METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Pasca euforia Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 M, satu persoalan serius diam-diam mengintai Kota Pekalongan.
Kini stok darah menipis. Bahkan beberapa jenis darah, hampir tidak ada stok.
Unit Pengelola Darah (UPD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pekalongan langsung bergerak cepat memulihkan ketersediaan darah.
Caranya, dengan kembali menggencarkan program donor darah keliling.
Salah satu aksi awal yang dilakukan adalah menggelar donor darah di hotel bintang empat di Pekalongan pada Kamis 10 April 2025.
Hal ini sekaligus sebagai sinyal bahwa masa libur Lebaran telah usai, dan kini saatnya menyelamatkan nyawa.
Menurut Humas dan Manajemen Sistem UPD PMI Kota Pekalongan, Aji Putro Prakoso, selama libur Lebaran nyaris tidak ada kegiatan donor darah.
Padahal, kebutuhan darah tetap stabil. Bisa dikatakan justru cenderung meningkat.
Terutama untuk pasien thalasemia, cuci darah, dan pasca operasi.
“Pasca Lebaran ini, kami langsung tancap gas mengaktifkan kembali donor darah mobile. Karena kalau tidak segera dilakukan, potensi krisis stok darah semakin terasa,” ungkap Aji.
Data terbaru per Kamis, 10 April 2025 menunjukkan, golongan darah A menjadi yang paling langka.
Untuk komponen Whole Blood, hanya tersisa 10 kantong darah A, jauh dibawah kebutuhan ideal.
Sedangkan komponen lainnya seperti PRC, TC, dan FFP untuk golongan darah A, rata-rata hanya tersisa 3 hingga 9 kantong.
Padahal, menurut standar WHO, idealnya setiap kota memiliki cadangan darah minimal untuk 3 hari ke depan.
Sementara stok darah di Kota Pekalongan saat ini, nyaris tak punya cadangan aman untuk satu hari penuh.
Dalam sepekan ke depan, PMI Pekalongan telah menjadwalkan donor darah keliling ke berbagai lokasi.
Mulai dari Batik Azka, Klinik Siloam, Bank Jateng, Hotel Khas, Lapas Kelas IIA Pekalongan, hingga sekolah dan bank syariah.
PMI Kota Pekalongan menggandeng seluruh lapisan masyarakat—dari korporasi, institusi layanan, hingga lembaga pemasyarakatan—untuk bergerak bersama memerangi kelangkaan darah.
Perlu diketahui masyarakat Kota Pekalongan juga, kini pendonor darah tidak perlu menunggu hingga 2,5 bulan seperti sebelumnya.
Interval donor telah diperpendek menjadi dua bulan sekali, sebuah langkah yang mempermudah masyarakat untuk berdonor rutin tanpa harus menunggu terlalu lama.
Ini sejalan dengan hasil riset medis terbaru bahwa donor darah setiap dua bulan tetap aman bagi pendonor sehat.
Aji juga menekankan pentingnya edukasi tentang pemilahan dan kebiasaan donor sejak usia sekolah.
PMI telah mulai menyasar pelajar SMP dan SMA yang telah memenuhi syarat, dengan harapan bisa mencetak generasi muda yang peduli kemanusiaan sejak dini.
“Kami ingin donor darah bukan hanya jadi kegiatan insidental, tapi jadi budaya. Karena setetes darah yang kita sumbangkan bisa menjadi harapan hidup seseorang,” tegas Aji.
Lebih dari sekadar angka, darah adalah simbol kehidupan.
PMI berharap masyarakat Pekalongan tidak hanya menjadi penonton dari krisis ini, tetapi ikut berperan aktif sebagai penyelamat nyawa.
Saat libur berakhir, kini saatnya kita berbagi lebih dari sekadar kue dan salam Lebaran—berbagilah darahmu.
Karena itu bisa jadi hadiah terindah bagi sesama yang sedang berjuang di ruang rawat rumah sakit. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla