METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Perjalanan hidup seseorang memang menjadi rahasia Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi Tyan, seorang pegiat kopi asal Pekalongan, tak pernah terlintas di benaknya bahwa buah kecil berwarna merah bernama kopi, akan menjadi jalan hidup sekaligus ruang spiritualnya.
Tyan yang memulai profesinya di dunia pariwisata sebagai tour leader pada kurun waktu 2010-2016, akhirnya nekat banting setir saat musim sepi turis (low season).
Langkah pertamanya jauh dari kata mewah. Ia memulai usaha pada tahun 2012 dari sebuah gerobak dorong sederhana, menjajakan jagung bakar dan kopi saset.
Sebelum akhirnya pindah ke Stadion Widya Maruma dan mulai menjual kopi yang digiling sendiri.
"Awalnya enggak sengaja, enggak ada niatan digali. Niatnya cuma sambil main musik, sambil dagang ah," kenang Tyan santai.
Ketertarikan Tyan terhadap kopi berubah menjadi adiksi yang mendalam ketika ia memutuskan untuk membedah kopi secara akademis di Jakarta pada tahun 2014.
Di sana, ia menyadari bahwa menyeduh kopi bukan sekadar menuang air panas ke dalam cangkir, melainkan sebuah proses ilmiah yang presisi.
Menurutnya, industri kopi modern saat ini sudah sangat lekat dengan pendekatan akademis.
"Kita mempelajari kopi benar-benar dari history-nya, secara fundamental. Terus kopi ini kan sekarang sudah masuk ke science. Karena bikin kopi itu berhitung, kita harus ngitung ekstraksi, ngitung hasilnya, sampai nanti tujuannya ke rasa," jelasnya antusias.
Namun, industri kopi tidak selalu memberikan jalan yang mulus. Ketika pandemi Covid-19 menghantam di akhir tahun 2019, tepat saat Tyan baru saja melakukan investasi besar dengan meluncurkan kedai kopi berkonsep street food di Makassar. Semuanya runtuh seketika, sehingga ia terpaksa gulung tikar pada 2021.
Kondisinya saat itu begitu menjepit, hingga ia harus merelakan seluruh asetnya demi menyambung hidup.
"Kami jual alat kopi buat beli beras, rasanya kayak gitu untuk struggling-nya," kata Tyan menceritakan masa-masa sulitnya.
Sempat mencoba lari dari dunia kopi dengan bekerja di sebuah agency di Jakarta, takdir justru membawanya kembali ke meja kedai kopi karena sistem kerja Work From Cafe (WFC).
Hingga akhirnya pada tahun 2024, ia memilih pulang ke Pekalongan dan aktif di balik layar sebagai roaster (penyangrai kopi) serta penyuplai bahan baku untuk berbagai coffee shop di wilayah eks-Karesidenan Pekalongan.
Bagi Tyan, pencapaian tertinggi dalam karier kopinya kini bukanlah cerita sukses materi atau angka penjualan.
Kopi telah membawanya pada sebuah perjalanan spiritual (spiritual journey) yang mendekatkannya pada Sang Pencipta lewat kerumitan karakteristik rasa yang dihasilkan dari setiap bijinya.
Satu biji kopi dari satu daerah, ketika diproses berbeda-beda, rasanya berbeda. Nanti digoreng lagi berbeda, rasanya beda lagi. Di kafe dibikin barista A, B, C, rasanya bisa berbeda lagi. Makanya saya bilang, unik kopi.
“Jadi kenapa sidik jari manusia itu berbeda-beda? Ternyata Tuhan begitu indahnya menciptakan dunia. Saya juga ada dua kalimat yang saya temukan di kopi, yang pertama selalu menjadi tagline saya, ‘Bisnis berawal dari secangkir kopi.’ Yang kedua, ‘Maka nikmat kopi mana lagi yang kita dustakan?," tuturnya filosofis.
Melihat industri kopi internasional yang kian berkembang pesat, termasuk keberhasilan barista Indonesia di panggung dunia, Tyan yakin kopi adalah ladang ekonomi yang nyata.
Namun, ia menyoroti tantangan besar di hulu, di mana praktik tengkulak masih marak dan merugikan petani akibat desakan kebutuhan ekonomi.
Oleh karena itu, Tyan menaruh harapan besar pada generasi milenial dan Gen Z untuk mau turun tangan menjadi pemikir dan penggerak di sektor pertanian.
Untuk mengubah industri kopi dan pertanian ini membaik, memang harus melibatkan petani muda.
“Petani-petani muda harus belajar proses pasca-panen. Karena yang bisa menaikkan value dari kopi itu adalah proses tersebut. Kita butuh regenerasi," pungkasnya. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan