METROPEKALONGAN.COM – Perburuan pemain keturunan untuk memperkuat Timnas Indonesia mulai memasuki wilayah yang lebih luas. Tak hanya mengandalkan talenta dari Belanda, PSSI kini disebut memantau pemain berdarah Indonesia yang berkarier di lima negara, yakni Jerman, Amerika Serikat, Australia, Belgia, dan Spanyol.
Langkah tersebut membuka peluang bagi munculnya wajah-wajah baru di Skuad Garuda. Staf Khusus Menteri Hukum RI Bidang Transformasi Digital, Mohammad Noor Korompot, sebelumnya menyebut tim pemantau PSSI mulai mengarahkan perhatian kepada pemain keturunan yang berkarier di luar Belanda.
Baca Juga: Striker Islandia Berdarah Jakarta, Calon Amunisi Baru Timnas Indonesia
Baca Juga: Striker Islandia Berdarah Jakarta Masuk Radar Timnas?
Dari Jerman, salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Laurin Ulrich. Gelandang muda tersebut memiliki darah Indonesia dari garis keluarganya dan tengah menjalani karier di kompetisi sepak bola Jerman.
Selain itu, Reno Morris Münz juga ikut diperbincangkan. Bek kelahiran Jakarta tersebut kini memperkuat KVC Westerlo di Belgia setelah sebelumnya meniti karier di Jerman.
Sementara dari Spanyol, nama Daijiro Chirino ikut menarik perhatian. Bek yang memiliki darah Maluku dari pihak ibu itu disebut-sebut menjadi salah satu opsi untuk memperkuat sektor pertahanan Timnas Indonesia.
Pencarian juga menjangkau Australia. Aaron Liam Suitela menjadi salah satu nama yang disebut dalam pemberitaan mengenai basis data pemain keturunan yang sedang dipantau. Kehadirannya memperlihatkan bahwa pencarian talenta diaspora tidak hanya berorientasi pada kompetisi Eropa.
Selain nama-nama tersebut, terdapat sejumlah pemain lain yang ikut dikaitkan dengan perluasan radar diaspora. Di antaranya Jenson Seelt yang memiliki garis keturunan Ambon, Julian Oerip dengan latar keluarga Surabaya, Pascal Struijk, Tristan Gooijer, serta beberapa pemain muda yang berkarier di kompetisi Eropa.
Namun, tidak semua nama tersebut berasal dari lima negara yang menjadi fokus utama. Beberapa pemain berkarier di Inggris, Belanda, maupun negara Eropa lainnya.
Karena itu, daftar tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran luas pemain yang diperbincangkan dalam pemantauan diaspora, bukan daftar resmi final PSSI.
Baca Juga: Mitchell Baker Selangkah Lagi Menuju Karier MLS
Baca Juga: Mitchell Baker, Haaland Indonesia yang Gacor di AS
Berdasarkan informasi yang disampaikan Noor Korompot, PSSI memiliki basis data sekitar 100 pemain keturunan. Dari jumlah tersebut, sekitar 28 pemain di luar Belanda disebut masuk prioritas pemantauan.
Mayoritas pemain dalam basis data itu berada pada rentang usia 19 hingga 24 tahun, sehingga pencarian juga diarahkan untuk kebutuhan regenerasi jangka panjang.
Posisi yang dicari pun tidak terbatas pada satu sektor. PSSI membutuhkan tambahan pilihan di lini pertahanan, tengah, hingga depan. Pemain sayap dan penyerang menjadi bagian yang turut diperhatikan untuk memperkaya variasi serangan Timnas Indonesia.
Baca Juga: PSSI Tak Lagi Prioritaskan Pemain Dari Belanda, Ini Alasannya
Meski demikian, masuk dalam radar pemantauan bukan berarti seorang pemain sudah dipastikan akan dinaturalisasi atau dipanggil ke tim nasional. Setiap nama harus melewati pemeriksaan dokumen keturunan, persyaratan kewarganegaraan, regulasi FIFA, serta evaluasi kemampuan dan kebutuhan tim.
Noor Korompot menyampaikan bahwa pemantauan pemain keturunan kini semakin diperluas ke berbagai negara. “Kabarnya tim pemantau dari PSSI justru mengalihkan perhatiannya pada pemain berdarah Indonesia yang main di Jerman, Amerika, Australia, Belgia dan Spanyol serta negara Eropa di luar Belanda,” tulis Noor.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com