"Awalnya diisi oleh pelaku seni rupa dari Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Batang. Kemudian berkembang secara umum, seperti perupa, pelajar, mahasiswa. Jadi todak menutup harus besik dari kuliah jurusan senirupa," ujar Pembina Komunitas Serbuk Pensil, Sigit Purnomo.
Kegiatannya rutin yang selalu dilakukan adalah Sketsa Akhir Pekan. Dilakukan satu bulan sekali pada Sabtu malam Minggu.
Kegiatannya yaitu melukis atau membuat sketsa bersama dari komunitas. Kegiatan itu juga melibatkan masyarakat. Seperti dengan mahasiswa, sekolahan dan lainnya.
"Sifatnya kumpul rutin untuk diskusi dan membuat karya sesuai tema yang ditentukan. Misal tema pendidikan, ya membuat karya tentang pendidikan. Setiap kegiatan yang kita lakukan, endingnya adalah pameran," ucapnya.
Serbuk pensil kini beranggotakan pelaku seni dari berbagai daerah di Kabupaten Batang. Tidak hanya terpusat di sekitar Kota Batang saja.
Awal terbentuk anggotanya berjumlah 9 orang, berkembang paling banyak 32 orang, dan sekarang 25 orang.
Sigit merasa berkesan jika acara Sketsa Akhir Pekan bisa dihadiri anggota yang berasal dari daerah terjauh. Hal itu sangat jarang terjadi.
Saat itu Sketsa Akhir Pekan digelar di Kafe Singgah 2. Mereka menentukan tema Trikotomi. Perkumpulan dari tiga generasi, dari muda hingga tua.
Proses membuat karya di Sketsa Akhir Pekan itu diselesaikan dalam satu waktu. Biasanya sejak pukul 3 sore sampai 9 malam. Satu orang bahkan bisa sampai membuat dua sampai tiga karya.
"Kita tidak menutup kemungkinan untuk komersial, ada beberapa karya yang akhirnya dibeli oleh beberapa apresiator kan. Termahal paling sampai Rp 15 jutaan," imbuhnya.
Sketsa Akhir Pekan sendiri bisa menjadi ajang pengenalan komunitas ke publik. Bahwa di Kabupaten Batang ada juga komunitas seni rupa.
Kegiatan itu biasanya digelar di Joglo Beran, Jalan Veteran, Tombo, dan daerah lainnya di selatan Kabupaten Batang.
"Di Kabupaten Batang, orang umum masih menganggap karya seni sebagai hobi saja. Jadi belum melihat sebagai hal yang eksklusif," tandasnya. (yan/ida)