Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kartinian Jawani di Kecamatan Pekalongan Selatan, Ada “Wadul” hingga Gelar Pasar Kejujuran

Lutfi Hanafi • Rabu, 22 April 2026 | 12:14 WIB
TARI KARTINI : Puluhan guru dan ASN kompak menari bersama saat perayaan Hari Kartini, di halaman kantor Kecamatan Pekalongan Selatan. (LUTFI HANAFI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
TARI KARTINI : Puluhan guru dan ASN kompak menari bersama saat perayaan Hari Kartini, di halaman kantor Kecamatan Pekalongan Selatan. (LUTFI HANAFI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Suasana halaman Kecamatan Pekalongan Selatan terasa berbeda pada Selasa pagi 21 April 2026.

Deretan perempuan berkebaya berdiri rapi. Wajah mereka serius, namun sesekali pecah oleh senyum dan tawa kecil.

Bukan tanpa alasan—upacara Hari Kartini yang biasanya kaku, kali ini berubah menjadi panggung budaya bernuansa Jawa yang hangat dan penuh warna.

Saat komandan upacara memberi aba-aba, kata “lapor” tak lagi terdengar. Berganti menjadi “wadul”, istilah khas Jawa Pekalongan yang langsung mengundang tawa para peserta. Upacara tetap berlangsung khidmat, namun terasa lebih dekat, lebih membumi.

Ratusan peserta yang terdiri dari guru PAUD, TK, Bunda PAUD hingga pegawai kecamatan larut dalam suasana yang unik ini.

Bahasa Jawa dialek Pekalongan mengalir hampir di seluruh rangkaian upacara. Ini seolah menjadi jembatan antara tradisi dan semangat Kartini masa kini.

Hanya saat pembacaan Pancasila dan lagu Indonesia Raya, bahasa Indonesia kembali menguat sebagai simbol persatuan.

Bagi Silvi Yunita Sumadi, Bunda PAUD Kecamatan Pekalongan Selatan, momen ini bukan sekadar peringatan tahunan.

Tapi ini cara merawat nilai perjuangan Kartini agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

“Semangat Kartini itu bukan hanya dikenang, tapi harus dirasakan dan dijalankan. Salah satunya lewat kreativitas seperti ini,” ujarnya.

Tak berhenti di upacara, perayaan berlanjut dalam Pentas Seni EKSIIS bertema “Pesona Kartini Ing Reragaman Budaya Nusantara”.

Satu per satu ditampilkan— tari tradisional, puisi, hingga senam kreasi—membuktikan bahwa guru PAUD bukan hanya pendidik, tetapi juga seniman dan inspirator.

Di sudut lain, suasana tak kalah menarik terlihat dari “Pasar Jadul Kejujuran”. Aneka jajanan tradisional tersaji tanpa penjaga.

Tak ada penjual, tak ada kasir. Hanya sebuah kotak kecil tempat uang dimasukkan secara sukarela.

Konsep sederhana ini justru menyimpan makna besar: kejujuran. “Peserta mengambil sendiri, bayar sendiri. Ini bukan sekadar jualan, tapi pembelajaran nilai,” kata Fitria, Ketua PKG PAUD setempat.

Seluruh rangkaian kegiatan ini lahir dari swadaya para guru, didukung kolaborasi erat antar lembaga.

Sebuah bukti bahwa semangat Kartini hari ini tak lagi sebatas emansipasi, tetapi juga kreativitas, gotong royong, dan keberanian berinovasi. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Kecamatan Pekalongan Selatan #gelar pasar kejujuran #kota pekalongan #hari kartini