Dari Aktivis Kampus ke Nahkoda RSUD Bendan Pekalongan

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:21 WIB
CEK ALAT : Direktur RSUD Bendan Kota Pekalongan dr. Dwi Heri Wibawa, saat mengecek salah satu fasilitas layanan Kesehatan baru di rumah sakitnya.(IST)
CEK ALAT : Direktur RSUD Bendan Kota Pekalongan dr. Dwi Heri Wibawa, saat mengecek salah satu fasilitas layanan Kesehatan baru di rumah sakitnya.(IST)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Memimpin rumah sakit daerah bukan sekadar perkara memastikan dokter datang tepat waktu, pelayanan berjalan, atau berbagai urusan administrasi terselesaikan. Di balik aktivitas itu, ada ratusan tenaga kesehatan dan pegawai dengan karakter berbeda yang harus dirangkul agar bergerak dalam satu tujuan: memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Bagi dr. Dwi Heri Wibawa, M.Kes, Direktur RSUD Bendan Kota Pekalongan, kepemimpinan tumbuh dari pengalaman panjang. Jauh sebelum dipercaya menjadi orang nomor satu di rumah sakit tersebut, ia telah akrab dengan dunia organisasi sejak masih menjadi mahasiswa.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Dari organisasi kemahasiswaan, birokrasi pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, dunia politik, hingga kembali ke birokrasi, berbagai peran pernah dijalaninya.

"Saya sejak mahasiswa aktif di organisasi kemahasiswaan. Ini berlanjut setelah lulus kuliah dan bekerja di birokrasi pemerintahan," ujarnya.

Perjalanan tersebut tidak berhenti di satu ruang. Ia juga pernah terlibat dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan, memasuki dunia politik, menjadi pengurus partai, hingga duduk sebagai anggota DPRD. Setelah itu, ia kembali ke dunia birokrasi pemerintahan.

Menurutnya, rangkaian pengalaman tersebut secara tidak langsung menempa kemampuan dalam memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, serta memahami beragam karakter manusia.

Baca Juga: Kapolres Pekalongan Kota Ajak Siswa Berani Lawan Bullying

Baca Juga: Nunggu Kereta Tak Lagi Gabut, Ada Pojok Baca di Stasiun Pekalongan

Kini, kemampuan itu diuji dalam ruang yang jauh lebih kompleks. Sebagai Direktur RSUD Bendan, ia memimpin sebuah organisasi pelayanan kesehatan dengan jumlah pegawai mencapai sekitar 600 orang.

Bekerja di rumah sakit berarti berhadapan dengan manusia dalam situasi yang tidak selalu mudah. Ada pasien yang sedang sakit, keluarga yang cemas, tenaga kesehatan yang menghadapi tekanan pekerjaan, hingga persoalan internal organisasi.

Karena itu, bagi Dwi Heri, komplain merupakan bagian yang tidak bisa dihindari dalam menjalankan pelayanan publik. Ia memilih menghadapi setiap persoalan dengan tiga nilai utama: empati, kesabaran, dan tanggung jawab.

 

Empati berarti mampu menempatkan diri pada posisi orang yang menyampaikan keluhan. Kesabaran diperlukan agar keputusan tidak lahir dari emosi. Sedangkan tanggung jawab diwujudkan dengan memastikan setiap persoalan mendapatkan respons dan tindak lanjut secara proporsional serta profesional.

"Harus bisa menempatkan diri pada posisi mereka. Saya harus tenang dan sabar setiap menghadapi komplain," katanya.

Baca Juga: Sinergi Pemda Hingga KBIHU Perkuat Layanan Haji Kota Pekalongan

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Pekalongan Edukasi Jaminan Pensiun dan Manfaat Layanan Tambahan

Prinsip itu juga ia terapkan ketika membangun hubungan dengan seluruh unsur di RSUD Bendan. Baginya, dokter, perawat, tenaga administrasi, hingga petugas kebersihan memiliki posisi yang sama penting dalam menopang kinerja rumah sakit. Ia tidak ingin ada bagian yang merasa hanya menjadi pelengkap. "Mereka semua adalah aset yang paling utama dalam organisasi yang saya pimpin," tegasnya.

Setiap orang, menurut dia, mempunyai tugas masing-masing. Namun, tugas tersebut tidak berdiri sendiri. Pelayanan kesehatan hanya dapat berjalan baik ketika seluruh bagian mampu berkolaborasi.

Karena itu, tugas seorang pemimpin bukan hanya memberikan instruksi. Pemimpin juga harus memastikan orang-orang yang dipimpinnya merasa dihargai, memiliki organisasi, dan nyaman bekerja.

Bagi Dwi Heri, RSUD Bendan bahkan ia ibaratkan sebagai "rumah kedua" bagi para pegawainya. Di tengah tanggung jawab besar tersebut, ada satu ruang yang tetap ia jaga: keluarga. Dwi Heri menyadari bahwa mengelola rumah sakit terkadang membuat pekerjaan tidak mengenal batas jam kantor. Ada persoalan yang sifatnya mendesak dan harus diselesaikan meski berada di luar waktu kerja.

Namun, ia berupaya menuntaskan sebanyak mungkin pekerjaan di kantor melalui perencanaan, koordinasi, dan pemantauan pelayanan.

Baca Juga: Parkside Mandarin Pekalongan Bidik Ramainya Event 2027

Baca Juga: Adu Argumen di Sidang Praperadilan Padepokan Padang Ati

Untuk urusan yang benar-benar penting dan mendesak di luar jam kerja, ia tetap mengambil tanggung jawab, tentu setelah berkomunikasi dengan keluarga. Beruntung, sang istri yang juga seorang tenaga medis memahami tuntutan pekerjaannya.

"Selama ini keluarga, dalam hal ini istri yang juga seorang medis, memahami tugas saya karena urusannya adalah untuk melayani kesehatan pasien di rumah sakit," tuturnya.

Ketika berada di rumah, ia berusaha mengoptimalkan waktu untuk keluarga. Tidak ada formula rumit untuk menjaga keseimbangan tersebut. Akhir pekan, misalnya, menjadi kesempatan untuk berjalan-jalan bersama keluarga atau sekadar makan di luar rumah. Sederhana, tetapi justru dari momen-momen seperti itulah energi untuk kembali menjalankan rutinitas diperoleh.

Ada ikatan khusus antara Dwi Heri dan RSUD Bendan. Ia bukan hanya datang ketika rumah sakit itu telah berkembang seperti sekarang. Sekitar 19 tahun lalu, ketika masih menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, ia ikut mengawal proses pembangunan RSUD Bendan.

Selama sekitar satu setengah tahun masa pembangunan, perhatian dan energinya banyak tercurah untuk memastikan rumah sakit tersebut dapat berdiri dan berjalan dengan baik. Waktu, pikiran, dan tenaga dicurahkan untuk proses tersebut. Kini, sekitar empat tahun terakhir, ia kembali mendapatkan amanah untuk menahkodai rumah sakit yang dahulu ikut dikawalnya sejak masa pembangunan.

Perjalanan panjang itu membuat RSUD Bendan bukan sekadar tempat bekerja baginya. Ada bagian dari perjalanan pengabdian yang melekat di dalamnya. "Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Allah SWT melalui Pemkot Pekalongan untuk mengawal sejak dibangunnya RSUD Bendan 19 tahun yang lalu," ujarnya.

Karena itu, harapannya terhadap rumah sakit tersebut juga bukan sekadar menyelesaikan target tahunan. Ia ingin RSUD Bendan terus tumbuh, berkembang, dan melengkapi jenis pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Namun, perkembangan itu tetap harus berpijak pada dua hal penting: mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Pengalaman panjang di berbagai organisasi membuat Dwi Heri memiliki pandangan tersendiri mengenai kepemimpinan. Baginya, jabatan bukan hanya tentang kewenangan, tetapi terutama tentang amanah. Pesan itu pula yang ia titipkan kepada generasi muda yang ingin menapaki dunia kesehatan maupun kepemimpinan.

Ia mendorong anak-anak muda untuk menjalankan setiap amanah dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab dan taat terhadap aturan. Namun, kepatuhan terhadap aturan tidak berarti berhenti berinovasi. Menurutnya, seorang pemimpin juga harus mampu mencari cara baru untuk menghadirkan perbaikan.

Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun jejaring. "Bangun jejaring yang luas," pesannya.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Direktur RSUD Bendan Kota Pekalongan dr. Dwi Heri Wibawa RSUD Bendan Kota Pekalongan