METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Delapan kelompok tani di Kota Pekalongan bersiap mengembangkan budidaya melon premium berbasis greenhouse.
Tak berhenti pada penjualan buah segar, hasil panen nantinya juga diarahkan menjadi produk olahan seperti selai melon, asinan kulit melon hingga buah potong.
Program tersebut menjadi bagian dari fasilitasi pengembangan budidaya melon premium melalui Adaptation Fund Kemitraan Indonesia. Delapan kelompok tani itu tersebar di tujuh kelurahan, yakni Degayu, Kandang Panjang, Krapyak, Padukuhan Kraton, Panjang Baru, Panjang Wetan dan Pasirkraton Kramat.
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia Eva S. Nisa mengatakan, budidaya melon premium dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan komoditas melon biasa.
"Untuk sistemnya menggunakan hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Sistem ini memiliki keunggulan, ketika listrik mati air masih bisa tetap mengalir, berbeda dengan NFT yang membutuhkan listrik secara terus-menerus," terang Eva saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Ayo Bayar Parkir Pakai QRIS di 2 Lokasi Ini, Biar Terdokumentasi
Baca Juga: Nikah di Hotel Pekalongan ini, Paketnya Mulai Rp26,5 Juta Saja
Melalui sistem tersebut, kelompok tani tidak hanya didorong untuk menghasilkan buah berkualitas, tetapi juga membangun keterampilan dalam mengembangkan produk turunan.
Eva menjelaskan, diversifikasi menjadi salah satu bagian penting dari program. Ketika produksi buah melimpah atau terdapat buah yang tidak terserap sebagai produk segar, hasil panen masih memiliki peluang untuk diolah dan memiliki nilai tambah.
"Kelompok juga kami fasilitasi untuk melakukan diversifikasi produk, misalnya asinan kulit melon, selai melon, maupun buah potong," jelasnya.
Konsep tersebut membuat budidaya melon tidak berhenti di greenhouse. Rantai usaha dapat dikembangkan mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran sehingga kelompok tani memiliki lebih banyak pilihan dalam memperoleh pendapatan.
Di sisi pemasaran, pihak program juga tengah mengupayakan kerjasama dengan pihak ketiga atau offtaker. Kehadiran offtaker diharapkan dapat membantu menyerap hasil panen sekaligus memberikan kepastian akses pasar bagi kelompok tani.
Baca Juga: PERINTIS BPN Kota Pekalongan Targetkan Layanan 10 Hari
Baca Juga: BLK Kota Pekalongan Terus Perluas Kerjasama Perusahaan Untuk Alumni
Delapan kelompok tani tersebut juga diarahkan membangun koordinasi melalui perkumpulan antarkelompok. Wadah ini diharapkan membuat kelompok tidak berjalan sendiri-sendiri ketika menghadapi permintaan pasar dalam jumlah besar.
"Ketika ada permintaan dari offtaker, harapannya delapan kelompok ini bisa saling terintegrasi. Jadi tidak hanya satu kelompok yang memenuhi permintaan, tetapi bisa bersama-sama," ujar Eva.
Salah satu kelompok yang mendapat fasilitasi greenhouse melon premium adalah Kelompok Tani Urban Farming Perubahan Iklim (UFPI) Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara.
Perwakilan UFPI Krapyak, Farukha, mengatakan kelompoknya berharap dapat mengembangkan melon varietas Kirana. Varietas tersebut dikenal memiliki rasa manis dengan tekstur buah yang renyah.
Menurutnya, keberadaan greenhouse bukan sekadar menjadi sarana produksi buah. Fasilitas tersebut juga menjadi ruang bagi kelompok tani untuk meningkatkan keterampilan, mencoba pengembangan usaha baru dan menciptakan produk pertanian bernilai tambah.
"Melalui pengembangan green house, budidaya melon premium ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan keterampilan kelompok tani, membuka peluang diversifikasi usaha, sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat melalui produk pertanian bernilai tambah," tukasnya.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com