Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Inilah Sederet Fakta dan Cerita di Balik Syuting Film Horor Pemukiman Setan

Nanang Rendi Ahmad • Selasa, 30 Januari 2024 | 15:10 WIB

 

SERU: Dua pemeran film
SERU: Dua pemeran film

METROPEKALONGAN.COM - Film Pemukiman Setan masih hangat di layar lebar tanah air.

Film bergenre horor ini baru saja dirilis dan ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis (25/1/2024).

Dalam empat hari sejak dirilis, film yang disutradarai Charles Gozali ini sudah ditonton 271.086 orang di bioskop (berdasarkan unggahan akun instagram resmi Pemukiman Setan @pemukimansetan).

Film berdurasi 97 menit ini dibintangi oleh Maudy Effrosina (sebagai Alin Wihanggamapati), Adinda Thomas (Sukma Paratrika), Bhisma Mulia (Ghani Saidi), Daffa Wardhana (Fitrah Fabiandi), Teuku Rifnu Wikana (Urip Mahesworo), Ashira Zamita (Zia Delliana), hingga Putri Ayudya (Mbah Sarap).

Ada sederet fakta menarik dan cerita di balik syuting film ini yang mungkin tidak banyak diketahui publik.

Pengakuan mengenai fakta dan cerita menarik ini METROPEKALONGAN.COM dapatkan langsung dari Maudy Effrosina, Daffa Wardhana, dan Co Director film Imron Ayikayyu saat menyapa penonton di bioskop Mal Ramayana, Pekalongan, Sabtu (27/1/2024).

Tidak Ada Pengalaman Mistis, Tapi Sempat Ada Peringatan

Baik Maudy Effrosina maupun Daffa Wardhana, mereka mengaku tidak mengalami hal mistis dan aneh selama syuting.

"Kami selama syuting enggak ada yang aneh-aneh, enggak ada yang serem-serem, syutingnya juga fun," ungkap Maudy.

Tapi pengakuan berbeda diungkapkan sang Co Director film Imron Ayikayyu. Ia mengakui memang tidak ada kejadian aneh selama syuting.

Namun ia sempat mendapat semacam peringatan dari seseorang ketika berada di salah satu lokasi syuting.

"Jadi, kami kan punya supervisi, yang orangnya ini memang lebih ngerti hal-hal begitu. Setiap kami masuk lokasi, beliau selalu telpon saya. Saya diminta selalu kabarin sedang di mana dan foto lokasinya. Karena beliau saat itu tidak di lokasi, tapi selalu minta itu," kata Imron.

Waktu itu, kata Imron, sedang syuting di sebuah rumah yang menjadi latar tempat utama dalam cerita. Sesuai permintaan sang supervisi, Imron memotret salah satu sudut rumah dan mengirimkan kepadanya.

"Beliau bilang, itu di belakang (sebelah) kiri ada kamar mandi, ya? Dekat situ ada tangga? Di tangga baca doa, ya. Beliau bilang begitu," cerita Imron.

Entah apa yang dimaksud, Imron memilih tak menceritakan itu kepada para kru dan pemain film.

"Ya, biar tenang, ya. Tapi malah saya yang akhirnya takut," ujarnya. 

Tidak Ada Satu Pun Pemeran Berlatarbelakang Penutur Dialek Malang 

Film Pemukiman Setan banyak memunculkan dialek Malang, Jawa Timur. Kendati begitu, ternyata tidak ada satu pun pemeran yang berasal dari daerah tersebut.

Mereka sama sekali tidak memiliki background penutur dialek Malang. Bahkan hanya satu yang berasal dari daerah Jawa, itu pun Semarang, Jawa Tengah.

"Ini kan ceritanya tentang anak-anak Malang, ya. Tapi tidak ada satu pun (pemeran) yang berasal dari Malang. Ghani (Bhisma) itu Jawa, tapi Semarang. Semarang kan beda dialeknya dengan Malang," kata Imron.

Dialek Malang Sempat Tidak Akan Digunakan dan Diganti Bahasa Indonesia  

Imron Ayyikayu mengungkap, bahwa Pemukiman Setan sempat tidak akan menggunakan dialek Malang sama sekali pada cerita.  

"Ada waktu persiapan dua minggu untuk belajar dialek Malang. Kami bilang ke pemain, dua minggu musti bisa bahasa Malang. Kalau enggak, kita pakai Bahasa Indonesia aja," beber Imron.

Daffa Wardhana Pemain Paling Sulit Menyerap Dialek Malang

Dari sekian pemain Pemukiman Setan, Daffa Wardhana ternyata yang paling sulit dan lama menyerap dialek Malang.

Daffa sempat diminta berhenti belajar dan diubah menjadi tokoh yang menggunakan Bahasa Indonesia.

"Seminggu kemudian (setelah diminta belajar dialek Malang), si Daffa paling susah waktu itu. Karena memang dia aslinya Minang, ya. Saya bilang, Daf kita pakai Bahasa Indonesia aja. Dia jawab, 'enggak, Pak. Saya bisa, Pak'. Dan ternyata benar dia bisa dan enak didengar," ungkap Imron.

Kesulitan ini diakui oleh Daffa. Ia mengaku memang tidak bisa sama sekali berbahasa Jawa, apalagi dialek Malang.

"Aku kan orang Padang yang besar di Jakarta. Jadi sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Di film ini ditantang untuk belajar fasih Bahasa Jawa, dengan bantuan Pak Imron tim penyutradaraan lainnya, akhirnya bisa," katanya. 

Maudy Sempat Girang Tak Memainkan Peran Berbahasa Jawa, Tapi Ternyata Harus Nembang Ala Sinden

Maudy Effrosina mengira, dalam memerankan tokoh Alin, ia sama sekali akan terlepas dari keharusan berdialog Bahasa Jawa.

Dalam film, Alin memang tokoh yang tidak berbahasa jawa dan dialek malang. Kesehariannya menggunakan bahasa indonesia. 

Tapi ternyata dalam salah satu adegan ia harus melantunkan tembang berbahasa jawa ala sinden.

Imron mengaku salut dengan Maudy dalam adegan tersebut dan menilai berhasil dalam memainkannya.

"Dia enggak bisa ngomong Jawa, tapi ternyata tembangannya asyik. Merinding saya sih (mendengarnya). Itu asli suara dia," ungkap Imron. (nra)

 

Editor : Ida Nor Layla
#charles ghozali #Maudy Effrosina #Pemukiman Setan #Bhisma Mulia #daffa wardhana #adinda thomas