METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Langit Pekalongan kembali meriah dengan puluhan balon tradisional warna-warni yang melambai di udara, Senin 7 April 2025.
Seperti tahun - tahun sebelumnya, balon-balon itu tak lagi lepas liar ke langit bebas.
Semua ditambatkan—sebuah kompromi cerdas antara tradisi dan keselamatan penerbangan.
Jalur udara W45 yang melintas tepat di atas Kota Pekalongan merupakan rute vital penghubung barat dan timur Indonesia.
Setiap hari ratusan penerbangan melintasi jalur ini, menjadikannya salah satu yang paling sibuk dan strategis di Tanah Air.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan pilot soal balon liar yang masuk ke jalur ini semakin meningkat.
Bahkan selama masa Lebaran, AirNav mencatat hingga 9 balon liar per hari terdeteksi melayang di langit Pekalongan.
“Itulah mengapa kami mendukung festival seperti ini. Tradisi tetap hidup, tapi dilakukan dengan aman,” tambah Kapten Nur Cahyo.
Bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, AirNav memutuskan pendekatan edukatif dan kolaboratif.
Daripada melarang sepenuhnya, pihaknya memfasilitasi pelaksanaan Festival Balon Tambat.
Syaratnya jelas, balon tidak boleh dilepas, harus ditambat kuat, maksimal tinggi 150 meter, dan diawasi.
AirNav bahkan menurunkan mobil komunikasi VCP (Vehicle Communication Point) yang memantau langsung pergerakan balon di sekitar lokasi festival.
Jika ada yang terlepas, informasi dikirim real-time ke petugas pengatur lalu lintas udara dan pilot yang sedang terbang.
Festival Balon Tambat 2025 diikuti 28 tim finalis dari total 86 yang mendaftar.
Dari Lapangan Mataram, tampak balon-balon unik dengan desain batik, miniatur kapal, hingga karakter animasi seperti Naruto dan Dragon Ball—semuanya terikat tali pengaman, tapi tetap mengundang decak kagum.
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid yang turut hadir di acara ini, menyatakan festival ini bukan sekadar hiburan.
“Ini bentuk ekspresi seni warga, tapi juga contoh bagaimana kita bisa menjaga tradisi tanpa mengabaikan keselamatan,” ujarnya.
Dengan langkah kolaboratif seperti ini, Pekalongan menjadi contoh nasional bahwa budaya tak harus berbenturan dengan teknologi atau keselamatan.
Justru, ketika keduanya saling memahami, yang lahir adalah bentuk baru dari tradisi yang lebih aman dan berkelanjutan.
Langit Pekalongan tetap meriah, tapi kini lebih tertib. Burung besi tetap melintas dengan aman.
Sementara balon-balon tradisional terus berkibar di angkasa, menjaga cerita dan semangat rakyat yang tak pernah padam. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla