedua, wilayah Wonobodro yang saat itu menjadi salah satu basis benteng pertahanan pejuang Republik Indonesia sempat dibumihanguskan oleh pasukan penjajah. 

Peristiwa kelam pembakaran tersebut diyakini masyarakat sekitar ikut menghanguskan berbagai manuskrip kuno peninggalan dakwah Islam di sana.

Meski demikian, para pemerhati sejarah masih menyimpan keyakinan bahwa tidak semua manuskrip tersebut menjadi abu; sebagian besar naskah berharga itu diduga kuat telah dirampas dan dibawa oleh tentara Belanda untuk kemudian diselamatkan serta dimuseumkan di perpustakaan Universitas Leiden hingga detik ini. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Wonobodro #Ujungnegoro #religi #wisata religi #batang #ziarah #Syekh Maulana Maghribi