Balgis Minta Santri Jadi Contoh Peduli Sampah

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:57 WIB
DISKUSI : Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab saat saat diskusi dengan santri di Aula Ponpes MTs Al Maliki Cendekia Kota Pekalongan, Kamis sore, (17/9/2026).(IST)
DISKUSI : Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab saat saat diskusi dengan santri di Aula Ponpes MTs Al Maliki Cendekia Kota Pekalongan, Kamis sore, (17/9/2026).(IST)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kepedulian terhadap sampah tidak harus menunggu gerakan besar. Dari lingkungan pesantren, kebiasaan sederhana seperti memilah dan membuang sampah pada tempatnya justru diharapkan bisa tumbuh menjadi budaya yang kemudian ditularkan kepada masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab saat menghadiri Sosialisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat Secara Mandiri di Aula Ponpes MTs Al Maliki Cendekia Kota Pekalongan, Kamis sore, (17/9/2026).

Balgis menilai pesantren memiliki posisi strategis untuk menanamkan kebiasaan peduli lingkungan kepada generasi muda. Karena itu, para santriwan dan santriwati tidak hanya diharapkan memahami teori pengelolaan sampah, tetapi mampu mempraktekkannya dalam aktivitas sehari-hari.

“Ponpes Al-Maliki ini merupakan yang pertama kita masuk ke pondok untuk sosialisasi pemilahan sampah. Harapannya, anak-anak santriwan dan santriwati setelah dibekali bisa melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah, sehingga tidak hanya menjadi tindakan tetapi menjadi bagian dari budaya dan perilaku di pondok pesantren,” ujar Balgis.

Baca Juga: Lima Kali Kebakaran, KAI Daop 4 Perketat Pengawasan Jalur Rel

Baca Juga: BI Tegal Ingatkan UMKM Cek QRIS agar Tak Diganti

Menurut Balgis, kebiasaan tersebut dapat dimulai dari hal paling dekat dengan kehidupan santri. Mulai dari kamar, tempat tidur, lingkungan asrama hingga area makan perlu menjadi ruang untuk membangun kedisiplinan dalam menjaga kebersihan.

Ia berharap Ponpes Al Maliki Cendekia tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pesantren tersebut diharapkan mampu menjadi contoh bagi lingkungan pendidikan maupun pondok pesantren lain di Kota Pekalongan dalam membangun budaya pengelolaan sampah.

“Kami berharap Ponpes Al Maliki Cendekia dapat menjadi contoh bagi pondok pesantren lainnya dalam membangun budaya peduli lingkungan. Generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus menjadi generasi emas yang peduli terhadap lingkungan,” tuturnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, Joko Purnomo, mengatakan pembentukan karakter peduli sampah perlu dilakukan sejak usia sekolah. Edukasi tidak cukup hanya membuat anak mengetahui aturan membuang sampah, tetapi juga mendorong munculnya kepedulian ketika melihat sampah di lingkungan sekitar.

“Kami ingin anak-anak mempunyai karakter dan budaya bahwa sampah menjadi tanggung jawab bersama. Ketika melihat sampah, peduli, ambil, kemudian lihat tempat sampah dan buang pada tempatnya,” ungkap Joko.

Baca Juga: Penutupan Zona Pasif TPA Degayu Baru 47 Persen

Baca Juga: Viral Dugaan Pelecehan dan Pungli, 2 Guru di Cilacap Dinonaktifkan

Ia menjelaskan, pengelolaan sampah dari sumber menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi beban sampah yang dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Hal itu karena sampah yang dihasilkan masyarakat memiliki karakter berbeda, mulai dari sampah organik, anorganik, residu hingga sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Dengan pemilahan sejak dari sumber, sampah dapat ditangani sesuai jenisnya sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya.

Sementara itu, Kepala MTs Al Maliki Cendekia, Ustadzah Lulu’ Arifatul Chofiah, mengatakan pihak pesantren telah mulai menerapkan pemilahan sampah di lingkungan asrama.

Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, terutama organik, anorganik dan residu. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembiasaan santri agar lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan tempat mereka belajar dan tinggal.

Tidak hanya memilah, para siswa juga mulai mengembangkan kreativitas melalui inovasi tempat sampah. Kegiatan itu diharapkan membuat pengelolaan sampah terasa lebih dekat dengan aktivitas mereka sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa sampah masih dapat dikelola dengan cara yang tepat.

“Melalui kegiatan tersebut, kami berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat terus diterapkan secara berkelanjutan, dimulai dari lingkungan pesantren dan kemudian menginspirasi masyarakat yang lebih luas,” tukasnya.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Al Maliki Cendekia Kota Pekalongan ponpes kota pekalongan Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab sampah