Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kota Pekalongan Mantapkan Komitmen Global Jaga Batik dan Ekonomi Kreatif

Lutfi Hanafi • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 02:35 WIB
DISKUSI – Pemkot Pekalongan dan penggiat batik saat menggelar Sarasehan Batik bertema “Merajut Harmoni Ekosistem Batik” yang digelar di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis malam (2/10/2025).
DISKUSI – Pemkot Pekalongan dan penggiat batik saat menggelar Sarasehan Batik bertema “Merajut Harmoni Ekosistem Batik” yang digelar di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis malam (2/10/2025).

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Semarak Hari Batik Nasional ke-16 tahun 2025 di Kota Pekalongan menjadi momentum penting meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya. Terpenting lagi menguatkan batik sebagai kekuatan ekonomi kreatif.

Hal ini menguat dalam Sarasehan Batik bertema “Merajut Harmoni Ekosistem Batik” yang dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pekalongan, Sugiyo, di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis malam 2 Oktober 2025.

Dalam kesempatan tersebut, hadir perwakilan dinas, paguyuban kampung batik, akademisi, pelajar, komunitas, media, hingga pelaku industri batik.

Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono mengungkapkan, sarasehan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional yang dimulai sejak pagi dengan workshop membatik bersama di atas kain mori sepanjang 16 meter. Simbol panjangnya perjalanan batik Indonesia.

“Melalui forum ini, kami berharap lahir rekomendasi untuk pemerintah dalam merumuskan arah pengembangan batik ke depan,” jelas Sabaryo.

Ia juga mengingatkan, batik sudah dikenal dunia jauh sebelum pengakuan UNESCO tahun 2009. 

“Sejak era Presiden Soeharto, batik sudah dipakai dalam diplomasi kenegaraan. Dari situlah batik dipandang dunia sebagai identitas bangsa,” paparnya.

Sarasehan berlangsung hangat dan interaktif. Peserta membahas isu-isu penting seperti regenerasi perajin muda, inovasi desain, ketersediaan bahan baku ramah lingkungan, strategi pemasaran digital, hingga penguatan jejaring global.

Para pelajar SMK hingga pengusaha batik muda juga menyampaikan gagasan mereka.

“Kami ingin batik tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dengan zaman. Batik bisa dikawinkan dengan tren fashion modern tanpa kehilangan ruh tradisinya,” ungkap salah satu peserta.

Rangkaian kegiatan Hari Batik Nasional di Pekalongan akan berlangsung hingga 12 Oktober 2025, meliputi belajar membatik, workshop, sarasehan lanjutan, hingga pameran.

Seluruh agenda diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik sekaligus memperkuat perannya dalam ekonomi kreatif.

Sugiyo menambahkan, Batik bagi Kota Pekalongan bukan sekadar kain, tapi sudah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Dari lorong kampung batik hingga pasar grosir, dari perajin tradisional hingga desainer modern, batik adalah denyut ekonomi sekaligus jantung budaya.

Tantangan saat ini bukan hanya menjaga batik sebagai simbol, tetapi menjadikannya kekuatan ekonomi kreatif berkelanjutan.

Ekosistem batik sudah lengkap, namun sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal tantangan global menuntut sinergi.

Menurutnya, pengakuan UNESCO yang menetapkan Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia dalam kategori Craft and Folk Art bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar.

“Batik adalah warisan leluhur yang telah mendunia. Kota Pekalongan harus mampu menjaganya, mengembangkannya, dan membawanya ke panggung global. Dengan kebersamaan, batik tetap menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi bangsa,” pungkas Sugiyo. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #hari batik #museum batik