METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Mengisi liburan sekolah dengan kegiatan kreatif, sejumlah remaja di Kota Pekalongan mendapat bekal menulis cerita pendek (cerpen) yang mengangkat kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi sekaligus mengenalkan nilai budaya daerah melalui karya tulis.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan mendorong agar keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah mengikuti bimbingan teknis (bimtek). Kolaborasi bersama Forum Anak Kota Pekalongan akan terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan positif selama masa liburan sekolah.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpus Kota Pekalongan, Mahfud, mengatakan bimtek tersebut merupakan bagian kelima dari rangkaian kegiatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada peserta, khususnya perwakilan Forum Anak Kota Pekalongan, mengenai teknik menulis cerpen yang baik dan menarik sehingga karya yang dihasilkan dapat dinikmati masyarakat luas.
“Diharapkan dengan adanya bimtek ini masyarakat, khususnya Forum Anak Kota Pekalongan, bisa mengembangkan bagaimana cara menulis cerpen yang baik, kemudian bisa dikonsumsi untuk khalayak umum,” ujar Mahfud, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Pekalongan Edukasi Jaminan Pensiun dan Manfaat Layanan Tambahan
Bimtek Menulis Cerpen Muatan Lokal sebelumnya digelar di Taman Baca Masyarakat (TBM) Dimurti, Jalan Mangga, Kelurahan Binagriya, Kota Pekalongan, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti 13 anak perwakilan Forum Anak Kota Batik (FANTATIK).
Bimtek Menulis Cerpen Muatan Lokal sebelumnya digelar di Taman Baca Masyarakat (TBM) Dimurti, Jalan Mangga, Kelurahan Binagriya, Kota Pekalongan, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti 13 anak perwakilan Forum Anak Kota Batik (FANTATIK).
Kegiatan itu turut diresmikan Bunda Literasi Kecamatan Pekalongan Barat, Sri Windu Ningsih, dan dihadiri Bunda Literasi Kelurahan Pringrejo, Chamidah.
Mahfud menegaskan, Dinarpus bersama Forum Anak berencana melanjutkan kolaborasi dengan agenda yang lebih beragam. Salah satu yang berpeluang dikembangkan adalah kegiatan menulis cerpen secara berkelanjutan.
Langkah tersebut dinilai penting agar pengetahuan yang didapat peserta dapat dipraktikkan sekaligus dibagikan kepada anak-anak lainnya. Dengan begitu, peserta bimtek tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak literasi di lingkungan sekitarnya.
“Jadi ilmunya tidak berhenti di sini, tetapi bisa ditularkan kepada anak-anak lainnya,” kata Mahfud.
Sementara itu, Sri Windu Ningsih menilai cerpen dapat menjadi media kreatif untuk menjaga keberadaan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, budaya daerah tidak sebatas cerita rakyat, tetapi juga mencakup tradisi, nilai luhur, hingga berbagai bentuk kebudayaan yang hidup di masyarakat.
Baca Juga: Adu Argumen di Sidang Praperadilan Padepokan Padang Ati
“Kearifan lokal itu kan dapat berupa cerita rakyat, tradisi, nilai-nilai luhur, kemudian kebudayaan daerah. Semuanya itu perlu kita rawat, perlu kita hidupkan dan dilestarikan,” ujarnya.
“Kearifan lokal itu kan dapat berupa cerita rakyat, tradisi, nilai-nilai luhur, kemudian kebudayaan daerah. Semuanya itu perlu kita rawat, perlu kita hidupkan dan dilestarikan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, melalui cerita pendek, berbagai nilai tersebut dapat dikemas dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda. Cerita yang menarik juga berpotensi membuat pesan budaya lebih mudah dipahami sekaligus menjangkau pembaca yang lebih luas.
Pengelola TBM Dimurti, Sri Widiati, bahkan menyiapkan langkah lanjutan dengan mengarahkan karya peserta untuk dihimpun menjadi antologi cerpen. Rencana itu sekaligus menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja yang memiliki ketertarikan terhadap dunia kepenulisan.
“Anak-anak ini kita fasilitasi. Saya senang anak-anak muda itu pada giat menulis. Nanti cerpen itu kita bukukan sebagai antologi,” ungkapnya.
Dari kalangan Forum Anak, Muhammad Narendra Prayata mengatakan kegiatan tersebut memberi pengalaman bahwa budaya literasi tidak cukup hanya dengan membaca. Pengetahuan yang diperoleh dari bacaan, menurutnya, perlu diwujudkan menjadi karya yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
“Selain meningkatkan literasi dengan membaca, setelah membaca apa yang bisa kita aplikasikan? Contohnya dengan cerpen, kita membuat cerpen,” jelas Narendra.
FANTATIK juga terus mengajak anak-anak di Kota Pekalongan mengurangi ketergantungan terhadap gawai. Salah satu gagasannya yakni program satu jam tanpa gadget atau bahkan satu hari tanpa gadget yang diisi dengan membaca, menulis, bermain dan berinteraksi langsung bersama keluarga maupun teman.
Narendra berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak Pekalongan untuk lebih aktif berkarya. Terlebih, Forum Anak memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara anak-anak dan pemerintah.
“Harapannya bagi teman-teman dan bagi saya sendiri, kita bisa menyalurkan ide-ide dan pelajaran dari sini kepada anak-anak, karena kita sebagai Forum Anak adalah menjadi jembatan antara anak dengan pemerintah,” pungkasnya.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com