Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Pekalongan Walking Club Mengakrabi Pekalongan dengan Berjalan Kaki

Nanang Rendi Ahmad • Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:15 WIB
MENGAKRABI KOTA: Pekalongan Walking Club saat mengunjungi Stadion Hoegeng dalam rangkaian trip perdana mereka, April 2026 lalu.
MENGAKRABI KOTA: Pekalongan Walking Club saat mengunjungi Stadion Hoegeng dalam rangkaian trip perdana mereka, April 2026 lalu.

METROPEKALONGAN.COM - Bagi sebagian orang, jalan kaki mungkin hanya dianggap aktivitas sederhana untuk berolahraga atau sekadar berpindah tempat. Namun bagi peserta Pekalongan Walking Club (PWC), berjalan kaki justru menjadi cara baru untuk mengenal kota yang selama ini mereka tinggali.

Minggu (26/4/2026) sore itu, puluhan anak muda mulai berdatangan ke Kedai Bumi Suja, Kraton Kidul, Kota Pekalongan. Wajah-wajah antusias terlihat sejak awal. Mereka bersiap mengikuti trip perdana Pekalongan Walking Club (PWC), sebuah wadah yang memadukan kegiatan jalan kaki untuk eksplorasi kota.

Jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 30-an orang. Jumlah yang besar untuk trip perdana karena PWC mulanya hanya menargetkan 20 orang. Mayoritas merupakan kalangan muda. 

Pada trip perdana itu, peserta diajak mengunjungi tempat-tempat ikonik yang menyimpan cerita sejarah. Perjalanan dimulai dari Monumen Djoeang Pekalongan. Monumen yang berdiri di pusat kota itu tentu sudah tidak asing bagi warga Pekalongan. Namun, tidak semua mengetahui kisah yang melatarbelakangi keberadaannya.

Di lokasi tersebut, para peserta diajak memahami sejarah Monumen Djoeang didirikan yang tak lain untuk memperingati pertempuran berdarah 3 Oktober 1945. Yakni peristiwa  perjuangan rakyat Pekalongan merebut kekuasan dan senjata Jepang setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. 

Mereka tampak khidmat menyimak setiap penjelasan yang disampaikan oleh penggagas PWC Bayu Saifudin dan kreator konten sejarah Pekalongan Mas Isman.

Dari Monumen Djoeang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju bekas Bioskop Atrium. Bangunan itu tak lagi beroperasi, namun menyimpan memori kolektif warga Pekalongan karena menjadi salah satu bioskop legendaris di Kota Batik. Sebagian besar jejak kejayaannya bahkan telah memudar. Namun dari tempat itulah peserta diajak menelusuri ingatan tentang tempat yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat Kota Pekalongan tersebut.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju kawasan PDAM Kota Pekalongan. Di lokasi tersebut masih berdiri menara air yang dibangun pada tahun 1941. Menara itu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menyuplai air ke kawasan sekitarnya. Tak heran, Pemkot Pekalongan kini memfungsikan tempat itu sebagai PDAM.

MENGAKRABI KOTA: Pekalongan Walking Club melintasi kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan kawasan PDAM Kota Pekalongan.
MENGAKRABI KOTA: Pekalongan Walking Club melintasi kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan kawasan PDAM Kota Pekalongan.

 

Langkah kaki para peserta selanjutnya mengarah ke Stadion Hoegeng. Stadion kebanggaan warga Kota Pekalongan itu menjadi pemberhentian terakhir sebelum kembali ke Bumi Suja.

Selain mengulas eksistensi stadion dari masa ke masa, peserta juga diajak mengenal sejarah perubahan namanya. Stadion yang dahulu dikenal sebagai Stadion Kota Batik itu kini menyandang nama Hoegeng untuk mengenang Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, putra daerah Pekalongan yang dikenal karena integritas dan keteladanannya di Kepolisian Republik Indonesia.

Menjelang petang, rombongan kembali ke Bumi Suja. Meski rute yang ditempuh tidak terlalu jauh, para peserta tampak masih larut dalam obrolan. Sebagian saling bertukar cerita, sebagian lain mendiskusikan fakta-fakta sejarah yang baru mereka ketahui sepanjang perjalanan.

Penggagas Pekalongan Walking Club, Bayu Saifudin, mengaku tidak menyangka antusiasme peserta begitu besar. Awalnya ia hanya iseng membuka pendaftaran melalui media sosial. Target peserta yang semula dipatok sekitar 20 orang ternyata terlampaui.

“Yang melatarbelakangi saya membuat PWC karena memang saya menyukai kegiatan berjalan kaki. Selain itu, saya juga tertarik terhadap sejarah, terkhusus sejarah Pekalongan,” ujarnya.

Ide mendirikan PWC juga terinspirasi dari maraknya kegiatan walking tour di berbagai kota di Indonesia. Ia menilai Pekalongan memiliki banyak lokasi menarik yang layak diperkenalkan kepada masyarakat melalui konsep serupa.

Baginya, berjalan kaki merupakan cara paling sederhana untuk melihat kota dari sudut pandang yang berbeda. Ketika langkah diperlambat, banyak cerita yang selama ini luput justru dapat ditemukan.

“Saya berharap PWC dapat menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk mengenal kota dengan cara berjalan kaki. Melihat kehidupan masyarakat lebih dekat, santai, dan bermakna,” katanya.

Ke depan, PWC tidak hanya melulu mengangkat tema sejarah. Berbagai konsep lain telah disiapkan, mulai dari jalan kaki yang dipadukan permainan tradisional, wisata kuliner, kunjungan ke sentra kerajinan lokal, hingga kolaborasi dengan berbagai komunitas. Pada trip kedua, 17 Mei 2026 lalu, PWC mengunjungi kawasan Kampung Arab Pekalongan. Saat ini mereka tengah menyiapkan trip ketiga, mengupas kawasan Jatayu. 

Ekpektasi PWC sederhana, ingin mengajak lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk kembali mengenal dan mengakrabi kotanya sendiri. Jalan kaki mereka nilai sebagai cara paling sederhana mengakrabi kota sampai ke debu-debu jalanannya. (nra)

Editor : Ida Nor Layla
#Pekalongan Walking Club (PWC) #Kalcer #Monumen Djoeang #komunitas #pekalongan