Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Pohon Jlamprang di Area Makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro Batang, Bak Gua Berusia Ratusan Tahun

Riyan Fadli • Rabu, 22 Mei 2024 | 16:21 WIB
BERUSIA RATUSAN TAHUN: Wartawan Jawa Pos Metro Pekalongan saat menengok ke dalam pohon Jlamprang. (Riyan Fadli Jawa Pos Metro Pekalongan)
BERUSIA RATUSAN TAHUN: Wartawan Jawa Pos Metro Pekalongan saat menengok ke dalam pohon Jlamprang. (Riyan Fadli Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM - Tak jauh dari makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, pohon Jlamprang menarik perhatian peziarah yang datang.

Pohon itu berumur ratusan tahun. Lokasinya berada di luar kompleks makam. 

Untuk menuju lokasi pohon Jlamprang, kita harus keluar dari kompleks makam menuju permukiman warga. Lalu pergi ke jalan utama ke arah utara.

Kemudian masuk ke sebuah gang ke arah timur sekitar 120 meter. Pohon Jlamprang berada di pinggir jalan di ujung permukiman warga. Bagian utara dan selatan diapit oleh rumah warga.

Akhmad Suyuti, kepala Pengelola Pemakaman Syekh Maulana Maghribi menjelaskan, kayu Jlamprang ini ibarat gua. Orang bisa masuk ke dalamnya. Menariknya, ketika kita berada di dalam, kita bisa melihat ke atas. Langit terlihat dari dalam lubang fosil kayu. 

Pohonnya masih hidup dan sudah berdaun sekitar tahun 2010. Namun sekitar tahun 2010, pohon yang berada di tengah permukiman warga tersebut tumbang.

Namun tidak ada satupun rumah yang tertimpa oleh pohon tersebut.

Jurnalis METROPEKALONGAN.COM mencoba memasuki pohon tersebut. Beberapa langkah harus dilakukan untuk mencapai bagian bawah pohon sebagai pintu masuk.

Baca Juga: Ini Waktu Berziarah di Makam Syekh Maulana Maghribi Wonobodro Batang

Pohon Jlamprang tumbang ke arah timur. Patahannya tepat di atas akar. Meninggalkan celah yang dijadikan pintu masuk.

Lubang di bagasi terlihat sampai ke ujung. Sinar matahari terlihat masuk dari lubang-lubang batang pohon.

Suyuti mengatakan, dulunya tingginya sekitar 10 meter dengan diameter sekitar 3,5 meter. 

Kayunya keras sekali, sakit bila lengan membentur dinding bukaan. Ibarat masuk goa, bukaan untuk masuknya sempit sekali. Badan harus miring dan tertunduk bila ingin masuk.

Menurut cerita masyarakat, pohon Jlamprang awalnya adalah tongkat kayu Syekh Maulana Maghribi. Tongkat itu ditancapkan di tanah sebelum salat. Namun karena terlalu lama ditinggalkan, tongkat kayu itu pun tumbuh menjadi pohon. 

Di dekat pohon Jlamprang terdapat sebuah mata air yang juga dikeramatkan masyarakatnya. Saking jernih airnya, pengunjung kerap meminumnya langsung.

Sumber air dikumpulkan dan dialirkan menggunakan pancuran. Air selalu mengalir dan tidak pernah kering. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Wonobodro #Blado #Syekh Maulana Maghribi