Masakan Lebih dari 12 Jam, Dapur SPPG Karangturi Langgar 16 SOP

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Foto : Ilustrasi Ai/ Metropekalongan.com
Foto : Ilustrasi Ai/ Metropekalongan.com

 

METROPEKALONGAN.COM, Semarang-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menemukan indikasi kuat pelanggaran standar operasional prosedur (SOP), termasuk makanan yang diduga dimasak sejak pukul 21.00 pada malam sebelum dibagikan kepada siswa. 

Meski begitu, penyebab pasti keracunan belum dapat dipastikan. Dinkes masih menunggu hasil kultur bakteri dari laboratorium yang diperkirakan selesai dalam 7–14 hari.

"Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya karena sampel masih menjalani kultur bakteri untuk memastikan ada tidaknya kuman atau bakteri," ujar Kepala Dinkes Kota Semarang Abdul Hakam, Senin (3/8/2026).

Sampel yang diperiksa meliputi ayam bumbu rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa yang mengalami gejala, ayam bumbu rendang menjadi menu yang paling banyak dicurigai. Dugaan juga mengarah pada telur puyuh dan daun singkong.

Namun, temuan paling mencolok justru berasal dari hasil investigasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari 19 SOP yang wajib dipenuhi, hanya tiga yang dinyatakan berjalan sesuai ketentuan.

"Artinya ada 16 SOP yang tidak terpenuhi," tegas Hakam.

Baca Juga: 707 Orang Keracunan MBG di Semarang, BGN Hentikan Operasional SPPG Karangturi

Tiga SOP yang masih dipatuhi meliputi penggunaan bahan baku, proses distribusi makanan, serta tata cara penyajian kepada siswa.

Dinkes juga menemukan makanan diduga mulai dimasak pukul 21.00 WIB pada malam sebelum pendistribusian. Menurut Hakam, praktik tersebut tidak sesuai prinsip keamanan pangan.

"Idealnya makanan untuk dibagikan pagi hari mulai dimasak sekitar pukul 04.00 atau 05.00. Setelah matang, maksimal dua jam sudah harus didistribusikan dan dikonsumsi," jelasnya.

Sejauh ini Dinkes menduga bakteri seperti E. coliStaphylococcus, atau Salmonella berpotensi menjadi penyebab. Namun, kepastiannya tetap menunggu hasil laboratorium.

Hasil investigasi lengkap nantinya akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan program MBG.

Sementara itu, SMKN 6 Semarang telah menghentikan sementara pelaksanaan program MBG menyusul dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa dan guru. Program baru akan dilanjutkan setelah hasil investigasi dan evaluasi dari BGN serta Dinas Kesehatan keluar.

Kepala SMKN 6 Semarang Berti Sagendra mengatakan, penghentian distribusi MBG berlaku sejak 1 Agustus dan belum ditentukan batas waktunya. Sekolah telah meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan pengiriman makanan serta menyampaikan keputusan itu kepada orang tua siswa.

"Kami memilih menghentikan dulu sambil menunggu hasil evaluasi. Keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi prioritas," ujarnya, Senin (3/8).

Baca Juga: Usai Santap Menu MBG, Ratusan Siswa SMKN 6 Semarang Melaporkan Mengalami Keluhan Kesehatan

Meski MBG dihentikan, kegiatan belajar mengajar kembali normal. Kondisi siswa dan guru juga terus membaik. Sebagian besar siswa yang sempat dirawat di rumah sakit telah diperbolehkan pulang. Pada Senin (3/8), tercatat sekitar 19 siswa masih izin sakit.

Sekolah belum mengambil keputusan apakah tetap menggunakan dapur penyedia yang sama atau menggantinya. Menurut Berti, keputusan akan ditentukan setelah rekomendasi dari BGN, Dinas Kesehatan, serta hasil pembahasan dengan komite dan orang tua siswa.

"Kami ingin makanan yang diberikan benar-benar aman, bergizi, dan diproses di dapur yang memenuhi standar sanitasi," tegasnya.

Di sisi lain, pihak sekolah mulai melakukan trauma healing kepada siswa melalui guru, tim bimbingan konseling, dan kesiswaan. Pendampingan dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran siswa pascainsiden.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyerahkan hasil evaluasi awal kasus dugaan keracunan MBG kepada BGN. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, penanganan dan evaluasi program sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui BGN.

"Kami sudah melakukan evaluasi awal dan hasilnya sudah kami laporkan ke BGN. Selanjutnya menjadi kewenangan mereka," kata Luthfi.

Sementara itu, pantauan di depan Dapur SPPG Karangturi terlihat sepi. Pintu gerbang dapur tampak terbuka sedikit. Hanya satu orang yang terlihat keluar masuk area dapur. Sebuah mobil SPPG juga terparkir di dalam gedung.

Lokasi dapur SPPG tersebut berada tidak jauh dari SMKN 6 Semarang. Keduanya masih berada di kawasan Jalan Sidodadi Barat. Aktivitas di sekitar dapur tampak minim, seiring penghentian sementara distribusi MBG ke sekolah. (den/kap/fgr/dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
SPPG Karangturi kota semarang Menu MBG keracunan mbg Makan Bergizi Gratis