Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Pempek Boom di PInggir Sawah, Jadi Ikon Desa Wonosari

Magang • Minggu, 13 Juli 2025 | 17:05 WIB
IKON DESA : Pempek Boom yang diproduksi di Dukuh Tegalborang, kini menjadi ikon Desa Wonosari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.
IKON DESA : Pempek Boom yang diproduksi di Dukuh Tegalborang, kini menjadi ikon Desa Wonosari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Jika menyebut nama Pempek Boom, hampir setiap warga Pekalongan langsung teringat satu tempat.

Yakni Desa Wonosari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Di balik dinding bangunan sederhana yang terletak di Dukuh Tegalborang.

Pabrik Pempek Boom memang tidak sebesar pabrik makanan pada umumnya.

Ia lebih mirip rumah biasa di pinggir sawah. Namun siapa sangka, dari tempat itulah setiap hari diproduksi ribuan pempek yang menggoyang lidah warga Pekalongan dan sekitarnya.

Di sinilah Nur Salimah, 43, sosok di balik nama besar Pempek Boom. Memulai semuanya sejak tahun 2008.

“Awalnya saya cuma jualan pakai gerobak di teras Indomaret Bojong. Saat itu bayar Rp 300 ribuan,” kenang Nur.

Ia menamai produknya “Pempek Boom” karena terinspirasi dari Pantai Ngeboom, ikon Pekalongan.

“Biar ada identitas Pekalongan, meskipun ini bukan pempek dari Palembang,” tambahnya sambil tertawa.

Kini, usaha yang dulunya hanya bermodal satu gerobak. Berkembang menjadi rumah industri dengan 19 karyawan dari berbagai daerah. Seperti Tegal, Solo, hingga Wonogiri.

Produksi harian pun luar biasa. 60 kilogram ikan dan 2 kuintal tepung diolah menjadi empat varian pempek favorit. Lenjer, kulit, telur kecil, dan kapal selam.

Namun, jangan harap bisa membandingkan Pempek Boom dengan pempek Palembang.

“Pempek saya bukan Palembang, saya asli Bandung,” tegas Nur.

Bahkan ia menyebut dua variannya, lenjer dan telur kecil sebagai “pempek dos” karena tidak mengandung ikan. Hanya rasa yang khas dari cuko-nya yang melegenda.

Umaroh, salah satu pelanggan setia, mengaku sejak dulu tidak pernah bosan dengan Pempek Boom.

“Ga kalah jauh rasanya sama pempek Palembang. Bahkan keluarga saya di Pemalang kalau main ke rumah, pasti cari pempek ini,” ujarnya.

Ia pun pernah mencoba menjual Pempek Boom di Bogor, dan laku keras.

Meski kini permintaan mulai menurun, Nur masih rutin memasok produknya ke dua titik distribusi.

Ada di swalayan PPE Bojong dan toko di Jalan Yos Sudarso, Batang. Konsumen dari Kajen, Karanganyar, Tulis, hingga Semarang bisa memesan via WhatsApp dan mengambilnya di dua titik tersebut.

Menariknya, kesuksesan Pempek Boom hampir seluruhnya tumbuh hingga tanpa promosi formal.

“Mungkin karena dari mulut ke mulut,” kata Nur. Namun dalam dua tahun terakhir, ia mulai menjual versi frozen-nya melalui TikTok, menyesuaikan dengan tren digital.

Dengan harga hanya Rp1.400 per biji. Pempek Boom tak hanya terjangkau, tapi juga mampu menyejahterakan banyak orang.

Rumah produksinya selalu aktif dari jam 07.00 hingga 17.00 WIB setiap hari. Kecuali saat Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Semua kegiatan produksi juga dipantau rutin oleh Dinas Kesehatan. (rifkahsaffanah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#pempek #kabupaten Pekalongan #kuliner