Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kisah Pria Kabupaten Pekalongan Sukses Jualan di Pasar Online dengan 'Ajian Ndablek'

Nanang Rendi Ahmad • Rabu, 20 Mei 2026 | 21:52 WIB
INSPIRATIF: Hanafi menunjukkan produk yang ia pasarkan lewat online.
INSPIRATIF: Hanafi menunjukkan produk yang ia pasarkan lewat online.

METROPEKALONGAN.COM - Pekalongan tidak pernah kehabisan kisah perjuangan orang-orang sukses di jalur wirausaha. 

Dari era konvensional sampai era digital sekarang ini, kisah itu selalu bermunculan.

Kisah itu salah satunya datang dari Hanafi, 40, pria asal Desa Pandanarum, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, yang berhasil mengubah nasib dari keuletan membaca dan memyesuaikan arus pasar.

Jangan menyangka Hanafi adalah pengusaha besar komvensional yang ambruk lalu bagkit ke jalur digital/online. Bukan. Ia memulai dari bukan siapa-siapa dan dengan tangan serta kantong kosong.

Kini ia menjadi bos, punya karyawan, tapi tidak punya pabrik, tidak memproduksi barang, dan tak punya toko fisik. Namun, dari tangan dinginnya memainkan pasar digital, ia kini jadi "bos online", sebutan atau panggilan yang tengah digandrungi dalam dunia usaha di Pekalongan.

Perjalanan Hanafi sampai ke titik itu tidak mulus. Selepas lulus SMA, tak langsung bekerja. Ia justru memilih mondok di pesantren selama enam tahun.

Setelah keluar dari pesantren, hidup membawanya ke ruang konfeksi sebagai buruh pembuat lubang kancing. Seminggu, upahnya Rp 100 ribu. Itu pun kalau tempat kerjanya lancar ada barang yang dikerjakan. 

Pekerjaan itu ia lakoni selama tiga tahun. Di sela kerasnya rutinitas, terutama saat tempatnya bekerja sedang sepi produksi, Hanafi kerap menghabiskan waktu dengan berkeliling Pasar Banjarsari. Bukan untuk belanja.

“Saya ke pasar benar-benar tidak ada tujuan. Hanya karena bingung mau ngapain. Tapi dengan harapan, dengan ke sana saya bisa melihat cara orang berdagang, terutama pedagang batik,” kenangnya.

Kebiasaan tanpa tujuan itulah yang perlahan mengubah arah hidupnya. Suatu hari, ia berkenalan dengan seorang juragan batik yang memiliki kios di Pasar Banjarsari. 

"Saya nekat saja masuk ke kiosnya lalu ngobrol. Pokoknya pakai 'ajian ndablek' saja," katanya. 

Tak disangka, sang juragan memberinya kartu nama. Sang juragan sambil berpesan, jika ada orang ingin membeli batik, hubungi dirinya. 

Bagi Hanafi, kartu nama itu seperti suntikan harapan. Sejak saat itu ia mulai nekat berdagang. Membawa beberapa potong batik, lalu berkeliling ke Semarang, Kudus, dan kota-kota lainnya.

"Boro-boro pakai mobil. Saya pakai sepeda motor, pulang-pergi, sendiri. Ke Pasar Johar Semarang, ke Kudus. Ban meletus, motor mogok, lapar, itu sudah bagian dari perjuangan saya," kenangnya. 

Dari situlah mental dagangnya terasah. Namun, titik balik terbesar justru datang dari sesuatu yang nyaris tanpa sengaja. Saat mulai akrab dengan teman-teman pedagang, Hanafi melihat peluang baru yakni menjual barang lewat internet.

Ia mulai mencoba mengunggah foto baju batik di media sosial pribadinya. Sekadar iseng. Tak disangka, ada teman yang pesan tujuh kodi batik untuk seragam. Itu pesanan pertama yang tak pernah ia lupakan. 

"Itu yang menarik saya mulai mempelajari pasar online," ungkapnya. 

Padahal, kemampuan digital nyaris nol. Mengoperasikan komputer pun dulu ia gagap. “Waktu di pesantren, komputer pernah beberapa kali rusak gara-gara saya asal pencet," katanya.

Namun, kegigihan ternyata bisa mengalahkan keterbatasan.

Pelan-pelan Hanafi belajar. Dari media sosial, lalu masuk ke platform marketplace. Ia juga belajar memahami pola pasar digital, membaca selera konsumen. Semuanya ia dapat secara autodidak. Hingga akhirnya ia dipercaya untuk memasarkan produk celana katun milik seorang bos konfeksi.

"Saya pernah coba ikut pelatihan (digital marketing). Saya bayar jutaan waktu itu. Eh, ternyata materinya yang sudah saya lakukan. Jadi ya tidak saya lanjutkan," ucapnya. 

Kini, toko daring Shopee milik Hanafi moncer. Ia masih fokus menjual produk celana katun milik mitra kerjanya itu. 

Dalam kondisi paling sepi, rata-rata 20 hingga 25 potong celana bisa terjual setiap hari. Penjualannya juga pernah menjangkau luar negeri. 

"Ya kalau ramai sehari minimal 400 resi keluar. Satu resi bisa dua potong celana," katanya.

Saat ini, Hanafi sudah tidak bekerja sendiri. Ia dibantu sejumlah karyawannya. Mulai bagian admin hingga pengemasan. Hanafi hanya duduk membaca peta, menganilisa data algoritma, serta permintaan pasar.

Kerja Hanafi kerap kali disambi dengan nongkrong. Itu sebabnya ia tak jarang disangka pengangguran. Ada pula yang menyoroti penghasilannya didapat dari cara-cara pesugihan. Belum lagi jika mengingat masa-masa awal merintis. Hanafi kerap mendapat pandangan skeptis dari orang-orang terdekatnya bahwa cara dia berjualan online tak menjanjikan dan tak akan berhasil. 

"Kalau tidak pakai 'ajian ndablek', mungkin saya tidak kuat," kelakarnya. 

Kini, orang-orang yang dulu sempat meragukan, sebagian justru datang untuk belajar kepadanya.

“Tapi kadang saya bercandain, ‘Emangnya mau ikut saya? Saya kan pengangguran?’" ujarnya sambil tertawa.

Tak hanya mengajari orang-orang terdekatnya, Hanafi juga melatih para karyawannya. Ia tak takut mereka akan jadi pesaing atau melampaui capaiannya.

"Justru saya titik tertinggi kepuasan saya adalah ketika membantu orang," ucapnya. (nra)

Editor : Ida Nor Layla
#Kisah Sukses #Bos Online #Wirausaha #digital marketing #pekalongan