METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Produksi perikanan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan mengalami lonjakan signifikan sepanjang Desember 2025.
Di tengah melimpahnya hasil tangkapan, TPI Kota Pekalongan mengajukan permohonan penyesuaian harga kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Hal ini untuk menjaga kestabilan harga acuan ikan atau setidaknya menyamakan harga dengan daerah sekitar.
Kepala TPI Kota Pekalongan, Imam Suleni mengatakan, hingga akhir Desember 2025 total produksi perikanan yang masuk dan dilelang mencapai sekitar 1.200 ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Baca Juga: Jam Padat Libur Nataru, Polres Pekalongan Kota Siaga Jaga Lalin dan Kamtibmas
“Produksi Desember ini sangat melimpah. Didominasi ikan layang, banyar, lemuru, tongkol, dan tengiri,” kata Imam saat dikonfirmasi, Rabu 31 Desember 2025.
Mayoritas jenis ikan tersebut merupakan komoditas utama untuk industri pengolahan ikan, khususnya pabrik pengalengan yang beroperasi di wilayah Kota Pekalongan dan sekitarnya.
Menurut Imam, ketersediaan stok saat ini mampu memenuhi kebutuhan industri lokal.
“Untuk pabrik pengalengan, pasokan aman. Produksi di TPI memang didominasi ikan-ikan bahan baku industri,” jelasnya.
Baca Juga: Dari Teh Repacking hingga Ekspor Eropa, Bank Indonesia Dorong Nala Indonesia Tea Mendunia
Sementara itu, ikan konsumsi untuk kebutuhan bakaran akhir tahun seperti kakap jeruk tidak dilelang di TPI Kota Pekalongan.
Jenis ikan tersebut, umumnya merupakan ikan karang yang ditangkap dengan alat pancing, bukan jaring, sehingga berbeda dengan komoditas utama hasil lelang TPI.
Imam menjelaskan, peningkatan produksi Desember salah satunya dipicu oleh kebijakan administrasi pelayaran.
Kapal-kapal induk diwajibkan kembali ke pelabuhan untuk memperpanjang dokumen surat berlayar (CV), sehingga hasil tangkapan dibongkar di TPI Kota Pekalongan.
Baca Juga: Tak Sekadar Kerajinan, BJO Furface Angkat Jati Subah ke Panggung Dunia
“Biasanya kapal induk wajib pulang di akhir tahun. Dampaknya, volume ikan yang masuk ke TPI meningkat cukup tajam,” ungkapnya.
Melimpahnya pasokan turut berdampak positif bagi nelayan. Harga lelang ikan terbilang baik dan memberikan keuntungan.
Namun, kondisi tersebut juga menyebabkan harga ikan di pasar ikut naik, seiring tingginya harga di tingkat lelang.
Imam menambahkan, saat ini harga acuan ikan di TPI Kota Pekalongan termasuk yang tertinggi dibandingkan pelabuhan lain.
Hal ini dipengaruhi besarnya pajak dan retribusi yang dibebankan kepada nelayan, sehingga sebagian nelayan memilih bongkar muat di daerah lain.
“Kondisi ini kurang menguntungkan bagi TPI. Karena itu kami telah mengajukan permohonan ke KKP agar harga acuan bisa lebih stabil atau disamakan dengan daerah sekitar,” tegasnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan persaingan antarpelabuhan yang sehat dan mendorong nelayan tetap memilih TPI Kota Pekalongan sebagai lokasi bongkar hasil tangkapan.
Hingga akhir 2025, capaian retribusi TPI Kota Pekalongan telah mencapai 83 persen dari target Rp 3,8 miliar. TPI optimistis sektor perikanan tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah sekaligus menopang kesejahteraan nelayan lokal. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla