METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Lahan sempit tak selalu berakhir menjadi ruang kosong. Di Jalan Damar II, Perumahan Slamaran, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, ruang terbatas justru disulap menjadi kebun pangan sekaligus kolam budidaya ikan yang menghasilkan nilai ekonomi.
Di lahan fasilitas umum tersebut, Kelompok Tani Urban Farming Perubahan Iklim (UFPI) Krapyak mencoba menjawab tantangan keterbatasan lahan dengan cara sederhana. Tanaman pangan ditanam, ikan dibesarkan, sementara sebagian hasilnya dipasarkan kepada warga sekitar.
Bagi kelompok ini, urban farming bukan sekadar membuat lingkungan tampak lebih hijau. Ada kebutuhan yang lebih besar di balik aktivitas tersebut, yakni bagaimana lahan yang tersedia dapat ikut menghasilkan pangan untuk masyarakat.
“Urban farming ini untuk ketahanan pangan dan penghijauan. Walaupun lahannya terbatas, kita tetap bisa bercocok tanam dan hasilnya bisa memenuhi kebutuhan kelompok maupun dijual kepada masyarakat sekitar,” ujar perwakilan UFPI Krapyak, Farukha, saat ditemui di lokasi, Selasa (15/9/2026).
Baca Juga: Perpusda Kota Pekalongan Ingin Jadi Ruang Belajar Anak
UFPI Krapyak mulai dirintis sekitar 2023. Perjalanannya tidak langsung mulus. Beberapa tanaman sempat mati, membuat anggota kelompok harus kembali mencoba dan mencari teknik budidaya yang lebih sesuai dengan kondisi lahan.
UFPI Krapyak mulai dirintis sekitar 2023. Perjalanannya tidak langsung mulus. Beberapa tanaman sempat mati, membuat anggota kelompok harus kembali mencoba dan mencari teknik budidaya yang lebih sesuai dengan kondisi lahan.
“Awalnya memang tidak langsung berhasil, ada tanaman yang mati. Kemudian kita coba lagi dengan cara yang berbeda sampai akhirnya berhasil,” jelas Farukha.
Pengalaman tersebut kemudian diperkaya dengan berbagai pelatihan. UFPI Krapyak mendapat pendampingan dari Kemitraan Indonesia, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), serta Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan.
Dari proses belajar dan mencoba itulah, lahan terbatas di Krapyak perlahan berubah menjadi ruang produksi dengan beragam komoditas.
Baca Juga: Air Menurun Saat Kemarau, Perumda Tirtayasa Siap Tambah Pasokan Air
Cabai, kemangi, pokcai, tomat, pepaya, pisang, labu, seledri hingga alpukat tumbuh di kawasan tersebut. Kelompok juga mengembangkan greenhouse untuk membantu mengoptimalkan budidaya di tengah keterbatasan ruang.
Cabai, kemangi, pokcai, tomat, pepaya, pisang, labu, seledri hingga alpukat tumbuh di kawasan tersebut. Kelompok juga mengembangkan greenhouse untuk membantu mengoptimalkan budidaya di tengah keterbatasan ruang.
Aktivitas UFPI Krapyak tidak berhenti pada tanaman. Dua kolam kaleng dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan lele dan nila.
Lele diperkirakan dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah ditebar. Sementara ikan nila yang masih berukuran kecil terus dipelihara hingga mencapai ukuran panen.
Menariknya, hasil panen ikan tidak selalu dijual dalam bentuk segar. Kelompok mengembangkan pengolahan lele menjadi sejumlah produk yang memiliki nilai tambah.
Lele dapat dijual utuh maupun diolah menjadi lele berbumbu atau marinasi, kerupuk lele, sambal hingga abon. Produk kerupuk lele misalnya, dipasarkan mulai harga Rp10.000.
Baca Juga: Waspada Modus Tiket KAI via PayLater, Ini Imbauannya
“Kalau panen, hasilnya nanti bisa diolah. Ada yang dijual utuh, ada yang dimarinasi, dibuat kerupuk, sambal, dan abon lele. Pengolahannya dikelola pokja,” kata Farukha.
“Kalau panen, hasilnya nanti bisa diolah. Ada yang dijual utuh, ada yang dimarinasi, dibuat kerupuk, sambal, dan abon lele. Pengolahannya dikelola pokja,” kata Farukha.
Dengan pola tersebut, hasil urban farming tidak hanya berhenti sebagai bahan pangan. Sebagian komoditas juga diolah sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok.
Produk yang dihasilkan UFPI Krapyak dipasarkan kepada masyarakat sekitar. Komunikasi pemasaran dilakukan melalui berbagai grup warga sehingga hasil kebun maupun kolam dapat langsung ditawarkan kepada calon pembeli.
Harga juga diupayakan tetap terjangkau. Farukha mencontohkan harga lele yang dijual sekitar Rp24.000 per kilogram, sementara harga di pasar sekitar Rp27.000 per kilogram.
Begitu pula cabai. Jika harga di pasar sekitar Rp10.000 per seperempat kilogram, produk dari kelompok ditawarkan sekitar Rp8.000 untuk ukuran yang sama.
“Kalau harga di sini kita usahakan di bawah harga pasar. Misalnya lele di pasar sekitar Rp27 ribu per kilogram, di sini sekitar Rp24 ribu. Cabai kalau di pasar misalnya Rp10 ribu per seperempat kilogram, di sini sekitar Rp8 ribu,” ungkapnya.
Model tersebut membuat lahan yang awalnya terbatas memiliki fungsi berlapis. Ia menjadi ruang penghijauan, tempat produksi pangan, sarana belajar budidaya sekaligus sumber tambahan nilai ekonomi bagi kelompok.
Bagi UFPI Krapyak, keterbatasan lahan justru mendorong munculnya kreativitas. Setiap sudut harus dimanfaatkan secara optimal agar mampu memberikan hasil.
Harapannya, keberadaan UFPI Krapyak dapat menjadi contoh bahwa masyarakat tidak harus memiliki lahan luas untuk mulai menghasilkan pangan.
“Semoga keberadaan UFPI Krapyak bisa menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk bercocok tanam dan mengembangkan kegiatan produktif,” tukasnya.(han)
Sumber : metropekalongan.com