Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz Dorong Batik Rifaiyah Lebih Adaptif

Riyan Fadli • Sabtu, 2 Mei 2026 | 01:40 WIB
TRADISI MEMBATIK : Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz saat memberikan materi terkait Batik Rifaiyah. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
TRADISI MEMBATIK : Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz saat memberikan materi terkait Batik Rifaiyah. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di tengah ancaman krisis regenerasi, keberadaan Batik Rifa'iyah sebagai warisan budaya tak benda dari Kabupaten Batang terus diperjuangkan.

Agar dapat mampu bertahan hingga ratusan tahun ke depan, para perajin didorong lebih adaptif terhadap pasar modern tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.

Hal ini menjadi benang merah dalam Workshop Sejarah dan Budaya bertajuk "Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifa'iyah" yang diinisiasi oleh Komunitas Pegiat Literasi Batang di Kedai Joglo Mberan, Rabu 29 April 2026.

Acara ini menghadirkan Bunda Literasi Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, dan tokoh perajin Batik Rifa'iyah, Miftakhutin.

Bunda Literasi Batang, Faelasufa Faiz menekankan pentingnya membuka diri terhadap perubahan tren fesyen.

Menurutnya, pakem batik tulis bolak-balik dengan harga premium berkisar Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta tetap harus dipertahankan.

Namun, perajin juga harus berani berinovasi membuat produk yang lebih ramah kantong bagi kalangan anak muda dan pekerja urban.

"Kalau kita mau Batik Rifa'iyah ini masih ada sampai puluhan atau ratusan tahun lagi, kita harus memberikan insentif agar generasi muda tahu bahwa membatik ini juga bisa menghasilkan uang dan kesejahteraan. Kita harus adaptif," ungkap Faelasufa di hadapan para perajin.

Ia mencontohkan kesuksesan brand lokal ibu kota seperti Oemah Etnik dan Sejauh Mata Memandang yang berhasil memasarkan baju batik tulis di kisaran harga Rp 900 ribuan dan laku keras di kalangan anak muda Jakarta.

Ke depan, strategi untuk menggandeng desainer-desainer busana nasional perlu dilakukan untuk berkolaborasi menggunakan material kain Batik Rifa'iyah.

"Kualitas batiknya sama, tapi kita bisa akali. Misalnya motifnya dibuat lebih renggang atau tidak perlu bolak-balik, sehingga harganya bisa masuk untuk ready-to-wear. Saya sangat ingin melihat ibu-ibu pembatik ini sejahtera, bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan bisa naik haji," tambahnya.

Sementara itu, perajin sekaligus pemberdaya Batik Rifa'iyah, Miftakhutin, menceritakan nilai historis batik yang dulunya menjadi sarana silaturahmi sekaligus medium untuk berdakwah (mengaji).

Namun, ia tak menampik adanya kendala serius dalam produksi dan regenerasi saat ini.

"Tantangan utamanya, batik ini kurang diminati generasi muda sebagai profesi utama. Selain itu, tenaga penglowong (pembuat pola dasar) di Desa Kalipucang Wetan kini hanya tersisa tiga orang, dan di Mberan sisa dua orang," beber Miftakhutin.

Menjawab keresahan tersebut, Miftakhutin berinisiatif membuka kelas membatik gratis di rumahnya yang memfasilitasi lima orang setiap tiga bulan.

Dari pelatihan mandiri inilah lahir generasi baru seperti 'Mbak Salsa' yang kini menjadi angin segar karena mampu membantu perajin di bidang pemasaran digital.

"Alhamdulillah, berkat kehadiran anak muda yang melek digital, kami sangat terbantu. Saat ini kami sedang mengikuti bootcamp dari Bank Indonesia di Semarang. Jika lolos kurasi, Batik Rifa'iyah akan maju pameran ke Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta," pungkasnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Kedai Joglo Mberan #Batik Rifaiyah #Bunda Literasi