Seram, Perempuan Berkebaya Hijau di Alas Roban, Muncul Saat Jalan Sepi

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 20:32 WIB
Ilustrasi Gadungan Alas Roban Batan. by Onyengradar
Ilustrasi Gadungan Alas Roban Batang. by Onyengradar

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Malam turun perlahan di kawasan Poncowati, jalur tua yang membelah rimbunnya hutan di wilayah Alas Roban, Kabupaten Batang.

Udara berubah dingin. Kabut tipis mulai menggantung di antara pepohonan jati, sementara suara kendaraan yang melintas terdengar samar dari kejauhan.

Jalan berkelok itu perlahan kehilangan suara kehidupan. Tak banyak rumah, warung, maupun lampu penerangan yang bisa menjadi teman perjalanan. Hanya sorot lampu kendaraan yang memotong gelap, menerangi aspal beberapa meter di depan.

Bagi pengendara yang melintas sendirian, suasana semacam itu sudah cukup membuat bulu kuduk merinding.

Namun, ada satu cerita yang membuat perjalanan malam di kawasan tersebut terasa semakin mencekam. Konon, di tengah kesunyian itu, seorang perempuan cantik berkebaya hijau terkadang muncul di tepi jalan.

Ia berdiri sendirian, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara tatapannya sulit ditebak. Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, perempuan itu dikenal dengan nama Gadungan.

Tidak ada yang benar-benar mengetahui siapa dirinya. Tidak ada pula yang bisa memastikan dari mana ia datang.

Yang beredar hanya cerita dari mulut ke mulut tentang sosok perempuan misterius yang muncul ketika suasana jalan mulai sepi.

Baca Juga: Gadis Cantik Karyawan KITB Tewas Ditabrak Truk di kawasan Industropolis Batang

Baca Juga: Pawai Pajang Jimat Pekalongan, Simbol Persatuan Warga

Konon, Gadungan tidak sekadar berdiri di pinggir jalan. Ia disebut melambaikan tangan kepada kendaraan yang lewat, seolah meminta tumpangan.

Bagi pengemudi yang melihatnya dari kejauhan, pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Seorang perempuan berdiri sendirian di pinggir jalan, terlebih di kawasan hutan yang jauh dari permukiman.

Rasa iba bisa saja muncul. Namun, cerita masyarakat justru membuat situasinya berbeda. Pengemudi yang berhenti dan mencoba memberikan tumpangan kepada perempuan tersebut konon akan mengalami kejadian aneh.

Dalam sebagian cerita, sosok perempuan itu tiba-tiba menghilang setelah kendaraan berjalan beberapa meter.

Dalam cerita lain, pengemudi baru menyadari bahwa perempuan yang sebelumnya terlihat jelas di pinggir jalan ternyata sudah tidak ada ketika mereka menoleh ke belakang.

Ada pula kisah yang lebih menyeramkan. Konon, pengendara yang tergoda oleh kecantikan perempuan berkebaya hijau tersebut dapat kehilangan konsentrasi hingga akhirnya mengalami kecelakaan.

Tidak ada yang bisa memastikan kebenaran cerita-cerita itu. Tetapi justru karena tidak pernah benar-benar terjawab, kisah Gadungan terus hidup. 

Poncowati merupakan salah satu jalur yang selama bertahun-tahun dikenal masyarakat sebagai kawasan Alas Roban. Ruas jalan yang berada di wilayah Desa Plelen dan Desa Sentul ini memiliki karakter jalan berkelok dengan pepohonan lebat di sekelilingnya.

Baca Juga: KAI Perketat Jalur KA, Masinis Bunyikan Peringatan

Baca Juga: Rawan Kebakaran, Warga Kuryos Dilatih Jinakkan Api

Secara geografis, kawasan Alas Roban yang asli berada lebih ke barat, yakni di wilayah Kecamatan Subah. Namun, penyebutan Alas Roban telanjur melekat kuat pada jalur yang selama ini dikenal masyarakat sebagai jalan tua Poncowati. Pada siang hari, kawasan tersebut terlihat seperti jalur hutan biasa.

Namun ketika malam datang, suasananya berubah drastis. Pepohonan tampak lebih rapat. Bayangan ranting bergerak diterpa angin.

Kabut perlahan turun. Sementara cahaya kendaraan hanya mampu menerangi sebagian kecil jalan. Di luar jangkauan lampu, hutan terlihat seperti dinding hitam yang tidak berujung.

 

Suara mesin menjadi satu-satunya tanda bahwa pengendara masih berada di tengah dunia manusia. Lalu tiba-tiba, di ujung sorot lampu, terlihat seseorang berdiri. Perempuan.

Kebaya hijau. Rambut panjang tergerai. Tangannya terangkat, melambaikan tangan, meminta kendaraan berhenti.

Di sinilah cerita tentang Gadungan biasanya bermula. Dalam cerita masyarakat, Gadungan digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki paras cantik. Namun, kecantikan tersebut justru menjadi bagian paling menakutkan dari kisahnya.

Baca Juga: PKK Kota Pekalongan Tak Sekadar Kumpul, Administrasi Diperkuat

Baca Juga: Eks Anak Buah Yaqut Ungkap Jejak Fee Haji Jadi Fortuner Hingga Rumah Mewah

Ia disebut kerap muncul kepada pengendara laki-laki yang melintas seorang diri. Tidak ada yang tahu apakah perempuan itu benar-benar manusia atau hanya sosok dalam cerita rakyat. Tak ada pula catatan pasti mengenai kapan kisah tersebut pertama kali muncul.

