Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Dulu Hanya Loper Batik, Kini Produk Batik Ahmad Musa Tembus Pasar Internasional

Lutfi Hanafi • Sabtu, 24 Mei 2025 | 05:00 WIB

 

JUALAN ONLINE - Ahmad Musa saat jualan online sambil live di salah satu marketplace di rumahnya.
JUALAN ONLINE - Ahmad Musa saat jualan online sambil live di salah satu marketplace di rumahnya.
 

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Dulu ia hanya mondar-mandir membawa batik dari satu kota ke kota lain, jadi loper Batik. Kini, produk buatannya menarik konsumen luar negeri.

Itulah kisah Ahmad Musa, pria asal Gang 05, Kelurahan Medono, Kota Pekalongan, yang sukses menembus pasar internasional melalui strategi digital marketing.

Saat pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi, Musa justru memanfaatkan momen itu sebagai pijakan untuk bangkit.

Baca Juga: Warga Soko Duwet Antusias Ikuti Pelatihan Donat dan Tahu Fantasi Kreatif

Bersama sang istri, ia bertransformasi dari loper batik keliling menjadi pelaku UMKM digital yang sukses merambah pasar global, bahkan hingga ke Prancis.

Tak seperti pengusaha pada umumnya yang lahir dari keluarga mapan, Musa memulai dari titik nol. Dulu, ia hanya seorang buruh keliling yang menjajakan batik di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Bahkan sempat mencoba keuntungan menjual kaos dengan gambar becak dan andong, namun gagal total. 

Baca Juga: Petani Degayu Sukses Panen Perdana, Bank Indonesia Siap Dukung Penuh

"Saya bawa satu mobil penuh, 300 potong pakaian, tidak satu pun laku. Saya cuma bisa pulang dengan rasa kecewa," kenangnya.

Namun kegagalan itu bukan akhir. Musa justru menjadikan pengalaman pahit itu sebagai guru.

Ia belajar memahami pola pasar, mendalami selera konsumen, hingga memahami sistem titip jual yang diterapkan para pedagang.

Baca Juga: Revolusi Hijau Warung Masduki, dari 10 Kantong Sampah, Kini Jadi Setengah Kresek

Saat bisnis mulai menanjak, pandemi melanda. Akses kota antar terbatas, dan pasar tradisional lumpuh.

Namun, alih-alih menyerah, Musa dan istrinya mengambil langkah cerdas: belajar digital marketing secara otodidak.

Mulai dari nol—belajar foto produk, membuat caption menarik, mengelola toko di marketplace seperti Shopee, dan menjajal berbagai strategi promosi.

Baca Juga: Pertamina Ajak Pelajar dan Ojol, Uji Kualitas Pertamax dan Pertamax Turbo di Pekalongan

Hasilnya? Produk Batik Kanthil BKiL yang dirintisnya perlahan naik daun. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga menyentuh konsumen mancanegara.

“Blus batik kami jadi favorit di luar negeri. Kadang ada pesanan dari Eropa, terutama Prancis,” kata Musa bangga.

Meski penjualan langsung di rumah produksinya rata-rata 30 hingga 40 potong per hari, kekuatan sebenarnya terletak pada jejaring reseller.

Baca Juga: Gedung Baru PMI Pekalongan jadi Investasi Besar untuk Layanan Kemanusiaan

Saat ini, Musa membina lebih dari 50 reseller aktif yang membantu memperluas jangkauan pemasaran.

“Lewat reseller, omsetnya bisa naik berkali-kali lipat. Kami juga jadi lebih fokus mengembangkan produk dan memperbaiki layanan,” ujarnya.

Kisah Ahmad Musa menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan bukanlah hambatan, asal mula ada kemauan untuk belajar dan beradaptasi.

Baca Juga: Warga Sapuro Kebulen Kompak Bantu TNI Bangun Jalan Lewat Program TMMD

Dari hanya menjadi buruh keliling, kini ia telah menginspirasi banyak pelaku UMKM lainnya untuk naik kelas.

“Dulu saya bahkan tak tahu cara mengambil gambar produk yang bagus. Sekarang, saya bisa membantu UMKM lain belajar juga. Intinya jangan malu belajar dan jangan takut gagal,” tutupnya.(han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#digital marketing #Tembus #umkm #Covid - 19 #ekonomi #batik pekalongan #pasar eropa