METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sebanyak 293 peserta didik jenjang PAUD hingga SMP, termasuk anak di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), mengikuti asesmen bagi peserta didik yang diduga mengalami keterlambatan perkembangan. Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menegaskan, asesmen ini bukan untuk memberikan label kepada anak, melainkan memetakan kebutuhan agar pendampingan dapat dilakukan secara tepat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Pendidikan Kota Pekalongan memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kemampuan, hambatan, kebutuhan, sekaligus potensi setiap anak. Hasilnya diharapkan dapat menjadi pijakan bagi sekolah dan keluarga dalam menentukan layanan pendidikan yang sesuai.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan Mabruri melalui Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal, Sherly Imanda Hidayah, menjelaskan bahwa asesmen harus dipandang sebagai upaya memahami kondisi anak secara lebih utuh.
“Asesmen bukan semata-mata untuk memberikan label kepada anak, tetapi menjadi dasar untuk mengetahui kebutuhannya dan mengembangkan potensinya,” jelas Sherly, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: Capek Dimarahai Anak Istri, Bos Sound Horeg Minta Maaf, Alatnya Kini Mau Dijual
Pelaksanaan asesmen dijadwalkan berlangsung mulai Agustus hingga November 2026. Kegiatan dilakukan di masing-masing satuan pendidikan dan Kantor ULD Lakondik sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pelaksanaan asesmen dijadwalkan berlangsung mulai Agustus hingga November 2026. Kegiatan dilakukan di masing-masing satuan pendidikan dan Kantor ULD Lakondik sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Prosesnya diawali dari sekolah yang mengirimkan data peserta didik yang diduga mengalami keterlambatan perkembangan. Data tersebut kemudian dipilah dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan atau desil anak sebelum menjalani asesmen oleh tim ULD Lakondik.
Rekomendasi asesmen dapat diberikan ketika ditemukan tanda-tanda perkembangan atau proses belajar yang berbeda maupun mengalami hambatan dibandingkan anak seusianya.
Beberapa kondisi yang menjadi perhatian antara lain keterlambatan berbicara dan berkomunikasi, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan mengikuti instruksi, hambatan akademik, hingga kendala dalam berinteraksi secara sosial.
Baca Juga: Mahasiswi Tewas Usai Dicekoki Ekstasi Saat Karaoke
Menurut Sherly, aspek yang diamati juga menyesuaikan usia dan jenjang pendidikan anak. Pada anak usia dini, asesmen antara lain mencermati kemampuan bahasa, motorik, sosial-emosional, serta atensi.
Menurut Sherly, aspek yang diamati juga menyesuaikan usia dan jenjang pendidikan anak. Pada anak usia dini, asesmen antara lain mencermati kemampuan bahasa, motorik, sosial-emosional, serta atensi.
“Untuk anak usia dini, asesmen antara lain memperhatikan aspek bahasa, motorik, sosial-emosional, dan atensi. Sementara pada jenjang SD dan SMP, perhatian lebih banyak diarahkan pada aspek kognitif,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, asesmen tidak berdiri sendiri. Peserta didik, sekolah, guru, dan orang tua turut dilibatkan agar informasi mengenai kondisi anak dapat diperoleh secara lebih lengkap.
Hasil asesmen kemudian dapat digunakan sebagai salah satu dasar bagi guru dan orang tua untuk menentukan pola pendampingan. Dengan memahami kebutuhan dan potensi anak, strategi pembelajaran maupun bentuk layanan pendidikan dapat disesuaikan.
Langkah ini, sebut Sherly, diharapkan membuat pendampingan tidak sekadar berfokus pada hambatan yang dialami anak. Lebih dari itu, asesmen menjadi sarana untuk menemukan potensi yang dapat dikembangkan sehingga setiap peserta didik memperoleh dukungan sesuai kebutuhan perkembangan dan proses belajarnya.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com