Cerita itu bertahan karena terus dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kisah mistis.

Sebagian lainnya melihat cerita tersebut sebagai bagian dari folklore masyarakat setempat. Tetapi bagi masyarakat Desa Plelen, kisah Gadungan memiliki pesan yang jauh lebih sederhana.

"Jangan mudah tergoda. Jangan berhenti sembarangan. Dan jangan kehilangan kendali ketika berada di tempat yang asing dan sepi," seru Mbah Warno, salah seorang tetua masyarakat Desa Plelen, memiliki pandangan tersendiri mengenai cerita perempuan berkebaya hijau tersebut.

Menurut penuturannya, cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai kisah tentang makhluk gaib.

Ada pesan sosial yang disisipkan di dalamnya. Pada masa lalu, cerita menyeramkan menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan nasihat.

Baca Juga: Balgis Minta Santri Jadi Contoh Peduli Sampah

Baca Juga: Lima Kali Kebakaran, KAI Daop 4 Perketat Pengawasan Jalur Rel

Ketika larangan biasa tidak cukup membuat seseorang berhati-hati, cerita tentang tempat angker dan sosok misterius bisa membuat orang berpikir ulang. Hutan yang dianggap keramat, misalnya, membuat masyarakat lebih berhati-hati mengambil sesuatu dari alam. Tempat yang dipercaya memiliki penunggu juga cenderung diperlakukan dengan lebih hormat.

Begitu pula dengan cerita Gadungan. Sosok perempuan berkebaya hijau itu dapat dimaknai sebagai simbol peringatan agar seseorang tidak mudah tergoda ketika berada jauh dari pengawasan orang lain.

Terlebih, kawasan di sekitar Alas Roban pada masa lalu memiliki cerita tersendiri mengenai aktivitas perempuan penghibur di sejumlah lokasi. Menurut penuturan Mbah Warno, kawasan Lima-Lima dan Penundan pernah dikenal sebagai tempat aktivitas tersebut.

Para perempuan penghibur disebut tidak hanya berada di lokasi, tetapi juga menawarkan jasa kepada pengemudi kendaraan yang melintas.

Dari situlah, menurut penuturannya, cerita tentang perempuan misterius di jalur Alas Roban kemudian berkembang sebagai peringatan bagi anak-anak muda.

Jangan mudah tergoda, jangan mencari masalah di tempat asing, dan yang paling penting, tetap menjaga perilaku.

Ada bagian lain dari kehidupan masyarakat sekitar yang justru jauh dari kesan mistis. Selama bertahun-tahun, pengendara yang melewati kawasan tersebut memiliki kebiasaan melemparkan uang kepada warga yang berada di pinggir jalan.

Baca Juga: BI Tegal Ingatkan UMKM Cek QRIS agar Tak Diganti

Baca Juga: Penutupan Zona Pasif TPA Degayu Baru 47 Persen

Sebagian warga kemudian membantu pengendara, terutama ketika kendaraan harus melewati tikungan atau berpapasan di ruas jalan yang sempit.

Mereka berdiri di tepi jalan, memberikan aba-aba kepada pengemudi agar perjalanan berlangsung lebih aman.

Dari aktivitas tersebut, warga mendapatkan penghasilan. Ketika jalur lama Alas Roban masih menjadi salah satu akses utama dengan arus kendaraan yang padat, penghasilan warga dari aktivitas itu disebut cukup membantu kehidupan sehari-hari.

 

Kontrasnya terasa jelas. Di satu sisi, malam menghadirkan cerita tentang perempuan berkebaya hijau yang dipercaya sebagian orang sebagai sosok misterius.

Di sisi lain, ada warga biasa yang tetap berdiri di pinggir jalan, menunggu kendaraan lewat demi mencari nafkah.

Meski cerita tentang Gadungan terdengar menyeramkan, masyarakat setempat tidak memiliki kebiasaan khusus untuk memberikan sesaji kepada sosok tersebut. Tidak ada ritual khusus.

Tidak ada upacara tertentu. Tidak ada pula tempat yang secara khusus disebut sebagai lokasi pemujaan Gadungan.

Cerita itu bertahan sebagai bagian dari ingatan masyarakat. Mungkin bagi sebagian orang, Gadungan hanyalah sosok dalam cerita rakyat.

Bagi yang lain, kisah itu adalah peringatan agar tidak sembrono ketika melintas di jalan sunyi.

Namun, bagi pengendara yang harus melewati Poncowati seorang diri pada tengah malam, cerita itu tentu bisa terasa berbeda.

Bayangkan sebuah jalan berkelok, hutan gelap di kanan dan kiri, kabut turun perlahan, dan mesin kendaraan berdengung sendirian.

Kemudian, di ujung sorot lampu, seorang perempuan berkebaya hijau berdiri diam. Rambut panjangnya tertiup angin. Ia mengangkat tangan dan melambaikan tangan kepada kendaraan yang mendekat.

 

Ketika kendaraan semakin dekat, perempuan itu tetap berdiri di sana.

Menunggu. Entah menunggu tumpangan, entah menunggu seseorang berhenti, atau sekadar menjadi bagian dari cerita lama yang hingga kini tak pernah benar-benar menemukan akhir.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
gadungan Poncowati alas roban Plelen