METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Warga Kota Pekalongan sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan rob karena dampak perubahan iklim.
Karena itulah, masyarakat pesisir Kota Pekalongan tak hanya diajak beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, tetapi juga didorong membangun sumber penghidupan baru yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Program Kemitraan Indonesia "Rumah Livelihood" yang diresmikan dalam kegiatan kick off oleh Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan Hj Balgis Diab, di Hotel Aston Pekalongan, Senin 8 Juni 2026.
Menurut Balgis, Rumah Livelihood diharapkan menjadi pusat penguatan ekonomi masyarakat sekaligus ruang lahirnya berbagai model usaha hijau yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim di Kota Pekalongan.
“Program ini tidak hanya menyasar pelaku usaha, tetapi juga melibatkan generasi muda agar aktif menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Rumah Livelihood bukan sekadar program seremonial, melainkan langkah nyata untuk mencetak pelaku usaha mandiri yang mampu mengembangkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Sementara itu, Tim Leader Adaptation Fund Pekalongan, Arif Mahmudi, menjelaskan Rumah Livelihood atau Balai Brayan Urip akan berfungsi sebagai pusat edukasi, pemberdayaan masyarakat, inkubasi usaha, hingga ruang komunikasi bagi kelompok-kelompok dampingan Kemitraan Indonesia.
Menurutnya, fasilitas tersebut dirancang khusus untuk membantu warga terdampak rob yang kehilangan mata pencaharian agar memiliki peluang usaha baru yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
“Rumah Livelihood hadir untuk membantu masyarakat menemukan sumber penghidupan baru. Produk UMKM warga terdampak akan ditampung dan dipasarkan dari sini, sekaligus menjadi tempat pelatihan dan pengembangan usaha berbasis lingkungan,” jelas Arif.
Berbagai program akan dikembangkan, mulai dari pelatihan batik ekologis, pengolahan hasil perikanan, budidaya mangrove, hingga pengembangan silvofishery, rumah bibit mangrove, arboretum mangrove, dan ekowisata pesisir.
Selain memperkuat ekonomi warga, program ini juga menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim di Kota Pekalongan yang selama ini menghadapi ancaman rob dan penurunan muka tanah.
Melalui Rumah Livelihood, Pemkot Pekalongan dan Kemitraan Indonesia berharap masyarakat pesisir tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan alam, tetapi juga memiliki peluang ekonomi baru yang lebih kuat, hijau, dan berkelanjutan untuk masa depan.
Arif menambahkan, Rumah Livelihood yang berlokasi di eks Kantor Markas PMI Kota Pekalongan, Jalan Rajawali Timur Nomor 2, saat ini masih dalam tahap renovasi dengan tetap mempertahankan nilai bangunan heritage. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Agustus 2026. (han/ida)