METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Bicara durian Kabupaten Pekalongan, kebanyakan orang biasanya langsung merujuk Lolong. Tidak salah memang. Tapi kini, ada Rogoselo yang perlahan dan senyap, juga menjelma menjadi desa penghasil durian unggulan.
Jangan heran kalau berkunjung ke Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, kita akan melihat pohon durian di tumbuh di mana-mana.
Tidak hanya di lahan khusus yang luas, tapi juga di halaman-halaman rumah penduduk. Pemandangan Rogoselo yang seperti itu tidak bisa dijumpai pada era lampau.
Penduduk setempat baru berduyun beralih menanam durian setelah Rogoselo mengalami situasi tak memungkinkan lagi untuk mengandalkan sawah dan berharap pada sengon.
Dulu, puluhan tahun silam, Rogoselo banyak sawah dan kebun sengon. Sebagian besar petani menanam sengon dan padi atau komoditas lain.
Namun anjloknya harga kayu sengon dan rusaknya jaringan irigasi membuat warga beralih menanam durian.
"Akhirnya hampir semua warga menanam durian, mungkin sekarang 90 persen warga (menanam durian)," kata Saronto, Kepala Desa Rogoselo yang dulu juga petani dan pedagang sayur.
Menanam durian menjadi alternatif paling realistis untuk beralih. Warga tahu potensi dan kondisi geografis Rogoselo cocok untuk budidaya durian.
Bahkan warga juga kemudian mulai menanam durian premium seperti Duri Hitam, Matahari, Bawor, dan Musang King. Rogoselo sekarang perlahan menjadi magnet bagi pecinta durian.
Tapi, kata Saronto, durian lokal lebih banyak diburu. Sebab cita rasa durian lokal lebih beragam. Beda pohon, bisa beda rasa.
Ada manis, manis-pahit, hingga yang 'nyanten' (seperti bersantan). Ini yang membuat dirinya mendorong warga mempertahankan durian lokal.
"Kalau yang premium, pasti enak tapi rasanya kan begitu-begitu saja. Dan memang ini biasanya yang memburu kelas menengah ke atas. Duri Hitam itu bisa tembus Rp 300 ribu per kilogram," katanya.
Rogoselo kini perlahan sedang membangun identitas sebagai sentra durian lokal di Kabupaten Pekalongan.
Saronto juga turun langsung. Ia punya lahan budidaya dan kedai durian. Latar belakangnya yang memang petani, budidaya itu ia kerjakan dan kelola sendiri. Selain memimpin desa, ia masih bertani dan berjualan durian.
"Saya menyaksikan sendiri, sekarang pemburu durian beberapa tahun terakhir ini mulai melirik ke Rogoselo. Semoga ini jadi potensi desa dan menggerakkan ekonomi warga kami," ungkapnya.
Sayangnya, musim panen tahun ini tidak maksimal. Cuaca menjadi kendala utama. Setelah kemarau memicu pembungaan, hujan turun hampir setiap hari.
“Bunganya rontok sebelum jadi buah. Panen tahun ini paling hanya 20 persen, bahkan mungkin tidak sampai. Ini dialami hampir semua wilayah penghasil durian," ucapnya. (nra)
Editor : Ida Nor Layla