METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Di SD Negeri Landungsari 05 Kota Pekalongan, kegiatan membaca tidak hanya tentang siapa yang paling cepat mengenali huruf atau paling banyak menyelesaikan buku.
Di sekolah ini, setiap anak diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai kemampuan masing-masing, termasuk 26 siswa berkebutuhan khusus.
Dari sekitar 70 peserta didik, sebanyak 26 anak teridentifikasi memiliki kebutuhan belajar yang beragam. Mereka antara lain mengalami hambatan bicara, autisme, hambatan psikososial, kesulitan bersosialisasi hingga kendala dalam kemampuan belajar.
Kondisi tersebut tidak membuat sekolah mengurangi perhatian terhadap budaya literasi. Justru, guru menerapkan pendampingan secara individual agar kebutuhan setiap siswa dapat dikenali dan diberikan penanganan yang sesuai.
Kepala SDN Landungsari 05, Sri Hartati, mengatakan sekolah tidak bisa menggunakan satu pola pembelajaran untuk seluruh siswa. Terlebih, kemampuan literasi setiap anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan yang berbeda.
Baca Juga: DKI Ubah Air Laut Jadi Air Tawar, Ini Kata Profesor Undip
"Untuk anak berkebutuhan khusus, kami mengenali kebutuhan masing-masing, kemudian memberikan penekanan pada kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kemampuan membacanya. Karena itu, kami memberikan pendampingan secara individu," jelas Sri saat Roadshow Bunda Literasi Kota Pekalongan, Selasa (22/9/2026).
"Untuk anak berkebutuhan khusus, kami mengenali kebutuhan masing-masing, kemudian memberikan penekanan pada kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kemampuan membacanya. Karena itu, kami memberikan pendampingan secara individu," jelas Sri saat Roadshow Bunda Literasi Kota Pekalongan, Selasa (22/9/2026).
Salah satu tantangan yang dihadapi sekolah adalah masih adanya siswa kelas VI yang mengalami kesulitan membaca, bahkan ada yang baru mengenal huruf.
Kondisi tersebut menjadi alasan bagi guru untuk memberikan pendampingan lebih personal. Sekolah berupaya memastikan kemampuan membaca tidak menjadi penghalang bagi anak untuk mengikuti proses pembelajaran.
Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya SDN Landungsari 05 membangun budaya literasi yang inklusif dan ramah anak.
Penguatan literasi tersebut sekaligus dilakukan melalui Roadshow Bunda Literasi Kota Pekalongan dengan tema "Generasi Hebat, Sahabat Baca Bersama Bunda Literasi, Nyalakan Lentera Ilmu".
Kegiatan itu tidak hanya mendorong minat baca, tetapi juga memperkuat kemampuan literasi dan numerasi serta menciptakan lingkungan sekolah yang memberikan ruang bagi seluruh peserta didik.
Baca Juga: Perempuan Bawa Mobil, Tipu UMKM Pakai QRIS Palsu Hingga Jutaan
Di SDN Landungsari 05 sebut Sri, budaya membaca tidak sekadar ditujukan untuk mengejar kemampuan akademik. Sekolah ingin menjadikan aktivitas literasi sebagai kebiasaan yang terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Di SDN Landungsari 05 sebut Sri, budaya membaca tidak sekadar ditujukan untuk mengejar kemampuan akademik. Sekolah ingin menjadikan aktivitas literasi sebagai kebiasaan yang terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Upaya tersebut diperkuat melalui perpustakaan sekolah yang diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran. SDN Landungsari 05 menjadi salah satu sekolah dasar di Kota Pekalongan yang mengembangkan integrasi literasi dan numerasi perpustakaan dalam proses belajar.
Koleksi buku dan pengelolaan perpustakaan juga terus diperkuat agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang belajar yang dapat diakses seluruh siswa.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menilai keterbatasan jumlah siswa maupun keberagaman kebutuhan belajar bukan alasan untuk berhenti membangun budaya literasi.
Menurutnya, kondisi tersebut justru membuka kesempatan bagi guru untuk memberikan perhatian yang lebih terarah kepada peserta didik.
Dalam kegiatan tersebut, Inggit juga mendorong keberadaan duta literasi di sekolah. Namun, duta literasi tidak harus selalu siswa dengan nilai akademik tertinggi atau yang paling banyak membaca buku.
"Duta literasi bukan anak yang paling pintar atau yang paling banyak membaca buku, tetapi anak yang mampu mengajak dan mempengaruhi teman-temannya untuk suka membaca dan berkunjung ke perpustakaan," ungkapnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat sekolah untuk menjadikan literasi sebagai gerakan bersama. Anak yang memiliki kemampuan berbeda tetap dapat mengambil peran dan menjadi bagian dari budaya membaca.
Selain penguatan literasi, Roadshow Bunda Literasi, sebut Inggit, juga menjadi momentum deklarasi Sekolah Ramah Anak di SDN Landungsari 05. Sebab, lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan memberikan ruang bagi setiap anak menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com