METROPEKALONGAN.COM, Batang – Gempa bumi bermagnitudo 3,8 yang berpusat di Wonosobo pada Sabtu 12 September 2026 dini hari turut memberikan dampak kerusakan di wilayah Kabupaten Batang. Guncangan tersebut mengakibatkan bagian dapur dari satu rumah warga di Dukuh Sigandul, Desa Mojotengah, Kecamatan Reban, roboh. Ironisnya, bangunan tersebut terungkap berdiri di atas lahan rawan bencana tidak layak huni yang secara administratif sudah tidak diakui sebagai kawasan hunian.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lindu tektonik tersebut terjadi pada pukul 02.43.01 WIB dengan kedalaman dangkal 10 kilometer. Guncangan berpusat di darat ini dirasakan di wilayah Wonosobo, Wanayasa, Dieng, Banjarnegara, hingga ke sebagian wilayah selatan Kabupaten Batang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, mengonfirmasi bahwa imbas guncangan terasa hingga Kecamatan Bawang dan Kecamatan Reban.
"Dampak gempa hanya dirasakan kecil di wilayah yang berbatasan di selatan. Pantauan kami, area Bawang dan Reban terasa bergoyang sedikit. Terkait kerusakan, hanya satu rumah yang terdampak, itu pun hanya bagian dapur di Dukuh Sigandul," terangnya saat dikonfirmasi, Minggu 13 September 2026.
Pasca-kejadian, tim gabungan dari unsur Muspika, Polsek, Koramil, dan warga setempat langsung turun tangan membersihkan puing-puing bangunan. BPBD Batang memastikan tidak ada korban jiwa.
Camat Reban, Sugiharto, menyebut bahwa satu-satunya rumah yang rusak tersebut berada persis di lahan zona merah yang rawan pergerakan tanah. Para penghuninya sejatinya telah direlokasi oleh pemerintah ke kawasan Bintoro Mulyo beberapa tahun silam.
"Betul ada satu rumah terdampak. Untuk lokasi tersebut, karena rawan bencana longsor, warga sebenarnya sudah direlokasi ke Bintoro Mulyo. Secara administrasi sudah bukan untuk hunian," ungkap Sugiharto.
Kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang nekat kembali mendirikan bangunan dan menempati hunian lama mereka di Dukuh Sigandul, meski fasilitas relokasi yang lebih aman telah disediakan. Pemerintah kecamatan setempat menyayangkan minimnya kesadaran mitigasi warga di lapangan.
"Masih banyak orang yang dulu direlokasi ke Bintoro Mulyo justru kembali ke Dukuh Sigandul. Dengan adanya kejadian gempa ini, harapannya masyarakat bisa sadar bahwa tempat yang ditinggalinya itu memang berbahaya," pungkasnya.(yan)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan