Menyusul masih banyaknya warga yang merasa takut untuk mengembalikan sendiri.
Barang-barang itu bervariasi, mulai dari perangkat elektronik bernilai tinggi hingga perabotan sederhana.
Ada yang cukup dibawa dengan sepeda motor, tapi tak sedikit yang membutuhkan mobil bak terbuka karena ukurannya besar.
Lurah Sapuro Kebulen, Achmad Machmuddin, menuturkan, aparat kelurahan hingga RT/RW aktif menyisir warga setelah mendapatkan informasi.
“Kadang kami langsung ke lokasi mengambil barangnya. Hal ini karena ada warga yang takut kalau harus datang sendiri. Yang penting barang kembali,” ujarnya, Jumat 5 September 2025.
Hasil penyisiran ini cukup mengejutkan. Di RW 03, ditemukan barang yang dikembalikan berupa satu unit PC komputer merk HP, kursi busa, kursi putar, topi pet, besi tratak, dan lap pel.
Di RW 06, warga menyerahkan satu cagak besi tratak. Sementara di RW 07, sebuah televisi layar 53 inci dikembalikan para pemuda melalui ketua RT.
Tak berhenti di situ, di RW 14 Perum Grogolan Baru, barang yang dikembalikan lebih beragam.
Ada dispenser besar, kursi putar, dua tempat sampah, puluhan piring kecil, gelas, hingga dua gulungan lakban.
Sedangkan di RW 15, para remaja SMA menyerahkan satu layar proyektor. Bahkan di rumah koordinator BKM, pemuda menitipkan dua unit printer dan monitor komputer 20 inci.
Semua barang didata di kelurahan lalu diteruskan ke Posko Pengembalian Barang Jarahan yang berlokasi di gudang selatan Ruang Staf Ahli Setda Kota Pekalongan.
Hingga Jumat sore, tercatat sudah ada 88 barang elektronik seperti laptop, kulkas, sound system, dispenser, dan televisi yang dikembalikan.
Sementara barang non-elektronik mencapai 66 unit, meliputi kursi, besi, tiang bendera, hingga sepeda motor dan sepeda ontel.
Kabag Umum Setda Kota Pekalongan sekaligus Koordinator Posko, Teguh Waluyo, menegaskan, langkah sukarela warga ini merupakan tindak lanjut instruksi Wali Kota Pekalongan.
“Alhamdulillah, sejak posko dibuka pada Rabu 3 September 2025, sudah ada banyak barang kembali. Ada yang langsung diserahkan, ada pula yang dititipkan lewat RT, RW, kelurahan, maupun kecamatan. Bahkan ada juga yang datang dari warga luar Kota Pekalongan,” jelasnya.
Menurut Teguh, pengembalian ini bukan hanya soal inventarisasi barang, tetapi juga pemulihan kondisi sosial.
“Kami pastikan tidak ada proses hukum bagi warga yang mengembalikan secara sukarela. Identitasnya pun dirahasiakan. Ini soal tanggung jawab moral bersama. Aset daerah ini milik kita semua, bukan milik pribadi,” tegasnya.
Baca Juga: Layanan Kesra Kota Pekalongan Jalan Terus, Meski Kantor Luluh Lantak dan Ludes Dibakar Para PendemoProses pengembalian sendiri masih berlangsung. Posko tetap buka setiap hari kerja hingga pukul 16.30 WIB.
Pemkot berharap, semakin banyak warga yang sadar dan berani mengembalikan barang, semakin cepat pula Pemkot Pekalongan bangkit dari krisis pasca tragedi 30 Agustus 2025.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan inventarisasi untuk menghitung total aset daerah yang hilang, yang terbakar, dan berapa yang berhasil kembali. Data ini akan menjadi dasar langkah pemulihan selanjutnya.
“Semakin cepat barang dikembalikan, semakin baik. Karena itu untuk kepentingan publik. Kami sangat mengapresiasi warga yang dengan kesadaran penuh sudah mengembalikan barang. Itu bentuk tanggung jawab moral dan bukti bahwa Pekalongan masih punya semangat gotong royong,” pungkas Teguh. (han/ida)