METROPEKALONGAN.COM, Kendal — Banjir yang melanda Kendal, khususnya Kecamatan Patebon terhitung paling parah.
Banjir akibat tanggul Sungai Bodri jebol di Desa Lanji itu hingga sore 17.00 WIB belum juga surut.
Akibatnya, 617 warga yang terdampak banjir, terpaksa harus dievakuasi atau diungsikan sementara ke tempat yang lebih aman.
Mereka dievakuasi di lima tempat. Yakni Masjid Bulugede, Masjid At Taqwa Kebonharjo, Masjid Donosari, aula kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kendal, SMA N 1 Pegandon dan MI NU Lanji dan Rumah Dinas Bupati Kendal di Kelurahan Jetis.
Banjir akibat luapan Sungai Bodri yang jebol tersebut, terparah melanda dua kecamatan. Yakni Patebon dan Pegandon.
Pantauan di lokasi, ketinggian air di beberapa titik masih belum surut. Di Desa Kebonharjo, banjir masih cukup tinggi sampai lutut orang dewasa.
Terlihat puskesmas Patebon, balai desa hingga SMP 2 Patebon juga masih terendam cukup tinggi.
Meski begitu, beberapa warga masih bertahan di rumah mereka, meskipun masih terendam banjir. Ada juga warga yang masih bertahan lantai 2 di masjid setempat untuk mengungsi.
Sekretaris BPBD Kendal, Ahmad Huda Kurniawansah mengatakan data sementara pengungsi sebanyak 617 warga dari berbagai desa terdampak.
"Data sementara masih 617, semoga pengungsi tidak bertambah," katanya ditemui di pengungsian Dishub Kendal, Selasa 21 Januari 2025.
Dia menerangkan selain tempat pengungsian, Pemkab Kendal juga mendirikan beberapa dapur umum. Seperti di PMI, LBPI, PCNU Kendal, Kantor PKK, dan BAZNAS.
"Sudah didirikan sejak tadi pagi yang dapur umum," ujarnya.
Bupati Kendal, Dico M Ganinduto mengatakan pihaknya bakal secepat mungkin memperbaiki kedua tanggul yang jebol tersebut.
"Kami akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk PUPR untuk segera menangani tanggul yang jebol itu," paparnya.
Di sisi lain, Dico juga menyulap rumah dinasnya untuk dijadikan sebagai tempat pengungsian bagi warga.
"Silakan bisa menempati rumah dinas untuk tempat pengungsian, kami sudah mendata warga yang mengungsi. Monggo sudah kami sediakan," imbuhnya. (bud/ida)
Editor : Ida Nor Layla