METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Lapangan Mataram mendadak penuh stan kuliner, fashion, kecantikan hingga layanan lembaga negara.
Bahkan selama tiga hari, mulai Jumat 21 November 2025 hingga Minggu 23 November 2025, dimeriahkan dengan musik, lomba, dan berbagai aktivitas lainnya. Semua itu dalam gelaran Pasar Rakyat Umi (Usaha Mikro) yang digelar Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Direktur Hukum dan Manajemen Risiko PIP, Imaduddin mengakui, penyelenggaraan rangkaian pasar rakyat ini memang menelan biaya besar.
Baca Juga: Toshiba TV Comeback! Luncurkan Smart TV AI untuk Rebut Lagi Pasar Indonesia
“Kami menggelontorkan anggaran hingga ratusan juta rupiah untuk setiap event yang kami gelar. Tepatnya saya tidak hafal,” katanya di sela acara, Minggu 23 November 2025.
Selain di gelar di Kota Pekalongan, sebelumnya juga digelar di daerah lain, seperti Bekasi dan Bukittinggi. Selanjutnya akan digelar di Maros, hingga puncak acara di Kota Batu Malang, Jawa Timur.
Meski menggunakan anggaran besar, PIP mengaku telah berusaha menekan biaya sewa lokasi dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah (Pemda).
Lapangan Mataram dipilih agar pengeluaran lebih hemat ketimbang menyewa venue swasta.
Pasar Rakyat UMi menghadirkan puluhan stan kuliner, fashion, layanan, hingga edukasi seperti pelatihan ekspor dan penyerahan sertifikat halal.
Para pelaku UMKM diberikan ruang untuk mempromosikan produk sekaligus belajar naik kelas.
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab saat membuka acara menyebutkan, kegiatan ini tak sekadar tempat berjualan.
“Pasar rakyat ini juga ruang pembinaan terpadu agar UMKM semakin berdaya saing dan mampu menembus pasar internasional,” tegasnya.
Saat menutup acara, Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid mengapresiasi gelaran besar ini. Bahkan berharap frekuensinya ditambah.
Pihaknya berharap acara semacam ini tidak hanya setahun sekali. “Kalau bisa, setahun dua atau tiga kali, agar geliat ekonomi semakin tumbuh. Sekaligus untuk terus memperkenalkan PIP yang perannya sangat strategis dalam pembiayaan usaha mikro," tambahnya.
Kendati begitu, sebagian pengunjung menilai acara tak jauh berbeda dari expo biasa. Yakni, tempat UMKM berjualan, ramai sehari, dua hari, lalu selesai. Bahkan, Rudi, salah satu pengunjung, mengaku terkejut dengan skala acaranya.
“Pasti event seperti ini biayanya besar. Katanya negara lagi efisiensi anggaran. Mungkin karena sudah akhir tahun, jadi harus dihabiskan,” ungkapnya.
Banyak warga juga menilai gelaran yang meriah ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan UMKM jangka panjang, terutama yang masih terseok bersaing di tengah tekanan ekonomi.
Diakuinya juga, Pasar Rakyat UMi memang memberikan panggung bagi pelaku usaha kecil. Namun apakah pelaku UMKM bisa serta merta naik kelas atau hanya ramai sesaat. Apakah ratusan juta anggaran yang digelontorkan sepadan dengan hasilnya.
“kami berharap benar-benar mendukung UMKM naik kelas, bukan sekedar acara akhir tahun untuk menghabiskan anggaran saja,” kritiknya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla