METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan tidak cukup hanya dengan membuka akses sekolah. Anak yang belum tersentuh layanan pendidikan juga perlu ditemukan, didampingi, dan diarahkan agar dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang menengah.
Semangat itulah yang mengiringi peluncuran Kampung Wajib Belajar 13 Tahun atau Kampung Wajar 13 di Kelurahan Kuripan Yosorejo, Kota Pekalongan, Rabu (23/9/2026).
Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pendidikan sekaligus memastikan tidak ada anak yang tertinggal atau terlewat dari layanan pendidikan.
Bunda PAUD Kota Pekalongan, Inggit Soraya, mengatakan Kampung Wajar 13 diarahkan untuk memastikan pemenuhan hak pendidikan anak secara berkelanjutan.
Layanan pendidikan tidak berhenti ketika anak memasuki PAUD atau sekolah dasar, tetapi terus dikawal hingga jenjang pendidikan menengah.
Baca Juga: Targetkan Pembaca Naik, Bidik 14 Perpustakaan untuk Akreditasi
Baca Juga: Literasi Tanpa Batas di SDN Landungsari 05 Kota Pekalongan
“Harapannya 100 persen anak mendapatkan pelayanan pendidikan. Jadi tidak hanya di PAUD saja, tetapi mulai PAUD, SD, SMP sampai SMA, semua anak mendapatkan pendidikannya selama 13 tahun,” kata Inggit saat ditemui dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, upaya memastikan seluruh anak memperoleh pendidikan harus dimulai sejak usia dini. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan sekolah, tetapi juga melibatkan unsur masyarakat yang berada dekat dengan keluarga.
Salah satunya melalui kader Posyandu. Kader dilibatkan untuk membantu menjaring anak usia dini yang belum mengikuti PAUD. Kedekatan kader dengan masyarakat menjadi modal penting untuk mengetahui kondisi anak sekaligus mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Melalui kegiatan wadul PAUD, berbagai persoalan yang ditemukan kader di lingkungan masyarakat juga dihimpun. Masukan tersebut menjadi bahan untuk memperkuat pelaksanaan Kampung Wajar 13 agar program tidak berhenti sebatas seremonial.
Baca Juga: KaKemenhaj Anton, Meniti Pengabdian Bukan Mengejar Jabatan
Baca Juga: DKI Ubah Air Laut Jadi Air Tawar, Ini Kata Profesor Undip
Persoalan lain yang juga menjadi perhatian adalah pemahaman orang tua mengenai pentingnya PAUD. Inggit menilai masih ada keluarga yang belum sepenuhnya memahami bahwa pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
“Kelihatannya mudah, tetapi ternyata tidak mudah membuka mindset orang tua agar sadar bahwa anak perlu masuk PAUD,” ujarnya.
Karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting dalam strategi memperluas layanan pendidikan. Keluarga perlu mengetahui bahwa memastikan anak memperoleh pendidikan bukan hanya persoalan memenuhi kewajiban, tetapi juga menyiapkan fondasi perkembangan dan pembelajaran anak dalam jangka panjang.
Kampung Wajar 13 kemudian hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Anak yang sudah bersekolah tetap perlu dikawal keberlanjutan pendidikannya, sementara anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan perlu dijaring dan didorong untuk masuk ke dalam sistem pendidikan.
Dengan pola tersebut, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak anak yang masuk PAUD. Lebih jauh, pemerintah ingin memastikan anak dapat melanjutkan pendidikan dari PAUD, SD, SMP hingga SMA atau sederajat.
Peluncuran Kampung Wajar 13 di Kuripan Yosorejo juga memperlihatkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, satuan pendidikan, kader masyarakat, dan keluarga.
Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar tidak ada anak yang luput dari perhatian hanya karena persoalan informasi, kesadaran keluarga, maupun keterbatasan akses.
Program serupa sebelumnya juga telah dilaksanakan di Kelurahan Klego. Pengembangan Kampung Wajar 13 di kelurahan lainnya menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan pendidikan hingga ke lingkungan masyarakat paling dekat dengan keluarga.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com