METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Sejak adanya jalan tol, pantura tak lagi jadi jalur utama pemudik. Musim mudik tak lagi jadi momen yang diandalkan para pemilik usaha tempat makan di pantura untuk meraup pendapatan lebih.
Tapi warung makan di Kabupaten Pekalongan satu ini tetap punya pelanggan dari pemudik yang melintas di pantura.
Itulah warung makan Ayam Goreng Drajat Mayang Sari.
Baca Juga: Dapat Ilmu Memasak, Ini Rencana Peserta Pelatihan Kuliner Pemkot Pekalongan
Warung kawakan yang terletak di pinggir jalur pantura Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Sampai kini dapurnya tetap mengepul meski pantura tak lagi begitu ngebul. Tetap sibuk meski pantura melapuk.
Warung makan dengan ayam goreng sebagai menu satu-satunya itu malah boleh dibilang turut jadi saksi perubahan pantura.
Baca Juga: Ajari Ibu Rumah Tangga di Buaran Kradenan Membuka Usaha Kuliner, Pemkot Pekalongan Lakukan Ini
Terutama saat momen-momen musim mudik. Lalu lintas yang biasanya super sibuk, sejak ada tol jadi seolah tak ada bedanya dengan hari-hari biasa.
"Kami mulai menetap di tempat ini tahun 1996. Dulu zaman bapak saya belum punya tempat tetap. Pindah-pindah, mengontrak di emperan toko," kata Catur Sudaryanto, 61, pemilik warung, saat diwawancara pada Sabtu 29 Maret 2025.
Hari itu merupakan hari terakhir warung Catur buka sebelum libur lebaran.
Wartawan Jawa Pos Radar Semarang yang tiba di warung pukul 17.00, sudah tak kebagian tempat.
Pelanggan berjubel. Rata-rata mereka membawa keluarga untuk buka bersama. Di parkiran, terdapat sejumlah mobil berplat luar kota.
Catur merupakan generasi kedua warung makan Ayam Goreng Drajat Mayang Sari. Mewarisi dari bapaknya, Drajat, yang memulai usaha sejak Catur remaja.
Ia mengakui, memang omzet saat musim mudik tak sebagus dulu sebelum ada jalan tol.
Baca Juga: Sapitan Kuliner Legendaris Asal Kabupaten Pekalongan, Begini Cerita di Balik Rasanya yang Otentik
Tapi perbedaannya tak signifikan. Bahkan, kata dia, rasanya tidak begitu berpengaruh.
"Kalau saya prinsipnya ini soal rezeki. Jadi ada atau tidaknya jalan tol, bagi kami tidak berpengaruh. Rezeki sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana kami mengelola usaha saja," ungkapnya.
Toh, lanjut Catur, warungnya masih kerap dapat pelanggan para pemudik yang melintas jalur pantura.
Baca Juga: Selain Nangka Muda, Ini Varian Bahan Baku Megono Kuliner Khas Pekalongan (part 4)
Soal jumlah, ia tidak bisa memastikan banyak mana jika dibandingkan dengan sebelum ada jalan tol.
"Mungkin, ya, lebih banyak ketika sebelum ada tol. Saya malah yakin, kami masih punya pelanggan setia, yang rela ke sini meski harus keluar tol dulu. Tapi kan saya ndak mungkin juga menghafal orang-orangnya," ujarnya seraya tertawa.
Catur tak mau pusing persoalan pengaruh jalan tol terhadap pendapatan warungnya.
Baca Juga: Ini Lima Rekomendasi Kuliner Khas Kabupaten Batang yang Perlu Kamu Cicipi
Sebaliknya, ia justru tertantang mempertahankan dan mengembangkan usahanya.
"Dulu ini warisan bapak saya. Salah satu cara saya berterimakasih ke beliau ya dengan mempertahankan (warung) ini. Kalau bisa makin dikembangkan, bisa membuka lapangan kerja buat sesama. Itu yang terpenting," pungkasnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla