METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Bergerak bersama yang muda. Adalah Rahmat Taupik, sosok muda di balik stabilnya aliran listrik yang menopang kehidupan dan pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan.
Kepala PLN Pekalongan Kota ini lahir tahun 1990 dan menempuh pendidikan hingga kuliah di Jakarta, sebelum akhirnya mengikuti seleksi rekrutmen PLN pada tahun 2010.
Ketertarikannya pada dunia listrik telah muncul sejak masa SMA, ketika ia mulai memahami dasar-dasar kelistrikan.
Bahkan merasa takjub bagaimana sesuatu yang tidak terlihat seperti arus listrik mampu menggerakkan banyak hal dalam kehidupan manusia.
Minat itu membawanya mantap memilih jurusan Teknik Elektro. Kemudian memperdalam pengetahuan tentang pembangkitan, distribusi, hingga tantangan penyediaan listrik yang andal bagi masyarakat.
Saat lulus seleksi, Rahmat menganggap itu sebagai titik awal perjalanan yang bukan hanya memberikan ruang berkarier, tetapi juga kesempatan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
"Saya awal kerja dan magang, ditempatkan di PLN Pekalongan pada 2010," serunya.
Sejak menapaki karier di PLN, Rahmat menjalani perjalanan yang panjang dan penuh pembelajaran praktis di berbagai wilayah.
Tahun 2014 ia dipercaya menjadi Supervisor Teknik di PLN Kedungwuni. Kemudian ditugaskan menjadi manajer di sejumlah unit strategis, di antaranya PLN Purworejo (2018–2020), PLN Jatibarang (2020–2022), PLN Tegal Kota (2022–2024), serta PLN Kudus Kota (2024–2025).
Setiap penempatan, tidak hanya memperkaya pengalaman teknisnya, tetapi juga membentuk cara pandang mengenai kepemimpinan dan pelayanan publik.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia pertama kali menjadi manajer unit. Saat itu terjadi gangguan besar akibat bencana alam yang berdampak pada banyak pelanggan.
Kondisi lapangan berat, jaringan mengalami kerusakan, dan tuntutan masyarakat tinggi. Di situ Rahmat melihat bahwa penyelesaian gangguan besar bukan hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga sinergi antarlembaga.
Penanganan ketika itu melibatkan kerja sama erat bersama BPBD, TNI, Polri, dan pemerintah daerah, sehingga memulihkan jaringan lebih cepat dan tepat.
"Dari berbagai pengalaman ini, saya menyadari bahwa PLN tidak bisa bekerja sendirian dan layanan publik terbaik hanya hadir melalui kolaborasi," serunya lagi.
Ketika kembali bertugas sebagai Kepala PLN Pekalongan Kota pada Mei 2025, kesan pertama Rahmat sangat positif. Ia merasakan lingkungan kerja yang hangat, solid, dan memiliki budaya kerja kolaboratif.
Masyarakat Pekalongan juga dinilainya komunikatif, ramah, dan kritis terhadap kualitas layanan listrik sehingga mendorong PLN untuk terus melakukan peningkatan.
Namun, Pekalongan memiliki tantangan geografis yang cukup kompleks seperti potensi banjir rob yang mengancam jaringan dan kepadatan kota yang membutuhkan perencanaan teknis lebih presisi.
Meski demikian, Rahmat melihat tantangan tersebut sebagai peluang untuk pelayanan. "Kami memperkuat sistem, meningkatkan inovasi, dan mempercepat respons layanan agar PLN semakin adaptif dalam menjawab kebutuhan pelanggan," ungkapnya.
Di awal masa kepemimpinannya, ia menetapkan dua fokus utama, pertama, memperkuat keandalan jaringan listrik melalui pemeliharaan yang lebih terjadwal, peningkatan kualitas infrastruktur di titik rawan, dan percepatan penanganan gangguan.
Kedua, mempermudah proses layanan seperti permohonan pasang baru dan perubahan daya agar masyarakat, pelaku usaha, serta industri mendapatkan pengalaman pelayanan yang lebih cepat, jelas, dan transparan.
Rahmat juga menekankan strategi pemeliharaan jaringan tanpa melakukan pemadaman dengan memperluas penggunaan peralatan kerja bertegangan dan meningkatkan kesiapan tim teknik sehingga aktivitas pelanggan tidak terganggu.
Transformasi digital menjadi bagian penting strategi peningkatan layanan PLN Pekalongan. Melalui aplikasi PLN Mobile, masyarakat dapat melakukan pengajuan pasang baru, perubahan daya, melaporkan gangguan, hingga memantau progres permohonan tanpa harus datang ke kantor.
Selain itu, PLN Pekalongan memanfaatkan sistem pemantauan jaringan berbasis digital sehingga deteksi gangguan lebih cepat dan respons tim lapangan lebih akurat. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin modern dan menuntut layanan mudah diakses kapan saja.
Di balik gaya kepemimpinannya, Rahmat memegang teguh dua prinsip utama yaitu integritas dan melayani sepenuh hati. Baginya, integritas adalah fondasi dalam setiap keputusan yang harus diambil secara jujur, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara melayani sepenuh hati berarti setiap tugas, sekecil apapun, harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab dan empati agar pelanggan merasakan hadirnya PLN sebagai mitra, bukan sekadar penyedia listrik.
Ke depan, Rahmat memiliki visi menjadikan PLN Pekalongan sebagai unit yang andal, modern, adaptif, dan semakin berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Ia ingin memastikan bahwa seluruh proses, mulai dari pemeliharaan jaringan, penyelesaian gangguan, hingga permohonan layanan listrik, dapat berlangsung semakin cepat, presisi, dan berbasis teknologi.
Dengan penguatan SDM, peningkatan infrastruktur, dan transformasi digital, ia berharap PLN Pekalongan dapat menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, mendukung aktivitas usaha, dan meningkatkan kenyamanan hidup masyarakat Pekalongan.
"Baginya saya, setiap langkah dan kebijakan saya ambil bukan sekadar memenuhi target kerja, tetapi wujud pengabdian untuk memberikan manfaat nyata dan membangun kepercayaan publik terhadap layanan kelistrikan di Kota Pekalongan," tandasnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla