Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

7 Destinasi Wisata Religi di Kabupaten Batang, Tempat Berziarah dan Belajar Sejarah Keagamaan

Riyan Fadli • Rabu, 22 Mei 2024 | 17:57 WIB
ZIARAH: Warga saat melakukan ziarah di Makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro. (Riyan Fadli Jawa Pos Metro Pekalongan)
ZIARAH: Warga saat melakukan ziarah di Makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro. (Riyan Fadli Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM - Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tidak hanya menawarkan destinasi wisata alam yang memikat bagi para pengunjung saja.

Selain panorama alam yang memukau, Batang juga memiliki sejumlah objek wisata religi yang wajib dikunjungi.

Tempat-tempat ini tidak hanya sebagai tempat ziarah yang ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia saja. Tapi juga menawarkan kesempatan untuk memperdalam wawasan keagamaan dan sejarah.

Objek wisata religi di Kabupaten Batang ini cocok dikunjungi untuk rombongan besar maupun kecil.

Bahkan bagi yang ingin mencari ketenangan hidup tersendiri juga bisa mengunjungi objek-objek wisata religi ini. 

Berikut adalah beberapa objek wisata religi di Batang yang direkomendasikan untuk Anda kunjungi:


1. Makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro

Makam Syekh Maulana Maghribi di Wonobodro, Kabupaten Batang, terletak di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado. Dekat dengan kawasan wisata Kebun Teh Pagilaran.

Tokoh tersebut cukup terkenal bagi beberapa kalangan. Setiap momen-momen tertentu, ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia sengaja menyempatkan diri untuk berziarah ke sana. Mereka menyemut karena datang pada momen yang sama. 

Syekh Maulana Maghribi adalah seorang penyebar agama Islam yang dihormati, dan makamnya menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para peziarah. 

Syekh Maulana Maghribi dikenal sebagai ulama besar yang berasal dari Maghribi (sekarang Maroko) dan berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

Beliau melakukan perjalanan dakwah di berbagai daerah dan dikenal karena kebijaksanaannya dalam menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang bijak dan toleran.

Tidak hanya rombongan peziarah besar saja yang datang ke tempat ini, beberapa orang bahkan sengaja menginap di tempat tersebut untuk mendapatkan ketenangan batin.

Makam Syekh Maulana Maghribi di Wonobodro adalah situs yang tidak hanya penting secara keagamaan, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

Di sana juga terdapat destinasi bersejarah berupa pohon yang sudah menjadi fosil. Usia pohon Jlamprang ini sudah ratusan tahun sehingga membatu dan membentuk goa.


2. Makam Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro 

Makam Syekh Maulana Maghribi di Ujungnegoro, berada di Desa Ujungneoro, Kecamatan Kandeman. Lokasinya cukup dekat dengan Kota Batang dan Kota Pekalongan.

Syekh Maulana Maghribi adalah seorang tokoh penyebar agama Islam yang dihormati karena kontribusinya dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa.

Salah satu makamnya berada di Desa Ujungnegoro yang berbasan langsung dengan laut. Makam ini berada di sebuah bukit di pesisir Pantai Ujungnegoro.

Masyarakat terkadang bingung dengan banyaknya makam Syekh Maulana Maghribi. Di Kabupaten Batang saja ada dua makam Syekh Maulana Maghribi.

Berdasarkan kepercayaan warga sekitar, Maulana Magribi tersebut merupakan gambaran sebuah marga.

Jadi ada banyak individu dari marga itu yang terlebih dahulu datang ke Pulau Jawa untuk menybarkan agama Islam.

Masyarakat yang berziarah biasanya datang dari berbagai daerah. Mereka banyak datang pada saat ada momen tertentu.

Di sana terdapat sebuah sumber mata air yang keluar dari ponsel dan dipercaya memiliki khasiat tersendiri.

Selain itu, di bawah bukit Makam Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro juga ada sebuah gua yang saat ini sudah tidak bisa dimasuki. Gua itu sudah tertutup pasir karena abrasi pantai.

 

3.Makam Syekh Tholabuddin

Makam Syekh Tholabuddin terletak di Dukuh Pekuncen, Desa Masin, Kecamatan Warungasem. Syekh Tholabuddin adalah seorang tokoh penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah ini. 

Lokasi Makamnya cukup strategis dan mudah diakses oleh peziarah yang datang dari berbagai daerah karena juga dekat dengan Pekalongan.

Makam ini menjadi tujuan ziarah yang cukp populer, terutama pada hari-hari tertentu seperti peringatan haul Syekh Tholabuddin.

Pada acara haul, banyak peziarah yang datang untuk berdoa, mengikuti pengajian, dan memperingati jasa-jasa beliau.

Belakang Makam Syeikh Tholabuddin terdapat makam pengikutnya yang tersusun oleh batu yang menyerupai batu candi. Setiap bulan Sya'ban masyarakat setempat selalu memperingati haul-nya.

Syeikh Tholabuddin, KH Amshori, Syech Tholabuddin bermukim di Masin pada Periode Mataram Islam.

Masuknya ulama Islam di Batang, Pekalongan dan sekitarnya beriringan dengan didirikannya pemerintahan pertama yang berpusat di Batang.

Adanya pemerintahan atas perintah Sultan Agung juga diikuti masuknya Wali di bawah pimpinan Mbah Baurekso. Syeikh Tholabuddin sendiri datang dimasa perang mataram kedua, setelah masa Mbah Baurekso.

Syeikh Tholabuudin sendiri diberi kharimah atau kelebihan ke ilmu syariat tapi juga cukup memiiki harta yang cukup.

Bukti sejarah perjuanagn Syech Tholabuddin sering diperingati, setiap Maulud Nabi dengan menggelar Kirab Merah Putih. 

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya kerap kali mengikuti kirab tersebut. Hal ini merupakan simbol perjuangan rakyat Masin yang dipimpin Syeikh Tholabuddin mengusir penjajah dengan berjalan kaki ke Pekalongan.

Pada masa itu, hanya Warungasem terutama Masin yang tidak bisa dimasuki penjajah. Sehingga pasukan Masin diperbantukan ke Pekalongan.


4. Makam Habib Umar bin Yahya


Makam Habib Umar bin Yahya terletak di Desa Kalisalak, Kecamatan Limpung. Habib Umar bin Yahya adalah seorang ulama besar dan tokoh penyebar agama Islam yang masih memilikin hubungan dengan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. 

Makam itu berada di kompleks masjid Dukuh Kalibening ada makam Habib Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Abdullah, Habib Husein, Habib Abdurrohman dan Syaikh Ibrahim. 

Haul Akbar juga kerap diadakan di tempat tersebut. Beberapa tokoh yang hadir dalam haul akbar ini adalah KH Mustafa Aqil Siradj, KH Ahmad Muwafiq dan Gus Fuads Ghinan dari Sumedang hingga Habib Lutfi. 

Salah seorang tokoh masyarakat Kalisalak Kiai Rofi'i menceritakan pada saat perang Jawa meletus tahun 1825 Habib Umar bin Yahya ditugaskan oleh Diponegoro untuk menjadi telik sandi atau intelijen yang mengawasi gerak pasukan Belanda.

Tetapi tugas ini bocor dan membuat pasukan Belanda menduduki daerah sekitar Kalisalak.

Kediaman Habib Umar dibombardir tank dan mortir serta dikepung ratusan tentara Belanda. Habib Umar pun gugur dan rumahnya yang saat ini dijadikan makam.

 

5. Makam Kiai Hasan Surgi Jatikusumo

Kiai Hasan Surgi Jatikusumo merupakan seorang tokoh yang mempunyai cerita sejarah panjang di Kabupaten Batang.

Kiai Hasan Surgi Jatikusumo merupakan putra ke 3 dari 10 bersaudara Raden Syamsuri yang masih kerabat Keraton Jogjakarta

Oleh Pangeran Diponegoro beliau ditempatkan sebagai telik sandi di wilayah Batang suatu daerah terpencil di kawasan Pantai Utara Jawa Tengah.

Ceritanya berawal pasca tertangkap serta dibuangnya Pangeran Diponegoro keluar Jawa oleh Pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Perang Jawa berakhir dengan kekalahan pihak tentara Pribumi.

Kiai Hasan Surgi Jatikusumo yang belum sirna rasa kecewanya tidak kembali ke kampung Halaman, tetapi lebih memilih menetap untuk berkhalwat, mengasingkan diri di tempat yang sunyi untuk bertafakur, beribadah dan menenangkan diri.

Kiai Haasan Surgi Jatikusumo menempati Dukuh Kedungdowo, Desa Pasekaran, Kecamatan Batang.

Bersama sahabat sehatinya Kyai Asnawi, mereka membangun sebuah padepokan untuk dakwah Islam yang membumikan ajaran langit melalui pendekatan budaya hingga akhir hayatnya.

Meski tugas dan tujuan utamanya bukan untuk berdakwah. Namun sekarang beliau dikenal sebagai Penerbit Islam yang berpengaruh di Kabupaten Batang.

Setiap tahunnya, Haul Kiai Hasan Surgi diperingati dengan agenda besar. Salah satunya dengan kirab merah putih.

Makam Kiai Hasan Surgi sendiri berada di Dukuh Kedungdowo, Desa Pasekaran, Kecamatan Batang.

 

6. Makam Sunan Kajoran Gringgingsari 

Makam Sunan Kajoran berada di Desa Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal. Beliau bernama Syekh Abdurrahman Sunan Kajoran yang datang sekitar 1.400-an Masehi.

Beliau berjuang untuk tegaknya agama Islam di sana. Berbagai tokoh pernah datang ke tempat tersebut.

Mulai dari imam masjid Nabawi hingga tamu dari Maroko juga Lebanon. Selain itu juga Habib Lutfhi hingga Gus Dur.

Peringatan Haul Sunan Kajoran Gringgingsari bahkan sampai diibaratkan sebagai hari raya kedua setelah Idul Fitri.

Di mana ribuan pengunjung dari berbagai daerah berkumpul untuk mengenang dan merayakan warisan Sunan Kajoran. 

 

7. Petilasan KH Ahmad Rifa'i di Limpung 

KH Ahmad Rifa'i merupakan seorang tokoh Pahlawan Nasional Indonesia dari Kabupaten Batang. Sebagai pemuka agama Islam, beliau berjuang menyebarkan ajaran agama Islam dengan menyisipkan cinta tanah air. Berjuang melawan pemerintah Kolonialisme Belanda.

Di Kecamatan Limpung, kita bisa berkunjung ke berbgai tempat yang menjadi petilasannya. KH Ahmad Rifa'i dahulunya berasal dari Kendal dan pindah ke Kawedanan Kalisalak pada tahun 1838.

Tepatnya di Desa Kranggongan yang kini menjadi sebuah dukuh bernama Karanganyar di Desa Limpung. 

Ia tinggal di rumah Kiai Nawawi yang lokasinya berada di belakang Masjid Karanganyar, Desa Limpung. Sekarang sudah menjadi tempat wudhu masjid.

Di belakang Masjid Karanganyar itu terdapat makam Kiai Nawawi dan Fatimah, anak KH Ahmad Rifa'i.

Sementara itu seorang tokoh bernama Kiai Maufuro yang merupakan anak Kiai Nawawi dan cucu KH Ahmad Rifa'i. Dia menjadi salah satu santri kepercayaan KH Ahmad Rifa'i dan dimakamkan di Singapura. 

Di sana juga terdapat batu petilasan yang dahulu dipercaya sebagai tempat wudhu dan mengislamkan banyak orang. Setelah di Desa Limpung, petilasan lainnya ada di Desa Kalisalak, Kecamatan Limpung. 

Di Kalisalak terdapat sebuah museum yang berdiri di atas bekas lahan pesantren KH Ahmad Rifa'i. Selanjutnya ada peninggalan Masjid tertua di Kabupaten Batang bernama Masjid Nurul Jamal yang terlebih dahulu dirawat oleh KH Ahmad Rifa'i.

Warga sekitar mempercayai, di belakang Masjid itu terdapat makam Istri KH Ahmad Rifa'i, Nyai Sujinah.

Makamnya dipercaya berada di sebelah makam Demang Kalisalak yang sebelumnya menjadi suaminya Nyai Sujinah. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Wonobodro #Ujungnegoro #wisata religi #Kabupaten Batang #ziarah