Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kemenag Kabupaten Pekalongan Dorong Toleransi melalui Kampung Moderasi

Magang • Rabu, 16 Juli 2025 | 00:00 WIB
KAMPUNG MODERASI  : Kemenag Kabupaten Pekalongan menggelar kegiatan Implementasi Kampung Moderasi Beragama yang dihadiri 50 peserta dari berbagai unsur strategis.
KAMPUNG MODERASI : Kemenag Kabupaten Pekalongan menggelar kegiatan Implementasi Kampung Moderasi Beragama yang dihadiri 50 peserta dari berbagai unsur strategis.

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Desa Linggoasri kembali mencatatkan namanya sebagai simbol toleransi dan kebersamaan.

Kali ini, desa yang dikenal dengan prestasinya di tingkat nasional itu, menjadi tuan rumah kegiatan Implementasi Kampung Moderasi Beragama.

Ini sebuah ikhtiar nyata Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pekalongan dalam merawat harmoni lintas iman.

Tak sekadar seremoni, acara ini dihadiri 50 peserta dari berbagai unsur strategis. Mulai dari Kesbangpol, FKUB, penyuluh agama, Babinsa, IPARI, hingga tokoh masyarakat.

Acara tersebut menjadi ruang hidup bagi praktik-praktik kebangsaan berbasis nilai keagamaan yang moderat.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pekalongan Ahmad Farid menegaskan, moderasi beragama bukan slogan politis, melainkan pijakan etis dalam membangun masyarakat yang damai dan adil.

“Kami ingin masyarakat beragama secara seimbang dan tidak ekstrem, saling menghormati, dan merawat kebhinnekaan,” jelas Ahmad Farid.

Lebih dari itu, kegiatan ini adalah bagian dari strategi panjang Kemenag untuk membumikan nilai-nilai toleransi secara merata yang tidak hanya di Linggoasri atau Jolotigo, tetapi juga ke desa-desa lainnya di wilayah Pekalongan.

Dengan model sosial dan pendekatan yang kuat, moderasi diharapkan menjadi bagian dari kehidupan semua lapisan masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan implementasi kampung moderasi beragama di Linggoasri ini didasari karena desa ini telah meraih juara 2 nasional. Dalam kategori rumah ibadah percontohan di tingkat nasional.

Keberhasilannya menjadi cermin betapa harmoni bukanlah hal yang mustahil jika ditopang oleh kesadaran kolektif.

Menutup kegiatan tersebut, Ahmad Farid menyampaikan harapannya agar moderasi tidak berhenti pada kegiatan formal saja.  Tapi menjadi budaya baru dalam beragama di tengah keberagaman.

“Moderasi bukan proyek sesaat, tapi warisan nilai bagi generasi mendatang demi Indonesia yang rukun, damai, dan menghargai kebhinnekaan,” tutupnya. (syafikasaffanah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#moderasi beragama #kabupaten pekalongam #kemenag